Ikuti Kami
kabarmalam.com

Waspada! 70 Juta Penduduk Indonesia Terancam Penyakit Hati Kronis, Kenali Gejala dan Cara Mencegahnya

Wahid | kabarmalam.com
Rabu, 03 Jun 2026 10:34 WIB
Waspada! 70 Juta Penduduk Indonesia Terancam Penyakit Hati Kronis, Kenali Gejala dan Cara Mencegahnya

Kabarmalam.com — Bayangkan sebuah ancaman besar yang mengintai di balik tubuh yang tampak bugar dan sehat. Di Indonesia, kenyataan pahit ini sedang dihadapi oleh sekitar 70 juta penduduk yang diperkirakan mengidap penyakit hati kronis. Angka yang fantastis ini menjadi alarm keras bagi sistem kesehatan masyarakat kita, mengingat banyak dari mereka yang bahkan tidak menyadari bahwa organ vitalnya sedang dalam bahaya serius.

Penyakit hati sering kali dijuluki sebagai “pembunuh senyap” karena sifatnya yang sangat licin. Secara global, setiap tahunnya terdapat sekitar 2 juta nyawa melayang akibat komplikasi organ ini. Mayoritas dari angka kematian tersebut berakar dari infeksi Hepatitis B dan Hepatitis C yang terlambat dideteksi. Masalahnya sederhana namun mematikan: penyakit ini berkembang tanpa menunjukkan tanda-tanda yang mencolok hingga akhirnya mencapai stadium lanjut seperti sirosis hati atau bahkan kanker hati.

Baca Juga  Kemenkes Tegaskan Perbedaan Hantavirus di Indonesia dengan Kasus Fatal Kapal Pesiar MV Hondius

Strategi Preventif: Lebih Murah dan Menyelamatkan Nyawa

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, dalam sebuah forum bertajuk “Bicara Tentang Hati: Solid Habit, Strong Liver” di Jakarta, menegaskan bahwa pendekatan promotif dan preventif adalah kunci utama dalam memenangkan peperangan melawan penyakit ini. Menurutnya, mengalokasikan sumber daya untuk pencegahan jauh lebih efisien dan memberikan kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan menangani pasien yang sudah jatuh sakit parah.

“Jangan menunggu merasa sakit baru mau diperiksa. Banyak penyakit kronis, termasuk penyakit hati, berkembang diam-diam selama bertahun-tahun tanpa gejala. Ketika gejala itu muncul, sering kali kondisinya sudah berada pada tahap lanjut,” tutur Menkes Budi pada Selasa (2/6/2026).

Saat ini, cakupan skrining hepatitis di tanah air baru menyentuh angka 10 persen. Padahal, target yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) jauh lebih ambisius, yakni 90 persen kasus terdeteksi dan 80 persen pasien mendapatkan penanganan medis yang layak.

Baca Juga  Jeritan di Balik Jas Putih: Potret Kelam Eksploitasi dan Rapuhnya Perlindungan Dokter Internship Indonesia

Inovasi Skrining dalam Program Cek Kesehatan Gratis

Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, Kementerian Kesehatan kini mengintegrasikan deteksi penyakit hati ke dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Masyarakat kini bisa mendapatkan pemeriksaan HBsAg untuk mendeteksi Hepatitis B serta penilaian fibrosis hati melalui metode APRI yang berbasis tes darah sederhana. Langkah ini diharapkan mampu memetakan risiko sejak dini di layanan kesehatan primer sebelum terlambat.

Tak hanya berhenti pada skrining, pemerintah juga memperkuat benteng pertahanan melalui imunisasi Hepatitis B bagi tenaga medis dan pemberian profilaksis antivirus bagi ibu hamil. Hal ini dilakukan guna memutus rantai penularan dari ibu ke bayi. Di sisi lain, kebijakan Nutri-Level yang akan mulai diterapkan pada tahun 2026 mendatang menjadi upaya strategis untuk membantu warga mengontrol konsumsi gula, garam, dan lemak yang menjadi pemicu gangguan metabolik pada hati.

Baca Juga  Rahasia Mental Baja Mikel Arteta: Cara Sang Manajer Arsenal Menjaga Waras di Tengah Tekanan Juara

Pentingnya Peran Fasilitas Kesehatan Primer

Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI), Prof. dr. David Handojo Muljono, memberikan catatan penting mengenai urgensi akses pengobatan di tingkat puskesmas. Menurutnya, banyak kasus Hepatitis B kronis yang tidak terdeteksi karena penderitanya merasa sehat-sehat saja dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, menjadikan pemeriksaan kesehatan sebagai gaya hidup sehat tahunan sangatlah krusial.

Kementerian Kesehatan pun mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tidak ragu memanfaatkan layanan Cek Kesehatan Gratis di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Dengan mengetahui kondisi kesehatan hati lebih awal, peluang untuk pulih dan menghindari komplikasi mematikan akan terbuka jauh lebih lebar. Ingat, hati yang sehat adalah investasi terbaik untuk masa depan Anda.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid