Waspada Bahaya Logam Berat! Panduan Bijak Memilih Ikan dari Perairan Jakarta agar Tetap Sehat
Rabu, 06 Mei 2026 20:04 WIB
Kabarmalam.com — Membeli hasil laut segar langsung dari pesisir Jakarta memang menggoda, namun di balik kesegarannya, tersimpan risiko kesehatan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Tingkat pencemaran yang tinggi di perairan ibu kota menuntut konsumen untuk lebih jeli dalam memilah apa yang akan tersaji di meja makan. Ahli gizi mengingatkan bahwa salah memilih jenis atau ukuran ikan bisa berujung pada akumulasi racun dalam tubuh.
Mekanisme Pertahanan Ikan terhadap Polusi
Nutrisionis kenamaan, Rita Ramayulis, mengungkapkan bahwa setiap spesies ikan memiliki respons yang berbeda terhadap paparan limbah. Ada jenis ikan tertentu yang justru menjadi ‘gudang’ racun karena ketahanannya yang luar biasa terhadap lingkungan ekstrem. Salah satu contoh yang paling menonjol adalah ikan sapu-sapu.
“Ikan tertentu memang memiliki risiko tinggi. Perbedaannya terletak pada cara mereka merespons racun. Ikan sapu-sapu, misalnya, mampu menahan semua zat berbahaya tersebut tetap tersimpan di dalam badannya,” jelas Rita. Berbeda dengan mayoritas ikan lainnya yang memiliki sistem penyaringan alami. Jika kadar racun di lingkungan sudah melampaui ambang batas kemampuan saringnya, ikan tersebut biasanya akan mati sebelum sempat ditangkap dan dikonsumsi manusia.
Hukum Rantai Makanan: Semakin Besar, Semakin Berisiko
Dalam dunia kesehatan masyarakat, ukuran ikan menjadi indikator penting dalam menilai tingkat akumulasi logam berat. Rita menjelaskan adanya fenomena rantai makanan di mana predator yang lebih besar akan memakan ikan-ikan kecil yang sudah terpapar polutan.
Semakin lama ikan hidup dan semakin besar ukurannya, maka semakin besar pula potensi penumpukan zat berbahaya di jaringan tubuhnya. Oleh karena itu, bagi masyarakat yang tetap ingin mengonsumsi hasil tangkapan dari perairan Jakarta, Rita menyarankan untuk beralih ke pilihan yang lebih kecil.
- Ikan Kembung: Ukurannya yang relatif kecil membuatnya memiliki masa hidup yang lebih pendek untuk menumpuk racun.
- Ikan Teri: Sebagai salah satu dasar rantai makanan, tingkat akumulasi polutannya jauh lebih rendah.
- Ikan Laut Kecil Lainnya: Secara umum lebih aman dibandingkan ikan predator besar seperti kakap merah berukuran raksasa atau tuna dari area terdampak.
Ikan Air Tawar vs Ikan Laut: Mana yang Lebih Aman?
Menariknya, tips gizi kali ini juga menyoroti keunggulan ikan air tawar dalam konteks keamanan pangan di Jakarta. Rita menilai ikan air tawar seperti lele atau mujair cenderung lebih aman karena mayoritas berasal dari sistem budidaya yang kontrol airnya lebih terjaga dibandingkan laut lepas.
“Aliran limbah industri dan logam berat umumnya bermuara ke laut, bukan ke kolam-kolam ternak darat. Inilah yang membuat pencemaran di laut cenderung lebih masif dan sulit dikendalikan,” tambahnya. Dengan memilih ikan hasil budidaya, konsumen secara tidak langsung meminimalisir risiko paparan pencemaran laut yang ekstrem.
Peringatan Keras untuk Kelompok Rentan
Meski orang dewasa sehat memiliki sistem metabolisme dan pertahanan tubuh yang lebih kuat dalam menetralisir racun, hal ini tidak berlaku bagi kelompok tertentu. Anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui sangat dilarang mengonsumsi ikan berukuran besar dari perairan yang tercemar.
Selain ikan, Rita juga memberikan catatan khusus mengenai makanan laut lainnya. Udang berukuran kecil masih dikategorikan relatif aman. Namun, ia memberikan lampu merah untuk konsumsi kerang dari wilayah terdampak polusi. “Jangan coba-coba dengan kerang. Organisme ini tidak memiliki alat penyaring yang mumpuni, sehingga semua zat yang lewat akan langsung masuk dan menetap di dagingnya,” tegasnya.
Sebagai penutup, menjadi konsumen yang cerdas adalah kunci. Memastikan asal-usul tangkapan dan memahami karakteristik biologis sumber protein kita adalah langkah nyata dalam menjaga kesehatan jangka panjang keluarga di tengah tantangan lingkungan perkotaan yang semakin kompleks.