Ikuti Kami
kabarmalam.com

Trump Teken MoU Iran: ‘The Art of the Deal’ yang Berujung Kecaman dari Partai Republik

Husnul | kabarmalam.com
Jumat, 19 Jun 2026 14:34 WIB
Trump Teken MoU Iran: 'The Art of the Deal' yang Berujung Kecaman dari Partai Republik

Kabarmalam.com — Langkah diplomatik terbaru Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) damai dengan Iran di Prancis, justru memicu badai politik di Washington. Alih-alih mendapatkan dukungan penuh, Trump kini harus berhadapan dengan kritik tajam dari rekan-rekan separtainya di Partai Republik yang menganggap kesepakatan tersebut sebagai sebuah konsesi yang berbahaya.

Para senator senior memperingatkan bahwa perjanjian ini jauh dari janji kemenangan besar yang selama ini digaungkan Trump. Mereka menilai kesepakatan ini berisiko membuat Teheran semakin kaya dan kuat, tanpa benar-benar menghilangkan ancaman nyata di kawasan Timur Tengah. MoU yang diteken pada Rabu (17/6) tersebut sejatinya bertujuan mengakhiri ketegangan bersenjata, membuka kembali jalur vital Selat Hormuz, serta menstabilkan pasar energi global yang sempat terguncang.

Baca Juga  Netanyahu dan Trump Satu Suara: Ancaman Nuklir Iran Harus Dihapuskan Sepenuhnya

Kritik Pedas dari Internal Republik

Meskipun memiliki tujuan stabilitas ekonomi, poin-poin dalam MoU tersebut membuat banyak pihak di kubu Republik meradang. Trump dituding memberikan pelonggaran sanksi yang terlalu luas, akses ke pasar minyak dunia, hingga janji dana rekonstruksi fantastis mencapai US$300 miliar. Namun, di sisi lain, Trump dianggap gagal mengunci komitmen tegas dari Iran terkait pengayaan uranium, pengembangan rudal balistik, maupun penghentian dukungan terhadap kelompok proksi di berbagai negara.

Senator Bill Cassidy bahkan tidak ragu menyebut kesepakatan ini sebagai “salah satu kegagalan kebijakan luar negeri terburuk dalam beberapa dekade terakhir.” Melalui unggahannya di media sosial X, Cassidy menyoroti hilangnya nyawa tentara Amerika dan beban biaya bahan bakar yang harus dibayar rakyat, sementara Iran justru mendapatkan pencabutan sanksi.

Baca Juga  Diplomasi Selat Hormuz: Iran Beri Karpet Merah Bagi Kapal China di Tengah Konflik Global

Perbandingan dengan Era Obama

Nada serupa datang dari Roger Wicker, Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat. Ia menilai langkah Trump yang mencairkan dana ratusan miliar dolar hanya demi komitmen negosiasi selama 60 hari adalah tindakan yang tidak masuk akal. Wicker bahkan menyindir bahwa nilai kesepakatan ini membuat perjanjian nuklir era Presiden Barack Obama pada 2015 terlihat kecil jika dibandingkan dengan skala dana yang kini dijanjikan kepada Iran.

“Dana US$300 miliar untuk rekonstruksi ekonomi Iran akan memberikan kekuatan finansial yang luar biasa bagi mereka, tanpa adanya jaminan keamanan yang pasti bagi kita,” tegas Wicker dalam pernyataan resminya.

Oposisi Demokrat: ‘The Art of the Disaster’

Tak hanya dari internal, tekanan juga datang dari kubu oposisi. Partai Demokrat kompak menolak hasil MoU tersebut. Pemimpin Demokrat di Senat, Chuck Schumer, melontarkan kritik pedas yang memplesetkan judul buku terkenal Trump.

Baca Juga  Konflik Tetangga di Tangerang Memanas: Aksi Siram Air Berujung Laporan Dugaan Penganiayaan

“Siapa pun yang membeli buku Trump ‘The Art of the Deal’ sebaiknya meminta pengembalian uang, karena apa yang ia lakukan terhadap Iran saat ini adalah ‘The Art of the Disaster’,” sindir Schumer dalam sidang pleno.

Menanggapi gelombang kritik tersebut, Trump tetap pada pendiriannya. Ia membela kesepakatan itu sebagai solusi praktis untuk mengamankan pasokan minyak dunia yang melewati Selat Hormuz. Trump menegaskan bahwa kesepakatan ini belum bersifat final dan Amerika Serikat tidak akan ragu untuk kembali melakukan tindakan militer jika Iran terbukti melanggar komitmen selama masa negosiasi berlangsung.

Tentang Penulis
Husnul
Husnul