Misteri Istilah Asing di Label Makanan: Benarkah Nama ‘Kimia’ Selalu Berarti Bahaya?
Sabtu, 23 Mei 2026 13:34 WIB
Kabarmalam.com — Pernahkah Anda merasa ragu saat membalik kemasan produk pangan dan menemukan deretan nama ilmiah yang sulit diucapkan? Bagi sebagian besar konsumen, daftar komposisi yang panjang dan penuh istilah teknis sering kali dianggap sebagai ‘lampu merah’. Muncul stigma bahwa semakin asing sebuah bahan terdengar di telinga, semakin tidak sehat produk tersebut, bahkan sering kali langsung dicap sebagai bagian dari kelompok Ultra-Processed Food (UPF) yang tengah menjadi sorotan hangat.
Namun, benarkah kerumitan label mencerminkan buruknya kualitas makanan tersebut? Pakar teknologi pangan dari IPB University, Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, memberikan perspektif yang berbeda. Menurutnya, menilai kesehatan suatu produk hanya dari panjang atau pendeknya daftar bahan pada label kemasan adalah sebuah penyederhanaan yang kurang akurat.
Bahan Tambahan Bukan Berarti Musuh
Banyak orang terjebak dalam anggapan bahwa bahan tambahan pangan otomatis membuat sebuah produk bermasalah. Prof. Purwiyatno menjelaskan bahwa setiap bahan yang dicantumkan produsen memiliki fungsi spesifik yang berkaitan erat dengan kualitas produk itu sendiri. “Penggunaan bahan tambahan pangan tidak otomatis berarti produk tersebut bermasalah. Yang krusial adalah memahami fungsinya, memastikan kesesuaiannya dengan regulasi, serta perannya dalam menjaga stabilitas dan keamanan produk,” ungkapnya.
Istilah-istilah asing yang sering kita temukan sering kali merupakan zat yang berfungsi menjaga produk agar tidak cepat rusak, menjaga tekstur tetap konsisten, atau memastikan profil rasa tetap terjaga hingga ke tangan konsumen. Selama penggunaan bahan tersebut mengikuti standar keamanan pangan yang ketat, maka keberadaannya bukan alasan untuk merasa takut secara berlebihan.
Melihat Lebih Luas dari Sekadar Nama Bahan
Keamanan sebuah produk pangan tidak bisa hanya dipreteli per satu bahan saja. Sebaliknya, konsumen perlu melihat ekosistem produksi secara keseluruhan—mulai dari bagaimana produk diformulasikan, diproses di pabrik, hingga cara pengemasan dan penyimpanannya di rak toko. Prof. Purwiyatno mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada tren ketakutan terhadap istilah medis atau teknis.
“Produk sebaiknya tidak dinilai hanya dari panjang-pendeknya daftar bahan atau nama bahan yang terdengar teknis, melainkan dari keseluruhan komposisi dan profil nutrisi-nya,” tambahnya. Hal ini mengacu pada keseimbangan gizi yang terkandung di dalamnya, bukan sekadar jumlah kata yang ada di balik kemasan.
Kunci Sehat: Porsi dan Frekuensi
Di tengah kegaduhan mengenai stigma UPF—seperti perdebatan seputar sarden kalengan yang sempat viral—masyarakat diajak untuk lebih bijak dalam mengatur pola makan. Kualitas hidup sehat tidak ditentukan oleh satu jenis makanan kemasan yang kita konsumsi sekali waktu, melainkan dari pola makan yang seimbang dan frekuensi konsumsi dalam keseharian.
Memahami label memang penting untuk menunjang gaya hidup sehat, namun memahaminya dengan literasi yang benar jauh lebih utama. Jangan biarkan istilah asing membuat Anda panik, selama profil nutrisi dan porsi makannya tetap terkontrol dengan baik.