Waspada! Fatty Liver Kini Mengincar Generasi Muda Indonesia, Kebiasaan Makan Ini Jadi Pemicunya
Minggu, 14 Jun 2026 06:34 WIB
Kabarmalam.com — Fenomena kesehatan yang mengkhawatirkan kini tengah membayangi generasi muda Indonesia. Jika dahulu penyakit hati identik dengan usia tua, kini kasus fatty liver atau penumpukan lemak di sel hati dilaporkan semakin marak menyerang mereka yang baru menginjak usia awal 30-an. Kondisi ini sering kali tidak disadari karena sifatnya yang bak ‘pencuri di malam hari’—berkembang perlahan tanpa gejala klinis yang mencolok hingga akhirnya menyebabkan kerusakan organ yang fatal.
Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD). Secara sederhana, fatty liver terjadi ketika akumulasi lemak di dalam sel-sel hati melampaui lima persen dari total berat organ tersebut. Ironisnya, tren yang berkembang di Indonesia saat ini bukan dipicu oleh konsumsi alkohol, melainkan murni akibat gangguan metabolisme yang berakar dari gaya hidup modern.
Ancaman ‘Silent Killer’ di Usia Produktif
Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, mengungkapkan bahwa pergeseran tren penyakit ini ke usia produktif menjadi tantangan serius bagi ketahanan kesehatan nasional. Salah satu faktor pendorong utamanya adalah lonjakan angka obesitas yang tidak terkendali. “Fatty liver merupakan kondisi yang memerlukan perhatian ekstra karena sering kali bersifat asimtomatik atau tanpa gejala. Obesitas menjadi pemicu utama yang kini menjadi tantangan kesehatan di tanah air,” jelas dr. Nadia.
Para peneliti menyoroti bahwa pola makan kekinian menjadi biang keladi utama. Konsumsi makanan tinggi kalori, ketergantungan pada makanan cepat saji yang kaya lemak jenuh, serta tingginya asupan gula rafinasi—terutama fruktosa yang melimpah pada minuman kemasan—mempercepat proses pembentukan lemak baru di hati atau yang disebut de novo lipogenesis. Akibatnya, tubuh kehilangan kemampuan untuk menyaring dan membuang lemak secara optimal.
Data Mengkhawatirkan dari Survei Kesehatan Indonesia
Tren kenaikan kasus gangguan hati ini berjalan beriringan dengan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI 2023). Hasil survei tersebut menunjukkan fakta yang mencengangkan: prevalensi obesitas sentral atau kondisi perut buncit pada populasi usia 15 tahun ke atas telah menyentuh angka 36,8 persen. Sementara itu, angka obesitas umum pada orang dewasa di atas 18 tahun kini berada di level 23,4 persen.
Kondisi perut buncit bukan sekadar masalah estetika, melainkan indikator kuat adanya penumpukan lemak viseral yang membahayakan organ dalam, termasuk hati. Jika dibiarkan, timbunan lemak ini akan memicu peradangan hebat yang merusak sel-sel hepatosit secara permanen.
Dari Lemak Menuju Kanker Hati
Dampak jangka panjang dari pengabaian terhadap fatty liver sangatlah mengerikan. Spesialis penyakit dalam dan konsultan gastroenterologi hepatologi FKUI, Prof. Rino Alvani Gani, memperingatkan bahwa lemak yang mengendap bertahun-tahun akan memicu stres oksidatif dan pelepasan zat beracun dalam tubuh.
“Dalam jangka panjang, kondisi ini meningkatkan risiko fibrosis, sirosis, hingga kanker hati,” tegas Prof. Rino. Prosesnya dimulai dari peradangan yang memaksa hati terus-menerus menyembuhkan diri. Upaya penyembuhan yang dipaksakan ini lama-kelamaan membentuk jaringan parut yang kaku (fibrosis). Jika kerusakan mencapai tahap sirosis, struktur hati akan hancur dan risiko mutasi genetik pada DNA sel hati menjadi sangat tinggi, yang merupakan cikal bakal tumbuhnya sel tumor ganas.
Melalui fenomena ini, Kabarmalam.com mengajak para pembaca untuk lebih peduli terhadap kesehatan hati sejak dini. Mengatur pola makan dan menjaga berat badan ideal bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan untuk menghindari ancaman kanker di masa depan.