WMO Rilis Peringatan Darurat El Nino: Indonesia Bersiap Hadapi Ancaman Kekeringan Ekstrem
Rabu, 03 Jun 2026 19:34 WIB
Kabarmalam.com — Langit Indonesia diprediksi akan menjadi lebih terik dalam waktu dekat seiring dengan peringatan serius yang dirilis oleh Organisasi Meteorologi Dunia (WMO). Fenomena El Nino, yang dipicu oleh lonjakan suhu air laut yang tidak lazim di kawasan Pasifik tropis, kini tengah berkembang dan diprediksi bakal mengacaukan tatanan cuaca global, termasuk membawa ancaman kekeringan hebat bagi wilayah Nusantara.
Alarm Iklim: Peluang El Nino Capai 90 Persen
Berdasarkan data terbaru dari WMO, probabilitas terjadinya El Nino pada periode Juni hingga Agustus 2026 telah menyentuh angka 80 persen. Kekhawatiran semakin memuncak karena peluang bertahannya fenomena ini hingga November 2026 diprediksi melonjak drastis hingga di atas 90 persen. Meski intensitas puncaknya masih terus dipantau, mayoritas model prakiraan cuaca memberikan sinyal bahwa El Nino kali ini akan masuk dalam kategori moderat dengan potensi menguat menjadi kategori kuat.
Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, menegaskan bahwa fenomena ini bukanlah persoalan sepele. Dalam pernyataannya yang dikutip dari laman resmi WMO, ia menyebut kedatangan El Nino sebagai lonceng kematian bagi stabilitas iklim saat ini. “Ilmu pengetahuan telah memberikan gambaran yang jelas; El Nino akan tiba di hadapan kita dalam beberapa bulan mendatang dengan tingkat kepastian 90 persen. Dunia harus merespons ini sebagai peringatan fenomena iklim yang mendesak,” ujar Guterres.
Suhu Bawah Laut yang Membara
Dibalik fenomena ini, para ilmuwan menemukan fakta yang mengkhawatirkan di kedalaman samudra. Pengamatan pada pertengahan tahun menunjukkan bahwa suhu permukaan laut di Pasifik Khatulistiwa terus merangkak naik. Lonjakan ini dipicu oleh kondisi bawah permukaan laut yang sangat panas, bahkan mencapai 6 derajat Celcius di atas rata-rata normal.
Cadangan panas masif di bawah laut inilah yang menjadi mesin utama penyuplai energi, sehingga memicu pemanasan intensif di permukaan. Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, mengingatkan bahwa dunia harus bersiap menghadapi cuaca ekstrem yang lebih ganas. “Kita perlu bersiap untuk skenario El Nino kuat yang akan memperparah kekeringan, memicu curah hujan lebat di wilayah tertentu, serta meningkatkan risiko gelombang panas baik di daratan maupun lautan,” jelas Saulo.
Dampak Nyata bagi Indonesia
Secara historis, Indonesia selalu menjadi wilayah yang terdampak cukup signifikan saat fase El Nino terjadi. Sementara wilayah Amerika Selatan mungkin akan menghadapi curah hujan tinggi, wilayah Indonesia dan Australia justru harus bersiap menghadapi kondisi yang jauh lebih kering dari biasanya. Risiko kekeringan parah berpotensi mengganggu sektor pertanian, ketersediaan air bersih, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.
Meskipun WMO tidak menggunakan istilah ‘El Nino Super’—karena hanya mengklasifikasikan intensitas berdasarkan kategori lemah hingga sangat kuat—para ahli sepakat bahwa pemanasan global akibat aktivitas manusia membuat dampak El Nino menjadi berkali-kali lipat lebih merusak. Atmosfer yang semakin hangat menyediakan energi lebih besar bagi terbentuknya anomali cuaca yang merugikan ekonomi dan mengancam keselamatan jiwa.
Pentingnya Aksi Mitigasi
Menghadapi ancaman ini, BMKG dan instansi terkait terus melakukan koordinasi untuk meminimalkan dampak buruk yang mungkin timbul. Mitigasi di sektor pangan dan manajemen sumber daya air menjadi prioritas utama sebelum dampak kekeringan mencapai puncaknya.
“Prakiraan musiman dan sistem peringatan dini adalah kunci untuk menyelamatkan nyawa serta mengurangi kerugian ekonomi di tengah krisis iklim yang semakin nyata ini,” pungkas Saulo. Dengan kepastian fenomena yang sudah di depan mata, kesiapsiagaan kolektif menjadi satu-satunya jalan untuk bertahan dari sengatan El Nino yang diprediksi akan bertahan cukup lama.