Antisipasi Virus Andes: Pakar IDAI Tegaskan Belum Terdeteksi di Indonesia
Jumat, 08 Mei 2026 15:34 WIB
Kabarmalam.com — Isu penyebaran virus Andes yang merupakan varian dari keluarga Hantavirus tengah menjadi sorotan dunia, terutama setelah munculnya laporan wabah di kapal pesiar mewah MV Hondius. Meski memicu kekhawatiran global, pakar infeksi penyakit tropik dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Dominiscus Husada, memastikan bahwa hingga saat ini jenis virus tersebut belum ditemukan di tanah air.
Dalam keterangan resminya, Prof. Dominiscus menjelaskan bahwa virus Andes secara spesifik memiliki pola persebaran yang terbatas. Menurutnya, sejauh ini laporan kasus hanya terkonsentrasi di wilayah Amerika Selatan, khususnya di negara Argentina dan Chili. Hal ini memberikan sedikit napas lega bagi masyarakat Indonesia, meski kewaspadaan tetap menjadi prioritas utama.
Pentingnya Skrining di Pintu Masuk Negara
Walaupun belum terdeteksi di Indonesia, langkah antisipasi tidak boleh kendur. Prof. Dominiscus menekankan perlunya pengawasan ketat di gerbang-gerbang utama internasional seperti pelabuhan dan bandara. Skrining ini menyasar para pelaku perjalanan yang memiliki riwayat kunjungan ke wilayah terdampak wabah.
Beliau juga menegaskan bahwa pemantauan gejala fisik saja tidaklah cukup. “Langkah diagnosis awal harus dilakukan melalui pengujian laboratorium yang akurat untuk memastikan status kesehatan seseorang,” ungkapnya. Hal ini penting mengingat deteksi dini adalah kunci dalam memutus rantai penularan infeksi tropik sebelum meluas ke masyarakat.
Perbedaan Karakteristik dengan COVID-19
Banyak masyarakat yang khawatir jika virus ini akan menjadi pandemi baru layaknya COVID-19. Namun, Prof. Dominiscus memberikan edukasi bahwa pola penyebaran Hantavirus yang ada di Indonesia cenderung berbeda dan tidak semudah transmisi virus korona. Secara umum, penularan terjadi melalui kontak erat dengan hewan pengerat, meski virus Andes sendiri memang dikenal unik karena memiliki kemampuan menular antarmanusia.
Sebagai informasi tambahan, meskipun virus Andes belum masuk, Indonesia sebenarnya telah mencatatkan 23 kasus Hantavirus jenis lain yang tersebar di sembilan provinsi, dengan DKI Jakarta sebagai wilayah dengan laporan terbanyak. Oleh karena itu, penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tetap menjadi senjata paling ampuh untuk menangkal berbagai risiko wabah penyakit.
Belajar dari Protokol Kesehatan Singapura
Dalam upaya menangkal ancaman virus ini, Prof. Dominiscus mengajak pemerintah untuk berkaca pada protokol ketat yang diterapkan oleh Singapura. Sebagai contoh, negara tetangga tersebut melakukan isolasi mandiri dan tes berulang terhadap penumpang kapal MV Hondius hingga mereka benar-benar dinyatakan negatif.
Masyarakat pun dihimbau untuk tetap tenang namun tetap menjaga kebersihan lingkungan agar tidak menjadi sarang hewan pengerat. Dengan kewaspadaan kolektif dan protokol kesehatan yang disiplin, risiko penularan penyakit tropik ini diharapkan dapat terus ditekan seminimal mungkin.