Revolusi Baru Pengobatan Kanker: Teknologi AI Jadikan Radioterapi Lebih Akurat dan Minim Efek Samping
Rabu, 03 Jun 2026 15:34 WIB
Kabarmalam.com — Dunia medis terus berpacu melawan keganasan kanker dengan inovasi yang kian mutakhir. Salah satu terobosan yang kini menjadi perbincangan hangat adalah pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam metode Adaptive Radiotherapy (ART). Teknologi ini digadang-gadang mampu mengubah peta pengobatan kanker menjadi jauh lebih personal, akurat, dan aman bagi pasien.
Era Baru Precision Oncology
Associated Chief Physician Department of Radiation Oncology dari Sun Yat-sen University Cancer Center, Dr. Baiqiang Dong, mengungkapkan bahwa kehadiran AI dalam dunia radioterapi merupakan lompatan besar menuju era precision oncology. Dalam sesi interview di ajang The 6th Siloam Oncology Summit di Jakarta beberapa waktu lalu, ia menjelaskan bahwa tantangan terbesar radioterapi konvensional adalah sifat tumor yang dinamis.
“Sekitar 90 persen kegagalan lokal pasca-radioterapi terjadi tepat di area penyinaran. Penyebab utamanya adalah resistensi radiasi dan target yang kurang presisi,” jelas Dr. Dong. Ia menambahkan bahwa selama proses pengobatan yang memakan waktu berminggu-minggu, kondisi tubuh pasien tidak pernah statis. Tumor bisa mengecil, bergeser karena gerak napas, hingga perubahan berat badan pasien yang memengaruhi posisi anatomi.
Bagaimana AI Bekerja dalam Radioterapi Adaptif?
Jika pada metode lama rencana penyinaran hanya dibuat sekali di awal, teknologi ART berbasis AI memungkinkan dokter menyesuaikan dosis dan target secara real-time. Dengan menggunakan sistem terintegrasi yang disebut Integrated CT Linac, tim medis bisa melakukan pencitraan sesaat sebelum terapi dimulai atau dikenal dengan istilah anatomy of the day.
Sistem AI akan memproses data dari CT scan empat dimensi untuk memetakan kembali bentuk tumor yang mungkin sudah berubah. “Berkat bantuan AI, proses pemetaan tumor atau contouring yang biasanya memakan waktu berjam-jam, kini bisa diselesaikan dalam hitungan menit saat pasien masih berada di atas meja terapi,” tutur Dr. Dong. Hal ini sangat krusial bagi pasien dengan kanker paru, prostat, hati, maupun kanker di area kepala dan leher yang posisinya sangat sensitif terhadap gerakan organ.
Meminimalkan Efek Samping, Memaksimalkan Kesembuhan
Salah satu momok bagi pasien kanker adalah efek samping radiasi yang mengenai jaringan sehat. Namun, dengan presisi tinggi dari Adaptive Radiotherapy, risiko ini dapat ditekan secara signifikan. Ketika volume tumor mengecil selama masa terapi, sistem secara otomatis akan mempersempit area penyinaran.
Data dari studi Lancet Oncology tahun 2024 menunjukkan bahwa optimisasi radioterapi adaptif mampu mengurangi paparan radiasi pada jaringan sehat hingga 41 persen pada kasus tertentu. Ini berarti proteksi terhadap organ vital di sekitar tumor menjadi lebih optimal, sehingga kualitas hidup pasien selama masa pengobatan tetap terjaga.
AI sebagai Asisten Terpercaya, Bukan Pengganti Dokter
Meski kecanggihan AI tampak mendominasi, Dr. Dong menekankan bahwa peran dokter spesialis tetap tidak tergantikan. AI diposisikan sebagai asisten pintar yang membantu mempercepat proses dan memberikan data yang lebih akurat, namun keputusan klinis tetap berada di tangan tenaga ahli.
“Setiap pasien itu unik. Pengalaman klinis dokter sangat dibutuhkan untuk menentukan strategi terbaik. AI membantu kita menstandardisasi kualitas pengobatan agar pasien di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, bisa mendapatkan kualitas terapi yang setara dengan pusat kanker global,” tambahnya.
Komitmen Layanan Kanker Terintegrasi di Indonesia
Inovasi dalam pengobatan kanker ini sejalan dengan komitmen Mochtar Riady Comprehensive Cancer Center (MRCCC) Siloam Semanggi. Sebagai salah satu pusat rujukan kanker utama di Asia Tenggara, MRCCC terus mengedepankan pendekatan Multidisciplinary Team (MDT) untuk memastikan setiap pasien mendapatkan penanganan yang terintegrasi, mulai dari deteksi dini hingga terapi berkelanjutan dengan teknologi terkini.
Masa depan pengobatan kanker kini bukan lagi soal memberikan dosis yang sama untuk semua orang, melainkan tentang ketepatan sasaran yang menyesuaikan dengan kondisi nyata tubuh pasien setiap harinya.