Ikuti Kami
kabarmalam.com

Bukan Karena Seblak, Inilah Pemicu Utama Kista Ovarium yang Sering Diabaikan Wanita

Wahid | kabarmalam.com
Sabtu, 09 Mei 2026 16:34 WIB
Bukan Karena Seblak, Inilah Pemicu Utama Kista Ovarium yang Sering Diabaikan Wanita

Kabarmalam.com — Isu mengenai kista ovarium seringkali menjadi momok menakutkan bagi kaum hawa. Di tengah hiruk-pikuk informasi media sosial, banyak yang menuding konsumsi makanan pedas seperti seblak sebagai biang keladinya. Namun, benarkah fakta medis mendukung klaim tersebut? Pakar kesehatan justru menunjuk ke arah lain: kebiasaan sehari-hari yang sering kita anggap sepele.

Memahami Dua Wajah Kista Ovarium

dr. Med. Firman Santoso, SpOG, seorang spesialis Obstetri & Ginekologi dari Brawijaya Hospital, memberikan pencerahan bahwa tidak semua kista bersifat membahayakan. Secara medis, kista ovarium terbagi menjadi dua kategori besar: fungsional dan disfungsional.

Kista fungsional sebenarnya adalah bagian alami dari siklus menstruasi wanita yang masih dalam masa subur. “Setiap bulan, sel telur yang matang akan dihasilkan. Inilah yang kita sebut kista fungsional. Ia bersifat hormonal, muncul dan menghilang dengan sendirinya hingga seorang wanita memasuki masa menopause,” ungkap dr. Firman saat berbincang hangat mengenai kesehatan reproduksi.

Baca Juga  Ancaman 'Silent Killer' di Balik Piring Kita: Mengapa Gagal Ginjal Kian Menghantui Indonesia?

Bahaya Kista Disfungsional dan Mitos ‘Santet’

Masalah baru muncul ketika kista yang terbentuk bersifat disfungsional atau tidak normal. Jenis inilah yang sering mengganggu kualitas hidup dan memerlukan perhatian medis serius. Salah satu yang paling umum ditemui adalah endometriosis. Selain itu, ada pula kista dermoid yang bentuknya sering disalahpahami oleh masyarakat awam.

Menariknya, kista dermoid sering kali dikaitkan dengan hal-hal mistis karena isinya yang tak lazim, seperti jaringan rambut, gigi, hingga tulang. “Masyarakat kita kadang mengira itu kiriman santet, padahal itu murni kista bawaan yang memang memiliki komponen jaringan tubuh manusia di dalamnya,” tambah dr. Firman yang telah mengantongi pengalaman internasional selama 14 tahun tersebut.

Baca Juga  Rahasia Kebugaran Donald Trump: Alergi Olahraga Berat tapi Tetap Energik di Usia Senja

Gaya Hidup: Musuh Dalam Selimut

Alih-alih menyalahkan satu jenis camilan secara spesifik, dr. Firman menekankan bahwa kista disfungsional lebih erat kaitannya dengan gaya hidup secara menyeluruh. Bagi wanita di rentang usia produktif, yakni 20 hingga 50 tahun, risiko ini meningkat drastis jika abai terhadap pola hidup sehat.

Pemicu utamanya bukan sekadar makanan pedas, melainkan kondisi obesitas, kurangnya aktivitas fisik, hingga pola makan yang didominasi oleh karbohidrat berlebih dan asupan tinggi gula (high sugar), namun sangat minim protein. Faktor-faktor inilah yang menjadi ‘bahan bakar’ bagi pertumbuhan kista jenis mucinous cystadenoma maupun serous cystadenoma.

Solusi Medis Modern: Tanpa Bedah Besar

Kabar baiknya, kemajuan teknologi medis kini memungkinkan penanganan kista dengan risiko minimal melalui prosedur laparoskopi. Ini adalah metode operasi minimal invasif yang hanya memerlukan sayatan sangat kecil untuk mengangkat massa kista secara akurat.

Baca Juga  Sering Begadang dan Ngopi? Awas, Penyakit 'Tua' Ini Kini Incar Anak Muda Sampai Rusak Lambung!

“Teknik ini menggunakan kamera khusus dan hanya membutuhkan lubang kecil berukuran sekitar 5 mm. Keunggulannya, pasien bisa pulih jauh lebih cepat. Bayangkan, hanya satu atau dua hari pasca-operasi, pasien biasanya sudah diperbolehkan pulang,” jelasnya menutup pembicaraan.

Meski teknologi sudah canggih, kewaspadaan tetap menjadi kunci utama. Terutama bagi wanita usia lanjut di atas 60 tahun, kemunculan kista harus segera diperiksakan untuk mengantisipasi kemungkinan kanker ovarium stadium awal yang lebih berbahaya.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid