Masih Nekat Makan Ikan Sapu-sapu dari Air Jernih? Begini Penjelasan Ahli Gizi Terkait Risikonya
Rabu, 06 Mei 2026 05:34 WIB
Kabarmalam.com — Fenomena ikan sapu-sapu yang kerap menghiasi akuarium atau terlihat di saluran air sering kali memicu pertanyaan sederhana namun krusial: jika ikan ini hidup di lingkungan yang terlihat jernih atau bahkan sengaja diternak, apakah dagingnya otomatis aman untuk dikonsumsi? Selama ini, masyarakat cenderung melabeli ikan ini sebagai ‘ikan kotor’, namun benarkah air bersih menjadi jaminan keamanan?
Menanggapi rasa penasaran tersebut, nutrisionis kenamaan Rita Ramayulis memberikan pandangan yang cukup tegas. Menurutnya, meskipun ikan sapu-sapu diambil dari ekosistem yang tampak bening secara kasatmata, hal itu tidak lantas menjadikannya layak masuk ke dalam piring sajian. Masalah utamanya terletak pada sifat dasar lingkungan perairan yang hampir mustahil benar-benar steril dari kontaminasi.
Sifat Alami Sebagai Penyerap Polutan
Rita menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu memiliki karakteristik biologis yang unik sekaligus berisiko bagi manusia yang mengonsumsinya. Ikan ini dibekali kemampuan untuk menyerap berbagai jenis zat asing dari sekitarnya. “Jika ekosistemnya tidak dikondisikan secara sangat ketat, rasanya tidak ada perairan yang benar-benar bebas dari cemaran. Perbedaannya hanya pada tingkat konsentrasi atau berat ringannya polutan tersebut,” ungkap Rita dalam sebuah diskusi kesehatan baru-baru ini.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa ikan sapu-sapu mampu mengakumulasi polutan di dalam tubuh mereka. Menariknya, zat berbahaya tersebut disimpan dalam jaringan khusus sehingga tidak merusak organ internal si ikan, namun tetap mengendap dan berbahaya jika berpindah ke tubuh manusia melalui konsumsi ikan tersebut.
Ancaman dari Endapan Sedimen
Salah satu alasan mengapa air jernih bukan jaminan adalah pola makan ikan sapu-sapu itu sendiri. Sebagai pemakan dasar air, ikan ini mengonsumsi sedimen atau endapan yang ada di dasar sungai atau kolam. Sedimen inilah yang biasanya menjadi tempat berkumpulnya partikel berbahaya dan logam berat yang mungkin tidak terlihat di permukaan air.
“Walaupun secara visual airnya tidak tercemar merkuri atau logam berat yang ekstrem, namun yang namanya polutan dan sedimen tetap ada di dasar. Semakin lama usia sebuah sungai, semakin tebal sedimennya, dan itulah yang menjadi ‘makanan’ bagi ikan sapu-sapu,” tambah Rita.
Kapan Ikan Sapu-sapu Menjadi Aman?
Apakah ada pengecualian? Rita menekankan bahwa ikan sapu-sapu hanya bisa dianggap sebagai bahan pangan jika dibudidayakan dalam ekosistem yang terkontrol total dengan standar sanitasi yang jelas. Tanpa adanya proses peternakan yang terstandarisasi, ikan ini lebih tepat dikategorikan sebagai bagian dari sistem pembersih ekosistem ketimbang sumber protein.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih selektif dan tidak tergiur mengolah ikan ini hanya karena melihat lokasi penangkapannya yang bersih. Menjaga kesehatan tubuh jauh lebih penting daripada mencoba kuliner ekstrem yang belum terjamin keamanannya secara medis. Rita menegaskan, jika tidak dikondisikan dengan benar, ikan sapu-sapu bukan lagi makanan, melainkan pembawa zat yang mengancam kesehatan.
Bagi Anda yang gemar mencari alternatif sumber protein, sangat disarankan untuk tetap memilih jenis ikan yang sudah umum dibudidayakan dan memiliki profil nutrisi makanan yang jelas serta terbebas dari risiko akumulasi polutan berbahaya.