Ikuti Kami
kabarmalam.com

Pastikan Keamanan Pangan, BPOM Sidak 5 Dapur Program Makan Bergizi Gratis di Jakarta Meski Anggaran Terbatas

Wahid | kabarmalam.com
Kamis, 30 Apr 2026 10:34 WIB
Pastikan Keamanan Pangan, BPOM Sidak 5 Dapur Program Makan Bergizi Gratis di Jakarta Meski Anggaran Terbatas

Kabarmalam.com — Komitmen nyata ditunjukkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI dalam menjamin kualitas asupan bagi masyarakat. Di tengah tantangan keterbatasan anggaran pengawasan, Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, memilih untuk turun langsung ke lapangan guna melakukan inspeksi mendadak (sidak) di lima lokasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah DKI Jakarta pada Kamis (30/4/2026).

Langkah progresif ini diambil untuk mengawal langsung rantai produksi program makan bergizi gratis (MBG) yang menjadi salah satu pilar kebijakan Presiden Prabowo Subianto. Sidak dilakukan secara komprehensif, mencakup aspek hulu hingga hilir, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan di dapur, teknik pengemasan, hingga prosedur distribusi ke tangan penerima manfaat.

Menyisir Dapur Gizi di Jantung Ibu Kota

Salah satu titik utama yang menjadi sasaran tinjauan adalah SPPG Tebet Manggarai Selatan. Fasilitas yang dikelola oleh Yayasan Bina Siwi Oku Timur ini melayani kebutuhan gizi bagi sedikitnya 2.858 orang. Taruna menegaskan bahwa kehadiran BPOM bertujuan memastikan setiap porsi makanan memenuhi standar keamanan pangan, higiene, dan sanitasi yang ketat.

Baca Juga  Mengenal Tren Food Order: Benarkah Urutan Makan Bisa Menjinakkan Lonjakan Gula Darah?

“BPOM ingin memastikan program ini berjalan sesuai standar. Makanan yang diterima masyarakat tidak hanya harus bergizi, tetapi juga wajib aman dan bermutu,” ungkap Taruna di sela-sela kegiatannya di Jakarta.

Selain di Tebet, pengawasan dilakukan secara simultan di beberapa titik strategis lainnya, antara lain:

  • Palmerah, Jakarta Barat: Melayani sekitar 4.100 penerima manfaat.
  • Jatinegara Kampung Melayu: Menyasar 2.905 penerima manfaat.
  • Johar Baru Tanah Tinggi: Mencakup 2.260 penerima manfaat.
  • Sunter Jaya: Melayani sebanyak 3.376 penerima manfaat.

Mitigasi Risiko di Tengah Keterbatasan Anggaran

Meski sempat mencuat kabar mengenai anggaran pengawasan yang minim, BPOM tetap mengedepankan pendekatan adaptif berbasis risiko. Fokus utama dari pengawasan ketat ini adalah untuk memitigasi potensi Kejadian Luar Biasa Keamanan Pangan (KLB KP), terutama mengingat skala program MBG yang sangat masif.

Baca Juga  Polemik Anggaran 'Kaos Kaki' vs Pengawasan Makan Bergizi Gratis: BGN Klarifikasi Dana Rp 700 Miliar untuk BPOM

“Monitoring yang konsisten dan respons cepat terhadap temuan di lapangan akan menjadi penentu keberhasilan program ini. Kita harus mencegah risiko insiden keamanan pangan sedini mungkin,” tambah Taruna.

Temuan Lapangan dan Evaluasi Berkelanjutan

Secara garis besar, operasional di lima lokasi SPPG tersebut dinilai telah berjalan sesuai koridor ketentuan. Namun, jurnalis Kabarmalam.com mencatat bahwa BPOM masih menemukan beberapa poin yang memerlukan perbaikan segera. Beberapa catatan kritis tersebut meliputi:

  1. Konsistensi higiene personal petugas dapur.
  2. Sanitasi pada peralatan memasak dan area produksi.
  3. Kedisiplinan sistem pencatatan serta pelabelan bahan baku.
  4. Pengendalian suhu pada penyimpanan pangan untuk menjaga kesegaran.

Temuan-temuan ini telah disampaikan secara langsung kepada pihak pengelola untuk segera diperbaiki. Hasil pemantauan ini juga akan dilaporkan secara formal kepada Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai instrumen evaluasi nasional.

Baca Juga  Krisis Penyakit Ginjal Kronis di Malaysia: Beban Negara Rp 14 Triliun dan Ancaman 'Silent Killer'

“Kehadiran kami bukan untuk mencari-cari kesalahan, melainkan sebagai upaya perbaikan berkelanjutan (continuous improvement) agar program MBG semakin berkualitas. Sinergi antarlembaga adalah kunci agar manfaat program ini dirasakan tanpa risiko kesehatan bagi masyarakat,” pungkas Taruna.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid