Ikuti Kami
kabarmalam.com

Bahaya di Balik Tren Minum 11 Suplemen Sekaligus, Pakar Farmasi UGM Beri Peringatan Keras

Wahid | kabarmalam.com
Minggu, 31 Mei 2026 16:34 WIB
Bahaya di Balik Tren Minum 11 Suplemen Sekaligus, Pakar Farmasi UGM Beri Peringatan Keras

Kabarmalam.com — Jagat maya baru-baru ini dikejutkan oleh aksi nekat seorang influencer yang memamerkan rutinitas kesehatan ekstrem dengan menelan hingga 11 butir suplemen dalam satu waktu. Unggahan tersebut sontak memicu perdebatan sengit di kalangan netizen, sekaligus menimbulkan tanda tanya besar mengenai batas aman konsumsi vitamin demi gaya hidup sehat.

Bukan Sekadar Tren, Kenali Risikonya

Menanggapi fenomena viral ini, Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Zullies Ikawati, angkat bicara. Menurutnya, keamanan mengonsumsi banyak suplemen kesehatan dalam satu waktu tidak bisa dipukul rata atau digeneralisasi. Semuanya kembali pada komposisi, dosis, dan kandungan spesifik dari masing-masing produk yang dikonsumsi.

“Nggak bisa digeneralisir jawabannya, tergantung dari jenis suplemennya apa,” ungkap Prof. Zullies saat memberikan pandangan ahli terkait isu yang sedang hangat tersebut. Beliau menekankan bahwa setiap zat yang masuk ke tubuh memiliki mekanisme kerja yang berbeda-beda.

Baca Juga  Seni Intimidasi 'Dingin' Haaland dan Cherki: Mengapa Arsenal Dibuat Gentar di Etihad?

Vitamin vs Obat: Aman Namun Ada Batasnya

Secara medis, vitamin dan mineral memang dikategorikan lebih aman jika dibandingkan dengan obat-obatan kimia keras. Namun, Prof. Zullies menegaskan bahwa predikat ‘relatif aman’ bukan berarti boleh dikonsumsi tanpa kendali atau dalam jumlah yang tidak masuk akal. Tubuh manusia memiliki batas toleransi alami terhadap zat asing yang masuk ke dalam sistem metabolisme.

“Pada dasarnya vitamin dan mineral cenderung lebih aman daripada obat, namun jika berlebihan pasti tidak baik juga efeknya,” jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa sebenarnya tidak ada aturan kaku yang membatasi seseorang harus mengonsumsi sekian butir suplemen per hari. Hal yang jauh lebih krusial adalah memahami kebutuhan biologis tubuh dan profil keamanan produk tersebut.

Baca Juga  Insiden Keracunan Massal MBG di Jakarta Timur: 72 Siswa Tumbang, Operasional Dapur SPPG Resmi Dihentikan

Waspada ‘Overlapping’ dan Risiko Overdosis

Salah satu risiko terbesar dari mengonsumsi belasan jenis produk sekaligus adalah penumpukan zat yang sama atau risiko overdosis vitamin. Banyak produk multivitamin di pasaran yang memiliki irisan kandungan. Jika seseorang meminum beberapa produk berbeda yang ternyata sama-sama mengandung zat tertentu dalam dosis tinggi, maka risiko toksisitas atau keracunan nutrisi akan meningkat tajam.

Sebagai contoh konkret, kelebihan Vitamin A dalam jangka panjang diketahui dapat memicu gangguan fungsi hati dan masalah kesehatan tulang. Begitu pula dengan asupan Vitamin D atau zat besi yang melampaui ambang batas, yang justru berpotensi menimbulkan komplikasi kesehatan serius alih-alih memberikan kebugaran yang diharapkan.

Suplemen Bukan Pengganti Nutrisi Alami

Dalam narasinya, Prof. Zullies mengingatkan masyarakat untuk kembali pada filosofi dasar dari vitamin dan mineral tambahan. Sesuai namanya, suplemen hanyalah ‘pendamping’ atau pelengkap nutrisi, bukan pengganti utama dari asupan makanan bergizi seimbang yang didapat dari alam. Idealnya, suplemen hanya diperlukan saat tubuh mengalami defisiensi atau kondisi tertentu yang tidak bisa dipenuhi dari meja makan.

Baca Juga  Masih Nekat Makan Ikan Sapu-sapu dari Air Jernih? Begini Penjelasan Ahli Gizi Terkait Risikonya

“Namanya suplemen itu artinya tambahan, jadi digunakan jika memang tubuh kekurangan. Yang terpenting bukan berapa banyak jumlah suplemennya, tetapi apakah memang dibutuhkan dan apakah dosisnya sesuai,” pungkas Prof. Zullies dengan tegas.

Masyarakat dihimbau untuk lebih bijak dalam menyaring informasi dari media sosial. Sebelum memutuskan untuk merutinkan konsumsi suplemen dalam jumlah banyak, sangat disarankan untuk melakukan konsultasi dengan tenaga kesehatan atau dokter. Jangan sampai niat hati ingin sehat, namun justru membebani kerja organ tubuh seperti ginjal dan hati akibat konsumsi zat yang berlebihan.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid