Klaten Berduka, Korban Diduga Keracunan Program Makan Bergizi Gratis Kini Tembus 500 Jiwa
Jumat, 01 Mei 2026 05:35 WIB
Kabarmalam.com — Kabar mengejutkan datang dari wilayah Tulung, Klaten, terkait pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Jumlah korban yang diduga mengalami keracunan makanan dilaporkan melonjak tajam hingga menyentuh angka 500 orang, yang terdiri dari siswa hingga tenaga pendidik.
Skala Dampak yang Meluas
Kepala Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten Klaten, Anggit Budiarto, mengonfirmasi lonjakan signifikan ini. Berdasarkan data terbaru, penambahan jumlah korban didominasi oleh warga sekolah yang mulai merasakan gejala medis, meskipun banyak di antaranya yang tidak sampai menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
“Ada penambahan jumlah mereka yang bergejala, namun kondisinya tergolong ringan sehingga tidak melakukan perawatan di fasilitas kesehatan,” ujar Anggit saat memberikan keterangan pada Kamis siang. Ia juga menambahkan bahwa meski jumlah siswa yang terdampak terus bertambah, sejauh ini belum ada laporan tambahan mengenai korban dari kalangan guru.
Penelusuran Data Riil di Lapangan
Pihak Dinas Kesehatan Klaten saat ini tengah bergerak cepat untuk melakukan validasi data guna memastikan angka pasti dari insiden kasus keracunan di Klaten ini. Koordinasi intensif terus dilakukan dengan pihak Puskesmas setempat serta Dinas Pendidikan untuk memantau perkembangan kondisi para korban.
“Kami akan terus melakukan konfirmasi data riil bersama pihak terkait agar langkah penanganan bisa diambil secara tepat dan terukur,” tegas Anggit.
Gejala dan Pengakuan Para Korban
Mayoritas korban mengeluhkan gangguan kesehatan yang serupa, mulai dari rasa mual yang hebat, pusing, hingga diare. Gejala-gejala ini muncul tak lama setelah mereka mengonsumsi menu sop galantin yang dibagikan dalam program Makan Bergizi Gratis tersebut.
Kisah salah satu korban, Intan, seorang siswi kelas VIII SMPN 1 Tulung, memberikan gambaran mengenai situasi di lapangan. Sempat dirawat di Puskesmas Majengan, kini kondisinya berangsur memulih. “Tadi malam sempat merasa sangat mual dan muntah sekali. Tapi sekarang syukurlah sudah membaik dan diperbolehkan pulang bersama beberapa teman lainnya,” tuturnya dengan nada lega.
Evaluasi Program Makan Bergizi
Insiden ini menjadi catatan kelam bagi pelaksanaan program gizi di daerah. Sebelumnya, laporan awal hanya mencatat sekitar 200 orang yang terdampak. Namun, seiring berjalannya waktu, jumlah tersebut membengkak drastis. Fokus utama saat ini adalah memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan medis yang memadai dan melakukan investigasi mendalam terhadap vendor atau penyedia makanan yang terlibat dalam program tersebut.
Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada jika menemukan gejala serupa pada anak-anak mereka. Penanganan dini di puskesmas terdekat sangat disarankan untuk mencegah kondisi yang lebih buruk.