Ikuti Kami
kabarmalam.com

Waspada! Hantavirus Mengintai di Balik Hobi Outdoor, Ini Penjelasan Lengkap Kemenkes RI

Wahid | kabarmalam.com
Jumat, 08 Mei 2026 19:35 WIB
Waspada! Hantavirus Mengintai di Balik Hobi Outdoor, Ini Penjelasan Lengkap Kemenkes RI

Kabarmalam.com — Ancaman kesehatan tidak selalu datang dari keramaian kota, terkadang ia bersembunyi di balik kesegaran udara pegunungan atau aktivitas luar ruangan yang kita gemari. Belakangan, perhatian publik tertuju pada Hantavirus setelah munculnya wabah di kapal pesiar MV Hondius. Namun, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengungkapkan fakta penting: Indonesia memiliki tantangan tersendiri dengan jenis virus yang berbeda.

Bukan Virus Andes, Indonesia Waspadai Seoul Virus

Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, Kemenkes RI mencatat setidaknya ada 23 kasus Hantavirus yang terdeteksi di tanah air. Berbeda dengan kasus internasional yang melibatkan Andes Virus, seluruh temuan di Indonesia dikonfirmasi sebagai jenis Seoul Virus. Perbedaan utamanya terletak pada cara penularan; jika Andes Virus bisa menular antarmanusia, Seoul Virus sangat bergantung pada kontak dengan tikus sebagai inang utama.

Baca Juga  Pastikan Keamanan Pangan, BPOM Sidak 5 Dapur Program Makan Bergizi Gratis di Jakarta Meski Anggaran Terbatas

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman, menjelaskan bahwa risiko penularan sangat erat kaitannya dengan interaksi manusia terhadap sumber infeksi. “Kontak dengan sumber infeksi ini sering kali berkaitan dengan hobi olahraga atau wisata alam seperti mendaki gunung, berkemah, dan aktivitas luar ruangan lainnya,” ujarnya pada Kamis (7/5/2026).

Mengapa Mendaki dan Berkemah Berisiko?

Bagi para pecinta alam, risiko terpapar meningkat ketika berada di area dengan sanitasi minim yang menjadi habitat tikus liar. Penularan tidak hanya terjadi melalui gigitan langsung, tetapi bisa melalui hal-hal yang tidak terlihat mata, seperti:

  • Menghirup aerosol atau partikel debu yang terkontaminasi urine, feses, atau air liur tikus.
  • Menyentuh benda yang telah terpapar sekresi tikus lalu menyentuh area wajah.
  • Berada di bangunan kosong atau gudang logistik di jalur pendakian yang jarang dibersihkan.
Baca Juga  Waspada Bahaya Logam Berat, Ini Cara Efektif Detoks Tubuh Usai Terlanjur Makan Siomay Ikan Sapu-sapu

Selain wisatawan, sejumlah profesi juga masuk dalam kategori risiko tinggi. Para pekerja yang berkecimpung di bidang layanan kebersihan, petani, pekerja konstruksi, pengendali hama, hingga petugas laboratorium yang menangani hewan pengerat harus ekstra waspada terhadap potensi penularan virus ini.

Data Kasus dan Tingkat Kematian

Dari total 23 kasus yang tercatat, mayoritas pasien dinyatakan berhasil sembuh. Namun, terdapat tiga kasus kematian yang dilaporkan, sehingga Case Fatality Rate (CFR) untuk Seoul Virus di Indonesia berada di angka sekitar 13 persen. Kematian ini biasanya tidak berdiri sendiri, melainkan dipicu oleh kondisi ko-infeksi atau komplikasi berat seperti kanker hati dan kegagalan multiorgan.

Hingga tahun 2026, persebaran kasus ini mencakup 9 provinsi di Indonesia, dengan DKI Jakarta dan DI Yogyakarta menjadi wilayah dengan temuan terbanyak. Berikut adalah rincian persebarannya:

  • DKI Jakarta: 6 kasus
  • DI Yogyakarta: 6 kasus
  • Jawa Barat: 5 kasus
  • Sumatera Barat, Banten, Jawa Timur, NTT, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara: Masing-masing 1 kasus
Baca Juga  Misteri Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius, Argentina Selidiki Titik Nol Penularan

Kabar Baik: Belum Ada Penularan Antarmanusia

Meskipun masyarakat diminta tetap waspada, Kemenkes memberikan catatan menenangkan bahwa hingga saat ini belum ditemukan bukti adanya penularan Hantavirus antarmanusia di wilayah Indonesia. Risiko masuknya Andes Virus dari luar negeri juga dinilai masih sangat rendah dan terbatas pada wilayah tertentu seperti Amerika Selatan.

Sebagai langkah antisipasi, menjaga kebersihan lingkungan dan memastikan area tempat tinggal maupun area berkemah bebas dari tikus adalah kunci utama dalam mencegah masalah kesehatan yang disebabkan oleh Hantavirus ini.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid