Ikuti Kami
kabarmalam.com

Fenomena Miris Influencer ‘Cosplay’ Disabilitas: Mengapa Ableism Bukan Bahan Candaan?

Wahid | kabarmalam.com
Kamis, 04 Jun 2026 16:34 WIB
Fenomena Miris Influencer 'Cosplay' Disabilitas: Mengapa Ableism Bukan Bahan Candaan?

Kabarmalam.com — Jagat maya baru-baru ini digemparkan oleh aksi seorang influencer yang nekat melakukan ‘cosplay’ atau parodi dengan menirukan kondisi fisik penyandang disabilitas. Ironisnya, tindakan yang memicu gelombang kemarahan publik tersebut dilakukan demi kepentingan konten promosi produk kecantikan dari sebuah merek ternama.

Video-video tersebut seketika dibanjiri kritik tajam dari warganet yang menilai bahwa menjadikan keterbatasan fisik sebagai bahan lelucon adalah tindakan yang sangat tidak etis. Sebagian besar netizen berpendapat bahwa kondisi disabilitas bukanlah sebuah kostum atau alat untuk membangun personal branding, apalagi untuk mendulang rupiah melalui kerja sama influencer.

“Mungkin ingin merasakan bagaimana jadi penyandang disabilitas,” tulis salah satu netizen dengan nada satir. Sementara yang lain menyoroti pihak brand yang memberikan endorsemen, mempertanyakan kebijakan marketing yang justru mendukung konten berbau bullying dan diskriminasi.

Baca Juga  Bahaya di Balik Tren Minum 11 Suplemen Sekaligus, Pakar Farmasi UGM Beri Peringatan Keras

Membedah Bahaya Stigma dan Ableism

Menanggapi kegaduhan ini, dr. Adam Prabata, seorang praktisi kesehatan yang vokal memberikan edukasi di media sosial, turut memberikan pandangannya. Menurutnya, konten semacam ini bukan sekadar masalah ketersinggungan semata, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan mental rekan-terman penyandang disabilitas.

“Konten seperti ini bisa memperkuat stigma sosial yang sudah lama dihadapi teman-teman disabilitas,” jelas dr. Adam. Ia menekankan bahwa fenomena ini erat kaitannya dengan istilah Ableism. Secara definisi, ableism adalah bentuk diskriminasi atau prasangka terhadap penyandang disabilitas yang didasarkan pada anggapan bahwa kondisi fisik atau mental ‘normal’ memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang memiliki keterbatasan.

Berdasarkan kajian dari National Institutes of Health (NIH), ableism sering kali dianggap sebagai sesuatu yang lumrah atau sekadar ‘common sense’. Namun, dampaknya sangat destruktif. Di dunia medis, pandangan ini bisa membuat penyandang disabilitas dipandang sebelah mata dan dianggap memiliki kualitas hidup yang rendah hanya karena membutuhkan alat bantu seperti kursi roda atau alat pernapasan.

Baca Juga  Drama 'Startup Kecil' Phoebe Gates: Putri Bill Gates Dihujat Karena Tawar Murah Tarif Influencer

Dampak Psikologis yang Tak Terlihat

Lebih lanjut, dr. Adam memaparkan bahwa representasi negatif di media sosial dapat memicu kerentanan psikologis yang serius. Sebuah penelitian tahun 2024 yang diterbitkan dalam Journal of Media Psychology mengungkapkan bahwa humor yang menyasar kelompok disabilitas justru memperkuat stigma sosial dan mengikis rasa empati penonton.

Para ahli kesehatan mental mencatat beberapa dampak buruk yang mungkin dialami oleh penyandang disabilitas saat melihat konten tersebut, di antaranya:

  • Meningkatnya risiko kecemasan dan serangan panik.
  • Penurunan harga diri (self-esteem) yang signifikan.
  • Gejala depresi akibat merasa tidak dihargai oleh lingkungan sosial.
  • Fenomena self-censorship atau menarik diri dari ruang publik karena takut menjadi sasaran ejekan.
Baca Juga  Tantangan Berat Haji 2026: Suhu Mekkah Diprediksi Menyengat Hingga 47 Derajat Celsius

Pesan Moral dan Permintaan Maaf

Setelah mendapatkan tekanan besar dari publik, pemilik akun yang bersangkutan akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Ia mengaku menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan serupa di masa depan. Kasus ini menjadi alarm keras bagi para kreator konten bahwa kreativitas tidak boleh mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.

Edukasi mengenai inklusivitas dan pemahaman mendalam tentang pengalaman hidup penyandang disabilitas sangat diperlukan. Media sosial seharusnya menjadi ruang yang aman dan memberdayakan bagi siapa pun, tanpa terkecuali. Disabilitas bukanlah bahan hiburan, melainkan bagian dari keragaman manusia yang patut dihormati dan didukung dengan rasa empati yang tulus.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid