Menguak Mitos Tempe dan Asam Urat: Benarkah Harus Dihindari atau Justru Menyehatkan?
Sabtu, 25 Apr 2026 09:40 WIB
Kabarmalam.com — Dalam dunia kesehatan masyarakat Indonesia, tempe sering kali menyandang status yang kontradiktif. Di satu sisi, ia dipuja sebagai superfood lokal yang kaya nutrisi, namun di sisi lain, ia kerap dituding sebagai biang kerok meningkatnya kadar asam urat dalam tubuh. Banyak penderita nyeri sendi yang seketika mencoret tempe dari daftar menu harian mereka karena dianggap mengandung purin tinggi. Namun, benarkah tuduhan tersebut memiliki landasan ilmiah yang kuat?
Memahami Purin dalam Kedelai
Kekhawatiran terhadap tempe biasanya berakar pada bahan dasarnya, yakni kedelai, yang memang mengandung senyawa purin. Secara teori, purin yang dipecah oleh tubuh akan menghasilkan asam urat. Namun, penting bagi kita untuk memahami bahwa tidak semua sumber purin memberikan dampak yang sama terhadap tubuh. Dalam kacamata ilmu gizi, bahan pangan dikategorikan berdasarkan kadar purinnya. Makanan tinggi purin (di atas 200 mg/100 gram) seperti jeroan, daging merah tertentu, dan beberapa jenis seafood memang terbukti memicu lonjakan gejala asam urat secara signifikan.
Berbeda dengan jeroan, tempe sebenarnya masuk dalam kategori makanan dengan kadar purin rendah hingga sedang. Menariknya, berbagai studi epidemiologi menunjukkan bahwa purin yang berasal dari sumber nabati—seperti kacang-kacangan dan olahannya—tidak memiliki hubungan linear dengan peningkatan risiko penyakit radang sendi atau gout. Hal ini berbanding terbalik dengan purin hewani yang secara konsisten dikaitkan dengan risiko tersebut. Serat dan senyawa bioaktif dalam tempe justru membantu metabolisme tubuh berjalan lebih optimal.
Sentuhan Ajaib Proses Fermentasi
Apa yang membuat tempe berbeda dari kedelai mentah adalah proses fermentasinya. Melalui tangan dingin kapang Rhizopus oligosporus, struktur kompleks dalam kedelai dipecah menjadi bentuk yang lebih sederhana dan mudah diserap. Wida Winarno, seorang pegiat fermentasi pangan sekaligus co-founder Indonesia Tempe Movement, menegaskan bahwa kekhawatiran terhadap tempe sering kali tidak didasarkan pada bukti riset yang akurat.
“Berdasarkan penelitian ilmiah yang ada, tidak terbukti bahwa tempe menyebabkan asam urat. Justru proses fermentasinya membuat tempe lebih baik untuk kesehatan,” ungkap sosok yang akrab disapa Ignatia Widya Kristiari tersebut. Menurutnya, proses pengolahan ini justru meningkatkan kualitas bahan pangan sehingga lebih ramah bagi sistem pencernaan manusia.
Probiotik hingga Paraprobiotik: Manfaat di Balik Penyajian
Salah satu fakta menarik yang jarang diketahui publik adalah bahwa tempe mengandung komponen kesehatan yang dinamis tergantung cara penyajiannya. Jika dikonsumsi tanpa dimasak (dengan catatan kebersihan terjaga), tubuh bisa mendapatkan asupan probiotik dan prebiotik yang melimpah. Namun, bagi Anda yang lebih suka menikmatinya setelah dimasak, jangan khawatir kehilangan manfaatnya.
Wida menjelaskan bahwa meskipun mikroorganisme hidup mati saat dipanaskan, tempe tetap mengandung komponen paraprobiotik. Komponen ini tetap berperan aktif dalam memperkuat sistem imun tubuh. Jadi, baik itu dikukus, ditumis, atau digoreng dengan sedikit minyak, tempe tetap menjadi sumber manfaat protein nabati yang sangat berharga.
Tips Mengonsumsi Tempe Secara Bijak
Bagi Anda yang memiliki riwayat asam urat, kunci utamanya bukanlah menghindari tempe secara total, melainkan menjaga porsi yang wajar dan memperhatikan cara pengolahannya. Menghindari gorengan dengan minyak jenuh yang berlebihan dapat membantu menjaga profil pola makan sehat Anda. Teknik memasak seperti mengukus atau menjadikannya campuran dalam sup adalah cara terbaik untuk mendapatkan nutrisi maksimal tanpa beban lemak tambahan.
Kesimpulannya, tempe bukanlah musuh bagi penderita asam urat. Sebagai warisan kuliner nusantara, tempe tetap menjadi pilihan protein yang ekonomis, lezat, dan menyehatkan, asalkan dikonsumsi sebagai bagian dari pola hidup yang seimbang.