Ikuti Kami
kabarmalam.com

Waspada Teror ‘Cacing Pemakan Daging’ di AS, Ancaman Baru Bagi Peternakan dan Manusia?

Wahid | kabarmalam.com
Kamis, 04 Jun 2026 20:34 WIB
Waspada Teror 'Cacing Pemakan Daging' di AS, Ancaman Baru Bagi Peternakan dan Manusia?

Kabarmalam.com — Dunia peternakan di Amerika Serikat kini tengah berada dalam status waspada tinggi menyusul ditemukannya kasus langka infeksi parasit yang sangat destruktif. Seekor anak sapi yang baru berusia tiga minggu di La Pryor, Texas, dikonfirmasi terinfeksi oleh New World screwworm, sejenis lalat parasit yang larvanya memiliki tabiat mengerikan: memakan jaringan hidup inangnya.

Kembalinya parasit ini memicu kekhawatiran besar karena merupakan kasus pertama yang ditemukan pada ternak di Amerika Serikat dalam beberapa dekade terakhir. Meskipun secara langsung tidak mencemari keamanan pangan, keberadaan organisme ini mengancam stabilitas ekonomi melalui potensi kerugian produksi peternakan yang bisa mencapai angka miliaran dolar. Jika tidak segera dihentikan, fenomena ini diprediksi bakal memicu lonjakan harga daging sapi di pasar global.

Baca Juga  Waspada Silent Killer! Dokter Saraf Ungkap Ancaman Stroke pada Anak Muda dan Gejala yang Sering Terabaikan

Mengenal New World Screwworm: Sang Pemakan Jaringan Hidup

Berbeda dengan belatung pada umumnya yang biasanya hanya mengonsumsi jaringan mati atau membusuk, larva New World screwworm jauh lebih agresif. Lalat ini berkembang biak dengan cara menyuntikkan telur-telurnya pada luka terbuka hewan. Begitu menetas, larva-larva tersebut akan menggali lebih dalam dan mulai melahap jaringan sehat yang masih berfungsi.

Serangan parasit ini menciptakan luka yang semakin lebar dan dalam secara progresif. Tanpa intervensi medis yang cepat, infeksi tersebut dapat menyebar ke organ-organ vital, memicu infeksi bakteri yang parah, dan berujung pada kematian tragis bagi hewan yang terinfeksi.

Respons Cepat Otoritas Amerika Serikat

Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) tidak tinggal diam menghadapi ancaman ini. Langkah-langkah darurat segera diberlakukan, termasuk karantina wilayah yang ketat serta pembatasan mobilitas ternak di area terdampak. Pengawasan intensif dilakukan untuk memastikan tidak ada penyebaran lebih lanjut ke peternakan lain.

Baca Juga  Drama Final Futsal: Mengapa Jantung Kita Berdegup Kencang Saat Menonton Timnas Indonesia?

Salah satu strategi unik yang diterapkan adalah pelepasan jutaan lalat jantan mandul ke alam liar. Teknik biologi ini bertujuan untuk memutus siklus reproduksi; ketika lalat betina kawin dengan pejantan mandul, mereka tidak akan menghasilkan keturunan. Dengan cara ini, populasi lalat penyebab petaka tersebut diharapkan dapat ditekan secara alami hingga musnah dari ekosistem setempat.

Risiko Bagi Manusia: Seberapa Bahaya?

Pertanyaan yang kini menghantui publik adalah: mungkinkah parasit ini menyerang manusia? Secara medis, jawabannya adalah mungkin, meski kasusnya tergolong sangat jarang. Otoritas kesehatan memperingatkan bahwa mereka yang bekerja di lingkungan peternakan atau sering beraktivitas di luar ruangan memiliki risiko lebih tinggi jika memiliki luka terbuka.

Baca Juga  Wamenkes Ungkap Fakta Mengkhawatirkan: Diabetes Tipe 2 Kini Mengintai Anak Usia SMP

Bahkan luka sekecil bekas gigitan serangga atau goresan ringan bisa menjadi pintu masuk bagi lalat ini untuk meletakkan telurnya. Jika larva mulai berkembang di jaringan manusia, kerusakan yang ditimbulkan bisa sangat serius dan memerlukan tindakan bedah segera. Namun, Menteri Pertanian AS, Brooke Rollins, menenangkan masyarakat dengan menyatakan bahwa risiko bagi publik secara umum saat ini masih berada pada level yang sangat rendah berkat protokol ketat yang tengah berjalan.

Kejadian ini menjadi pengingat penting akan betapa krusialnya pengawasan biosekuriti di sektor peternakan demi menjaga keseimbangan ekonomi dan kesehatan global dari ancaman organisme kecil namun mematikan.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid