Ikuti Kami
kabarmalam.com

Ambisi Besar Indonesia Kuasai Teknologi Terapi Gen: Kepala BPOM Tegaskan RI Tak Boleh Jadi Penonton

Wahid | kabarmalam.com
Rabu, 03 Jun 2026 20:05 WIB
Ambisi Besar Indonesia Kuasai Teknologi Terapi Gen: Kepala BPOM Tegaskan RI Tak Boleh Jadi Penonton

Kabarmalam.com — Lanskap kesehatan global tengah mengalami pergeseran paradigma yang sangat drastis. Kehadiran terapi gen, terapi sel, hingga integrasi kecerdasan buatan (AI) kini bukan lagi sekadar wacana fiksi ilmiah, melainkan solusi nyata bagi berbagai penyakit yang sebelumnya dianggap mustahil disembuhkan. Di tengah gelombang inovasi medis ini, Indonesia berdiri di persimpangan jalan yang krusial.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI), Taruna Ikrar, dengan tegas menyuarakan bahwa Indonesia harus segera berbenah. Baginya, tanah air tidak boleh hanya terpaku sebagai pasar bagi produk kesehatan asing, melainkan harus bertransformasi menjadi pemain utama dalam industri biofarmasi modern di kancah internasional.

Era Baru Kedokteran: Melawan Kanker dengan Rekayasa Biologis

Saat ini, dunia kedokteran telah memasuki gerbang Advanced Therapy Medicinal Products (ATMP). Teknologi ini mencakup spektrum luas, mulai dari terapi gen, terapi sel, hingga rekayasa jaringan. Inovasi-inovasi ini memberikan secercah harapan baru bagi pasien yang berjuang melawan kanker, kelainan genetik langka, hingga penyakit degeneratif yang merusak organ tubuh.

Baca Juga  Ketegangan di Perairan Spanyol: Kepulauan Canary Tolak Keras Pendaratan Kapal MV Hondius Terkait Ancaman Hantavirus

Salah satu bukti nyata keberhasilan teknologi ini adalah penggunaan terapi sel CAR-T yang mampu menangani kasus leukemia pada anak-anak secara efektif. Taruna Ikrar menyebutkan bahwa ilmu pengetahuan kini memiliki kemampuan luar biasa untuk memodifikasi sel imun pasien menjadi ‘senjata biologis’ yang presisi guna menghancurkan sel kanker dari dalam tubuh.

Peran Strategis BPOM: Dari Pengawas Menjadi Akselerator

Menanggapi kemajuan yang begitu pesat, Taruna menegaskan bahwa regulasi tidak boleh menjadi penghambat. Sebaliknya, regulator harus mampu bertindak sebagai akselerator inovasi tanpa mengesampingkan aspek keamanan bagi masyarakat. BPOM kini tengah memperkuat berbagai kebijakan untuk mendukung ekosistem teknologi kesehatan masa depan.

Langkah-langkah strategis yang diambil meliputi:

  • Pendampingan intensif dalam pelaksanaan uji klinik teknologi baru.
  • Penguatan standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) yang lebih adaptif.
  • Pengawasan ketat terhadap fasilitas pengolahan sel dan jaringan manusia.
  • Harmonisasi regulasi agar sesuai dengan standar internasional.
Baca Juga  Strategi 'Mirroring' Fitri Salhuteru: Seret Produk Kecantikan Doktif ke BPOM Atas Dugaan Pelanggaran

“Regulasi harus mampu menjadi pelindung masyarakat sekaligus pendorong inovasi dengan menjamin keamanan, khasiat, dan mutu terapi modern,” tutur Taruna dengan optimisme tinggi.

Membangun Ekosistem Terapi Gen Nasional

Indonesia sebenarnya tidak memulai dari nol. Fondasi pengembangan pengobatan presisi atau precision medicine mulai terbentuk melalui kolaborasi berbagai institusi ternama. Sebut saja Universitas Indonesia melalui IMERI, Universitas Airlangga, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang terus memperkuat kapasitas genomik nasional.

Di lini pelayanan, rumah sakit besar seperti RS Kanker Dharmais, RSPAD Gatot Soebroto, dan RSJPD Harapan Kita telah mulai mengembangkan layanan berbasis riset terapi lanjut. Sementara itu, sektor industri yang digawangi oleh raksasa farmasi seperti Kalbe Farma, Bio Farma, Dexa Medica, hingga Nalagenetics terus memacu pengembangan layanan genomik yang lebih terjangkau dan mutakhir.

Baca Juga  Waspada Tren Kanker Usia Muda di Singapura Melonjak 34 Persen, Gaya Hidup Jadi Sorotan Utama

Kolaborasi ABG: Kunci Kemenangan di Era Bioteknologi

Menurut Taruna, kunci untuk memenangkan persaingan global ini terletak pada sinergi lintas sektoral melalui konsep ABG (Academia-Business-Government). Dalam skema ini, akademisi berperan menciptakan inovasi, industri melakukan investasi dan hilirisasi produk, sementara pemerintah menyediakan payung regulasi yang kredibel dan adaptif.

“Negara yang akan memimpin di era terapi gen bukanlah negara yang paling besar secara geografis, melainkan negara yang paling cepat dalam berkolaborasi dan paling berani melakukan inovasi,” tambahnya.

Dengan potensi sumber daya yang ada, Indonesia memiliki peluang emas untuk menjadi pusat pertumbuhan bioteknologi kesehatan di Asia Tenggara. Saatnya Indonesia berhenti menjadi penonton dan mulai mengambil kendali dalam revolusi kesehatan dunia demi kedaulatan medis bangsa.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid