Ikuti Kami
kabarmalam.com

Temuan Mengejutkan! Kandungan Boraks Hantui Menu Makanan Bergizi Gratis Siswa di Anambas

Wahid | kabarmalam.com
Sabtu, 09 Mei 2026 14:34 WIB
Temuan Mengejutkan! Kandungan Boraks Hantui Menu Makanan Bergizi Gratis Siswa di Anambas

Kabarmalam.com — Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang menjadi solusi peningkatan nutrisi siswa, kini tengah berada di bawah sorotan tajam. Insiden memilukan menimpa ratusan pelajar di kawasan Air Asuk, Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau, yang dilaporkan mengalami gejala keracunan makanan massal setelah menyantap hidangan yang disediakan bagi mereka.

Investigasi Mendalam Badan Gizi Nasional

Berdasarkan penelusuran tim investigasi Badan Gizi Nasional (BGN), insiden ini bukan sekadar masalah higienitas biasa. Ketua Tim Investigasi BGN, Arie Karimah Muhammad, membeberkan fakta mengejutkan dari hasil uji laboratorium yang dilakukan. Ditemukan adanya kontaminasi bakteri berbahaya serta kandungan zat kimia non-pangan, yakni boraks, dalam porsi makanan yang disajikan kepada para siswa.

Proses pemeriksaan dilakukan melalui dua tahapan krusial untuk memastikan akurasi data. Tahap awal melibatkan uji cepat (rapid test) oleh Dinas Kesehatan setempat sesaat setelah laporan kejadian muncul. Hasil tersebut kemudian diperkuat dengan uji validasi laboratorium secara menyeluruh oleh Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Baca Juga  Horor di Samudra: Kisah Pilu Penumpang MV Hondius Terjebak Teror Hantavirus

“Hasil pemeriksaan cepat mengonfirmasi keberadaan boraks pada beberapa komponen menu, seperti telur kecap, tempe goreng, hingga tumis sayuran. Kadar yang ditemukan pun sangat mengkhawatirkan, berkisar antara 100 hingga 5.000 mg/L,” ungkap Arie dalam keterangannya terkait temuan di lapangan.

Mengenal Bahaya Boraks di Balik Kelezatan Palsu

Boraks atau sodium tetraborate pada dasarnya adalah senyawa kimia industri yang sama sekali bukan untuk dikonsumsi. Secara legal, zat ini digunakan sebagai bahan campuran deterjen, pembersih rumah tangga, pengawet kayu, hingga bahan pembuatan kaca. Namun, praktik curang di lapangan sering kali memperlihatkan penyalahgunaan boraks sebagai pengawet atau pengenyal makanan agar hidangan tampak lebih segar dan memiliki tekstur yang menarik dalam waktu lama.

Baca Juga  Klaten Berduka, Korban Diduga Keracunan Program Makan Bergizi Gratis Kini Tembus 500 Jiwa

Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PP PDGKI), dr. Iflan Nauval, memberikan peringatan keras mengenai bahaya boraks jika masuk ke dalam sistem metabolisme manusia. Dampaknya tidak bisa disepelekan karena menyerang organ vital secara bertahap.

  • Dampak Jangka Pendek: Reaksi spontan tubuh biasanya berupa mual hebat, muntah-muntah, sakit kepala, hingga diare akut sebagai bentuk penolakan terhadap racun.
  • Dampak Jangka Panjang: Akumulasi boraks dalam tubuh dalam periode lama dapat memicu reaksi alergi kronis, kerusakan fungsi hati dan ginjal, hingga risiko fatal seperti memicu sel kanker.

Urgensi Standarisasi Keamanan Pangan

Tragedi di Anambas ini menjadi alarm keras bagi keberlangsungan program makanan bergizi gratis di berbagai pelosok Indonesia. Dr. Iflan menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memastikan rantai pasokan makanan tetap steril dan aman. Pengawasan ketat terhadap penyedia jasa boga atau katering menjadi kunci utama agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Baca Juga  Waspada! Badan Gizi Nasional Coret Daftar Menu Ini dari Program Makan Bergizi Gratis karena Berisiko Keracunan

Integritas dalam pengolahan makanan harus menjadi prioritas di atas segalanya. Keamanan pangan bukan sekadar tentang rasa, melainkan tentang masa depan kesehatan anak bangsa yang tidak boleh dikorbankan demi keuntungan sesaat atau efisiensi biaya yang serampangan.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid