Ikuti Kami
kabarmalam.com

Mengenal Andes Virus: Benarkah Berpotensi Menjadi Pandemi Baru Pengganti COVID-19?

Wahid | kabarmalam.com
Sabtu, 09 Mei 2026 09:34 WIB
Mengenal Andes Virus: Benarkah Berpotensi Menjadi Pandemi Baru Pengganti COVID-19?

Kabarmalam.com — Isu mengenai ancaman kesehatan global kembali mencuat setelah kabar mengejutkan datang dari kapal pesiar mewah MV Hondius. Nama Andes Virus mendadak menjadi perbincangan hangat, sering kali dikaitkan dengan potensi pandemi hantavirus yang mengintai di balik bayang-bayang. Namun, apa sebenarnya virus ini dan seberapa besar risikonya bagi kita?

Membedah Identitas: Hantavirus vs Andes Virus

Banyak yang masih keliru menganggap keduanya sebagai entitas yang berbeda total. Sejatinya, hantavirus bukanlah nama satu virus tunggal, melainkan sebuah keluarga besar virus dari famili Hantaviridae. Prof. Dr. dr. Dominicus Husada, seorang pakar infeksi penyakit tropik dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menjelaskan bahwa kelompok ini terdiri dari puluhan jenis virus yang mayoritas inangnya adalah tikus.

Dari sekitar 40 jenis yang teridentifikasi, Andes Virus muncul sebagai sosok yang paling mencolok. Mengapa? Karena ia memiliki karakteristik unik yang tidak dimiliki kerabatnya yang lain. “Virus Andes ini adalah satu-satunya anggota hantavirus yang sejauh ini diketahui dapat menular antarmanusia melalui kontak erat,” ungkap Prof. Dominicus dalam sebuah sesi penjelasan media baru-baru ini.

Baca Juga  Waspada Bahaya Logam Berat! Panduan Bijak Memilih Ikan dari Perairan Jakarta agar Tetap Sehat

Sifat Penularan yang Berbeda: Tidak Semudah COVID-19

Meskipun memiliki kemampuan menular antarmanusia, masyarakat diimbau untuk tidak panik berlebihan. Penularan Andes Virus tidaklah semasif COVID-19 atau campak. Dibutuhkan interaksi yang sangat intens dan dalam durasi yang lama, seperti anggota keluarga yang tinggal serumah atau rekan kerja yang berbagi ruang sempit dalam waktu lama, agar virus ini bisa berpindah inang. Pertemuan singkat di ruang publik umumnya memiliki risiko yang sangat kecil.

Hingga saat ini, jejak Andes Virus belum pernah terdeteksi di bumi nusantara. Kasus hantavirus yang ditemukan di Indonesia umumnya masih bersifat zoonosis murni, yakni menular dari hewan pengerat ke manusia. Penularan biasanya terjadi ketika seseorang secara tidak sengaja menghirup partikel aerosol dari urine, air liur, atau kotoran tikus yang tercemar di lingkungan yang kotor.

Baca Juga  Waspada Kanker Penis di Usia Muda: Kisah Steven Hamill yang Kehilangan Organ Intim Akibat Diagnosis Terlambat

Beda Wilayah, Beda Gejala: Paru-paru vs Ginjal

Menariknya, lokasi geografis memengaruhi cara virus ini menyerang tubuh manusia. Di belahan bumi Amerika, hantavirus (termasuk Andes Virus) lebih sering memicu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Penyakit ini menyerang organ paru-paru secara agresif, menyebabkan sesak napas akut hingga gagal pernapasan. Prof. Dominicus menyebutkan bahwa angka kematian akibat kondisi ini cukup mengerikan, yakni mencapai 50 persen.

Sebaliknya, hantavirus yang dominan ditemukan di kawasan Asia dan Eropa cenderung menyebabkan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Penyakit ini lebih dominan menyerang fungsi ginjal dan disertai dengan gangguan perdarahan. Pada fase awal, gejalanya sering kali menipu karena menyerupai gejala flu biasa, seperti demam tinggi, sakit kepala hebat, nyeri otot, dan tubuh yang terasa sangat lemas.

Akankah Menjadi Pandemi Global?

Pertanyaan besar yang menghantui publik adalah peluang virus ini menjadi ancaman global layaknya wabah beberapa tahun lalu. Namun, Prof. Dominicus memberikan pandangan yang menenangkan. Ia menilai kemungkinan Andes Virus menjadi pandemi besar sangatlah kecil. Selain penularannya yang membutuhkan kontak erat, keluarga hantavirus tergolong virus yang stabil dan sangat jarang mengalami mutasi.

Baca Juga  Waspada! Deretan Makanan Berlabel Sehat yang Diam-Diam Memicu Lonjakan Gula Darah

“Virus hanta ini relatif jarang bermutasi, tidak seperti SARS-CoV-2, influenza, atau HIV,” tuturnya. Sebagai gambaran, virus influenza memiliki tingkat mutasi 10 kali lebih tinggi dari COVID-19, sementara HIV bahkan 100 kali lebih cepat. Dengan kemampuan mutasi yang rendah, potensi virus ini untuk mendadak berubah menjadi lebih ganas atau sangat menular menjadi sangat terbatas.

Langkah pencegahan terbaik saat ini tetaplah menjaga kebersihan lingkungan dan memastikan sanitasi hunian terjaga dengan baik. Meminimalkan kontak dengan tikus dan kotorannya adalah kunci utama. Tetaplah memperbarui informasi mengenai kesehatan agar kita bisa bertindak secara rasional dalam menghadapi isu kesehatan global yang berkembang.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid