Ketegangan Politik Memanas: Pengamat Sebut PKB Tak Berhak Atur Langkah Strategis PDIP
Sabtu, 20 Jun 2026 07:04 WIB
Kabarmalam.com — Panggung politik tanah air kembali diwarnai aksi saling sindir antarpartai besar. Kali ini, ketegangan mencuat setelah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) melayangkan kritik terhadap posisi politik PDI Perjuangan (PDIP) yang dinilai tidak tegas atau cenderung “abu-abu” terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Namun, langkah PKB ini justru berbalik menjadi bumerang bagi mereka sendiri.
Kritik Pedas dari Parameter Politik Indonesia
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI), Adi Prayitno, memberikan pandangan tajam terkait polemik ini. Menurutnya, PKB tidak memiliki legitimasi moral atau politik untuk mendesak PDIP menentukan sikap. Adi menegaskan bahwa sebagai sesama partai yang berada di barisan kalah dalam Pilpres lalu, PKB seharusnya lebih mawas diri sebelum mengomentari dapur partai lain.
“Yang memiliki hak untuk mendesak PDIP agar tidak bersikap abu-abu itu sejatinya hanyalah Gerindra sebagai pemenang pemilihan presiden, bukan pihak lain. Banyak publik yang bertanya-tanya, atas dasar apa PKB menuntut ketegasan PDIP? Padahal, keduanya berada di posisi yang sama, yakni partai yang kalah dalam kontestasi kemarin,” ujar Adi saat dihubungi pada Sabtu (20/6).
Respons Terhadap Isu Demonstrasi
Adi menilai bahwa serangan verbal dari petinggi PKB kemungkinan besar merupakan reaksi spontan atas isu yang beredar mengenai keterlibatan politisi PDIP dalam aksi demonstrasi di Jakarta baru-baru ini. PKB seolah ingin memaksa PDIP untuk segera mendeklarasikan diri sebagai oposisi murni atau bergabung dalam koalisi, tanpa ada zona nyaman di tengah-tengah.
Selama ini, PDIP memang terlihat menjaga ritme politiknya dengan sangat hati-hati. Meskipun sering melontarkan kritik kritis, partai berlambang banteng moncong putih tersebut secara konsisten menyatakan bahwa hubungan mereka dengan Presiden Prabowo Subianto tetap terjalin dengan baik.
DNA Oposisi dan Harapan Publik
Lebih lanjut, Adi Prayitno mencermati adanya harapan besar dari masyarakat sipil agar PDIP tetap konsisten menjadi penyeimbang pemerintah secara totalitas. Ada dua alasan fundamental yang mendasari hal ini:
- Lemahnya kekuatan kelompok kritis di parlemen saat ini karena hampir semua partai merapat ke kekuasaan.
- PDIP memiliki rekam jejak atau “DNA” oposisi yang sangat kuat dan teruji, terutama sebagaimana yang mereka tunjukkan pada era kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Sebelumnya, Ketua Fraksi PKB DPR RI, Jazilul Fawaid, secara terbuka meminta PDIP untuk segera mengambil sikap tegas. Jazilul berargumen bahwa ketidakjelasan posisi PDIP bisa menciptakan kebingungan di tengah upaya pemerintah mewujudkan janji-janji kampanye.
PDIP: Kami Adalah Partai Penyeimbang
Menanggapi desakan tersebut, Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira memberikan jawaban lugas. Ia menegaskan bahwa PDIP saat ini memosisikan diri sebagai partai penyeimbang di luar pemerintahan sesuai dengan mandat kongres partai. Strategi ini diambil untuk memastikan adanya kontrol sosial yang sehat terhadap jalannya pemerintahan tanpa harus terjebak dalam dikotomi konflik yang tidak produktif.
Dinamika politik indonesia ke depan diprediksi akan semakin menarik, mengingat pergeseran koalisi dan oposisi masih sangat cair menjelang implementasi program-program besar pemerintah baru.