Waspada Hantavirus: Mengintip Jejak Sebaran dan Risiko Kasusnya di Indonesia
Sabtu, 09 Mei 2026 06:34 WIB
Kabarmalam.com — Fenomena kesehatan global kembali menjadi sorotan tajam setelah munculnya laporan mengenai infeksi hantavirus yang merenggut nyawa di kapal pesiar mewah MV Hondius beberapa waktu lalu. Namun, siapa sangka jika ancaman virus ini ternyata sudah lebih dulu merayap masuk ke wilayah Indonesia. Berdasarkan data terkini, tanah air tercatat tidak luput dari serangan kelompok virus zoonosis yang umumnya dibawa oleh hewan pengerat ini.
Antara MV Hondius dan Kondisi di Indonesia
Dunia sempat dikejutkan dengan kabar meninggalnya tiga orang penumpang kapal MV Hondius akibat infeksi hantavirus tipe ‘Andes virus’. Korban yang terdiri dari pasangan suami istri asal Belanda dan seorang warga Jerman ini menjadi bukti nyata keganasan virus tersebut. Hingga awal Mei 2026, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi bahwa lima dari delapan suspek di kapal tersebut dinyatakan positif terjangkit.
Di Indonesia sendiri, Kementerian Kesehatan RI melaporkan setidaknya terdapat 23 kasus hantavirus yang tersebar di sembilan provinsi dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Dari angka tersebut, terdapat tiga kasus kematian yang mencatatkan tingkat fatalitas sekitar 13 persen. Namun, perlu dicatat bahwa jenis yang mendominasi di Indonesia adalah Seoul virus, yang secara karakteristik berbeda dengan Andes virus yang mewabah di Amerika Selatan.
Membedakan Jenis dan Cara Penularan
Masyarakat tidak perlu panik berlebihan, namun tetap harus meningkatkan kewaspadaan. Perbedaan mendasar terletak pada pola transmisinya. Jika Andes virus dikenal mampu menular antarmanusia, maka jenis Seoul virus yang ditemukan di Indonesia umumnya ditularkan melalui kontak langsung dengan tikus atau celurut. Penularan ini bisa terjadi melalui gigitan, sekresi (saliva), ekskresi (urine dan feses), hingga inhalasi aerosol atau menghirup debu yang telah terkontaminasi kotoran hewan pengerat tersebut.
Data statistik menunjukkan fluktuasi kasus yang cukup dinamis. Tahun lalu menjadi puncak temuan dengan 17 kasus, sementara pada tahun 2024 hanya dilaporkan 1 kasus, dan hingga pertengahan 2026 ini sudah tercatat tambahan 5 kasus baru.
Peta Sebaran Kasus di Sembilan Provinsi
Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan, Pulau Jawa menjadi episentrum utama persebaran virus ini. DKI Jakarta menempati urutan teratas dengan jumlah kasus terbanyak. Berikut adalah detail sebaran wilayah yang terdampak:
- DKI Jakarta: 6 kasus
- DIY (Yogyakarta): 6 kasus
- Jawa Barat: 5 kasus
- Sumatera Barat: 1 kasus
- Banten: 1 kasus
- Jawa Timur: 1 kasus
- Nusa Tenggara Timur (NTT): 1 kasus
- Kalimantan Barat: 1 kasus
- Sulawesi Utara: 1 kasus
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menjelaskan bahwa dari 23 pasien positif, 20 di antaranya telah dinyatakan sembuh. Beliau juga menekankan bahwa risiko importasi kasus Andes virus ke Indonesia masih tergolong rendah karena jenis tersebut lebih terbatas di wilayah Amerika Selatan.
Kelompok Pekerjaan yang Paling Berisiko
Mengingat penularannya bersumber dari lingkungan yang kurang higienis atau sarang tikus, beberapa profesi memiliki risiko lebih tinggi untuk terpapar infeksi virus ini. Mereka yang sering bersinggungan langsung dengan reservoir virus adalah:
- Petugas kebersihan dan pengendali hama (pest control)
- Para petani di area persawahan
- Pekerja konstruksi dan pembersih selokan
- Pekerja laboratorium yang menangani sampel hewan pengerat
Faktor komorbid atau penyakit penyerta seperti kanker hati dan kegagalan multiorgan juga disebut menjadi pemicu tingginya angka kematian pada beberapa kasus yang ditemukan. Oleh karena itu, menjaga kebersihan lingkungan rumah dan tempat kerja dari keberadaan tikus menjadi langkah preventif paling krusial yang bisa dilakukan saat ini.