Sarden Kalengan: Benarkah Masuk Kategori UPF? Simak Fakta Mengejutkan di Balik Komposisinya
Kamis, 21 Mei 2026 07:34 WIB
Kabarmalam.com — Belakangan ini, jagat maya tengah dihangatkan oleh perdebatan sengit mengenai status ikan sarden kalengan. Sebuah diskusi viral memicu rasa penasaran publik: apakah makanan praktis ini termasuk dalam kategori Ultra Processed Food (UPF) yang selama ini dihindari pegiat hidup sehat, atau justru merupakan sumber nutrisi yang terabaikan? Perubahan persepsi ini sangat menarik, di mana sarden yang semula dianggap sebagai ‘makanan darurat’ yang kurang sehat, mendadak dipuja sebagai pilihan cerdas hanya karena label non-UPF yang mulai disematkan padanya.
Membedah Realitas di Balik Kaleng
Satu hal yang pasti, sarden kalengan bukanlah ikan segar yang baru saja melompat dari jaring nelayan. Produk ini telah melewati serangkaian proses teknologi pangan yang dirancang untuk menjaga daya simpan. Proses sterilisasi suhu tinggi memungkinkan makanan kaleng tetap awet bertahun-tahun tanpa memerlukan lemari es. Namun, apakah proses ini otomatis menjadikannya ‘jahat’ bagi tubuh? Belum tentu.
Berdasarkan pantauan tim di lapangan, komposisi utama produk ini memang tetap didominasi oleh ikan—baik itu sarden, makarel, maupun tuna—dengan persentase yang bervariasi antara 20 hingga 60 persen. Sisanya adalah campuran air, minyak, saus tomat, serta bumbu dapur seperti bawang, cabai, dan rempah-rempah yang lazim kita temukan di dapur rumah tangga.
Antara Bumbu Rumahan dan Formulasi Industri
Lantas, di mana garis pemisahnya? Keberadaan ultra processed food biasanya ditandai dengan penggunaan bahan-bahan tambahan yang jarang ditemukan di dapur biasa. Beberapa merk sarden memang menyertakan natrium benzoat sebagai pengawet tambahan, atau mononatrium L-glutamat (MSG) untuk mendongkrak rasa gurih. Selain itu, ada pula penggunaan modified starch (pati termodifikasi) agar saus terlihat lebih kental dan stabil.
Zat-zat seperti pengemulsi, pengatur keasaman (seperti asam sitrat), hingga pewarna tambahan inilah yang sering kali membuat sebuah produk ‘naik kelas’ dari sekadar makanan olahan (processed food) menjadi makanan ultra-proses (UPF) menurut klasifikasi NOVA.
Memahami Klasifikasi NOVA: Di Mana Posisi Sarden Anda?
Untuk memahami hal ini secara jernih, kita perlu menengok sistem klasifikasi NOVA yang membagi makanan menjadi empat tingkatan:
- NOVA 1: Bahan pangan alami atau diproses minimal (ikan segar, sayuran).
- NOVA 2: Bahan kuliner hasil ekstraksi (minyak, garam, gula).
- NOVA 3 (Processed Food): Kombinasi NOVA 1 dan 2. Ikan kalengan dengan komposisi sederhana (ikan, garam, minyak, saus tomat dasar) masuk dalam kategori ini.
- NOVA 4 (UPF): Produk hasil formulasi industri dengan tambahan aditif seperti penguat rasa, pengental, dan pengawet kimia.
Artinya, tidak semua sarden kalengan diciptakan sama. Dua kaleng di rak supermarket yang sama bisa memiliki status berbeda; yang satu mungkin hanya processed food biasa, sementara yang lain bisa jadi merupakan UPF karena kompleksitas aditifnya.
Keputusan Akhir: Sehat atau Tidak?
Menentukan kesehatan sebuah produk pangan tidak sesederhana melabelinya UPF atau bukan. Parameter yang jauh lebih krusial adalah kandungan GGL—Gula, Garam, dan Lemak. Meskipun kaya akan omega-3 dan protein berkualitas tinggi yang baik untuk jantung, sarden kalengan sering kali mengandung natrium yang sangat tinggi. Bagi penderita hipertensi, hal ini tentu menjadi lampu kuning.
Narasi yang dikembangkan Kabarmalam.com menyimpulkan bahwa kunci utamanya ada pada kebijaksanaan konsumen dalam membaca label nutrisi. Ikan kalengan tetap menjadi alternatif sumber protein yang jauh lebih baik dibandingkan camilan tinggi kalori yang miskin gizi. Namun, menjadikannya menu utama setiap hari tanpa memperhatikan asupan garam tentu bukan langkah yang bijak bagi gaya hidup sehat Anda.