Mengenal Food Noise: Ketika Pikiran Tetap ‘Lapar’ Meski Perut Sudah Kenyang
Sabtu, 09 Mei 2026 18:06 WIB
Kabarmalam.com — Pernahkah Anda berada di situasi di mana perut terasa sudah begah, namun jemari tetap asyik melakukan scrolling di aplikasi pesan antar makanan atau media sosial untuk mencari menu selanjutnya? Jika iya, Anda mungkin sedang mengalami fenomena yang dikenal sebagai ‘food noise’. Ini bukan sekadar rasa lapar biasa, melainkan kebisingan pikiran yang terus-menerus tertuju pada makanan, bahkan saat tubuh sebenarnya tidak lagi membutuhkan asupan energi.
Mengacu pada berbagai laporan kesehatan terkini, food noise digambarkan sebagai pikiran intrusif tentang makanan yang muncul secara repetitif. Kondisi ini sering kali dianggap mengganggu karena dapat memicu beban mental, stres, hingga berdampak buruk pada kesehatan fisik seseorang jika tidak dikelola dengan bijak.
Bukan Sekadar Kurang Disiplin
Banyak orang beranggapan bahwa kegagalan dalam menjaga berat badan atau menjalani program diet adalah bentuk kegagalan pribadi akibat kurangnya disiplin. Namun, dokter spesialis gizi klinik, dr. Iflan Nauval, M.ScIH, SpGK, menegaskan bahwa ada faktor biologis yang jauh lebih kompleks di balik fenomena ini.
“Bagi mereka yang berjuang melawan obesitas, tantangannya bukan hanya soal niat, melainkan biologi tubuh yang rumit. Memahami adanya food noise sangat penting agar kita berhenti menyederhanakan masalah berat badan sebagai sekadar masalah kemauan,” ujar dr. Iflan dalam sebuah pertemuan di kawasan PIK 2, Tangerang.
Peran Dopamin dan Sinyal Otak
Secara medis, food noise erat kaitannya dengan aktivitas di pusat penghargaan otak yang dipicu oleh hormon dopamin. Dorongan biologis inilah yang membuat seseorang terus memikirkan makanan. Menurut dr. Iflan, pengendalian dopamin menjadi kunci utama agar pikiran-pikiran tersebut tidak sampai mengganggu ritme kehidupan sehari-hari.
Selain faktor internal, lingkungan modern saat ini turut memperparah kondisi tersebut. Paparan visual dari konten kuliner yang estetik di layar gawai hingga aroma masakan yang sengaja disebarkan di pusat perbelanjaan adalah pemicu eksternal yang sangat kuat. Stimulasi ini sering kali menipu otak untuk menginginkan rasa tertentu, meskipun secara fisik tubuh sudah berada dalam kondisi cukup.
Solusi Medis untuk Meredam ‘Kebisingan’
Bagi mereka yang merasa kesulitan mengendalikan nafsu makan akibat food noise yang intens, dunia medis kini menawarkan inovasi berupa GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA). Inovasi ini bekerja dengan cara meniru hormon alami tubuh untuk mengatur sinyal lapar dan kenyang langsung di pusat pengaturan otak.
Melalui pendekatan klinis ini, sinyal rasa kenyang dapat ditingkatkan sementara keinginan makan yang impulsif dapat ditekan. Dengan demikian, seseorang bisa memiliki kontrol yang lebih baik atas pola makannya tanpa harus terus-menerus berperang dengan pikiran sendiri. Memahami food noise adalah langkah awal yang bijak untuk mencapai keseimbangan antara kesehatan fisik dan ketenangan mental.