Menguak Alasan di Balik ‘Obsesi’ Donald Trump Terhadap Pemeriksaan Medis Rutin
Kamis, 04 Jun 2026 06:34 WIB
Kabarmalam.com — Di usianya yang kini menginjak 79 tahun, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjukkan tren yang cukup unik sekaligus memicu tanda tanya besar di kalangan publik: kegemarannya menyambangi meja pemeriksaan dokter. Dalam kurun waktu yang tergolong singkat, yakni hanya 13 bulan, sang presiden tercatat telah menjadwalkan kunjungan medis sebanyak tiga kali ke Rumah Sakit Walter Reed.
Fenomena yang oleh sebagian orang disebut sebagai ‘ketagihan’ pemeriksaan kesehatan ini mengundang spekulasi. Pasalnya, Trump kerap kali menyatakan dirinya berada dalam kondisi fisik yang prima. Lantas, apa yang membuat sosok pria nomor satu di AS ini terus-menerus kembali ke rumah sakit?
Hasrat untuk Mendapatkan Hasil Sempurna
Dr. Mehmet Oz, Administrator Pusat Layanan Medicare and Medicaid AS yang kini berusia 65 tahun, mencoba memberikan perspektif menarik mengenai kebiasaan Trump. Menurutnya, alasan di balik kunjungan-kunjungan tersebut sebenarnya cukup sederhana namun mencerminkan karakter asli Trump.
“Saya pikir itu karena dia sangat menyukai hasilnya,” ungkap Dr. Oz dalam sebuah keterangan resmi di Gedung Putih. Ia menambahkan bahwa Trump adalah tipe pribadi yang sangat teliti dan ingin memegang kendali penuh atas indikator tubuhnya. Setiap kali tes dilakukan, Trump dilaporkan selalu berhasil melaluinya dengan angka-angka yang memuaskan hatinya.
Dr. Oz bahkan menyamakan obsesi Trump terhadap angka medis dengan kebiasaan komunikasinya yang perfeksionis. Keinginannya untuk memantau kondisi kesehatan secara berkala dinilai setara dengan kebiasaannya menelepon staf di jam-jam yang tidak lazim hanya untuk memastikan segala sesuatunya berjalan sesuai rencana.
Di Balik Memar dan Isu Kelelahan
Selain frekuensi cek medis, publik juga sempat dihebohkan dengan penampakan fisik Trump yang tak biasa. Dalam beberapa kesempatan, terlihat adanya bekas memar, penggunaan riasan wajah yang cukup tebal, hingga perban kecil yang menutupi area tertentu di tubuhnya. Muncul pula narasi yang menyebut sang presiden sering tertidur saat menghadiri rapat penting.
Menanggapi hal tersebut, dokter pribadi Trump, Kapten Sean Barbabella, memberikan klarifikasi. Ia menjelaskan bahwa memar yang muncul merupakan iritasi jaringan lunak ringan. Hal ini dipicu oleh kebiasaan Trump mengonsumsi aspirin dalam dosis tinggi sebagai langkah pencegahan masalah kardiovaskular. Trump sendiri mengaku sengaja mengonsumsi aspirin lebih dari dosis yang disarankan agar darahnya tetap ‘encer’.
“Mereka bilang aspirin bagus untuk mengencerkan darah, dan saya tidak ingin darah kental mengalir melalui jantung saya. Apakah itu masuk akal?” ujar Trump dalam sebuah wawancara. Efek samping dari pengencer darah inilah yang membuat kulitnya menjadi lebih sensitif dan mudah memar, terutama saat melakukan aktivitas fisik seperti berjabat tangan atau insiden kecil terkena cincin rekan saat melakukan aksi ‘high-five’.
Klarifikasi Soal Isu ‘Tertidur’
Terkait foto-foto viral yang menunjukkan dirinya seolah-olah terlelap di tengah rapat, Trump dengan tegas membantahnya. Ia berkilah bahwa tindakan menutup mata tersebut adalah cara baginya untuk mencari ketenangan sesaat di tengah jadwal yang padat. Donald Trump menyebut bahwa fotografer seringkali menangkap momen saat ia sedang berkedip secara perlahan, yang kemudian disalahartikan sebagai tertidur.
Hingga saat ini, Trump tampak sangat percaya diri dengan kondisi fisiknya. Melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, ia dengan bangga mengumumkan bahwa seluruh hasil pemeriksaan medisnya berakhir dengan predikat ‘sempurna’. Meskipun tim medis tetap menyarankan dirinya untuk memperhatikan pola makan dan rutin melakukan olahraga, Trump merasa bahwa ia masih berada di puncak performanya sebagai pemimpin dunia.