Miris! Influencer Dihujat Netizen Usai ‘Cosplay’ Disabilitas Demi Konten dan Endorsement
Kamis, 04 Jun 2026 13:35 WIB
Kabarmalam.com — Jagat maya kembali diguncang oleh kontroversi yang memicu kemarahan publik. Seorang influencer viral mendadak menjadi pusat perhatian, namun bukan karena prestasi, melainkan karena aksi ‘cosplay’ atau parodi yang menirukan penyandang disabilitas. Mirisnya, konten tersebut tak sekadar unggahan biasa, melainkan bagian dari strategi personal branding dan promosi produk kecantikan dari merek ternama.
Gelombang protes mengalir deras di berbagai platform media sosial. Banyak warganet menilai bahwa menjadikan kekurangan fisik orang lain sebagai bahan lelucon adalah tindakan yang sangat tidak etis dan jauh dari empati. Publik juga mempertanyakan kebijakan brand yang bekerja sama dengan kreator konten yang diduga melakukan tindakan diskriminasi demi mendulang popularitas.
Sorotan Pakar Medis Terhadap Stigma dan Ableism
Kasus ini pun menarik perhatian dr. Adam Prabata, seorang praktisi kesehatan yang aktif memberikan edukasi kesehatan melalui media sosial. Ia menyayangkan munculnya konten-konten yang memparodikan kondisi disabilitas. Menurutnya, tindakan tersebut bukan sekadar hiburan kosong, melainkan bentuk perilaku ableism yang dapat memperburuk stigma sosial di masyarakat.
“Dampak psikis bagi teman-teman penyandang disabilitas yang melihat konten seperti itu tidak bisa dianggap remeh. Mereka berisiko mengalami gejala kecemasan hingga depresi,” ungkap dr. Adam. Ia menekankan bahwa candaan yang merendahkan martabat kelompok tertentu justru menghancurkan upaya pembangunan inklusivitas yang selama ini diperjuangkan.
Dampak Buruk Humor Berbasis Stereotip
Mengacu pada penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Media Psychology tahun 2024, humor yang mengeksploitasi disabilitas terbukti memperkuat stereotip negatif dan mengikis rasa empati penonton. Alih-alih menghibur, konten semacam ini justru memicu tekanan emosional yang mendalam bagi mereka yang bersangkutan.
Dr. Adam menegaskan bahwa meskipun para pembuat konten sering berkilah dengan dalih ‘hanya bercanda’, efek yang dihasilkan sangat nyata. Korban seringkali harus menghadapi cyberbullying tambahan atau merasa terpaksa melakukan sensor diri karena takut diejek lebih lanjut di ruang digital.
Penyesalan dan Permintaan Maaf
Setelah mendapatkan tekanan besar dari publik, pemilik akun @violettaaxandrea akhirnya angkat bicara. Melalui unggahan terbarunya, ia menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas konten ‘cosplay’ disabilitas yang telah ia buat. Ia mengaku sangat menyesali perbuatannya dan berkomitmen untuk lebih bijak dalam berkarya agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan.
Fenomena ini menjadi pengingat keras bagi para kreator konten bahwa kreativitas di media sosial harus tetap memiliki batasan moral dan etika. Jangan sampai demi mengejar angka keterlibatan (engagement), rasa kemanusiaan dan penghormatan terhadap sesama justru dikesampingkan.