Ikuti Kami
kabarmalam.com

Terobosan Medis Masa Depan, Kepala BPOM Prof Taruna Ikrar Soroti Potensi Besar Gene Therapy di Malaysia

Wahid | kabarmalam.com
Minggu, 24 Mei 2026 19:34 WIB
Terobosan Medis Masa Depan, Kepala BPOM Prof Taruna Ikrar Soroti Potensi Besar Gene Therapy di Malaysia

Kabarmalam.com — Gelora inovasi di dunia kesehatan kembali berdenyut kencang saat Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. Taruna Ikrar, melangkah di panggung akademik internasional. Pada sebuah seremoni khidmat di Kuala Lumpur, Malaysia, sosok ilmuwan ternama ini resmi menyandang tugas akademik baru sebagai Adjunct Professor dalam bidang Advanced Cell Gene Therapy Pharmacology di UTM Space, Sabtu (23/5/2026).

Pengukuhan ini bukan sekadar gelar kehormatan biasa. Kehadiran Prof. Taruna di hadapan para akademisi, pejabat pemerintah, serta perwakilan diplomatik dari kedua negara menjadi simbol kuat kolaborasi ilmu pengetahuan antara Indonesia dan Malaysia. Penghargaan ini menjadi buah manis dari dedikasi panjangnya selama lebih dari dua dekade dalam mengeksplorasi labirin biomedis, neurosains, hingga pemetaan otak (brain mapping).

Visi Kemanusiaan di Balik Farmakologi

Dalam orasi akademiknya, Prof. Taruna mengingatkan kembali inti dari perkembangan teknologi kesehatan. Bagi beliau, kemajuan sains tak boleh hanya menjadi deretan angka di atas kertas, melainkan harus menyentuh sisi kemanusiaan yang paling mendasar.

Baca Juga  Waspada! BPOM Rilis Daftar 22 Produk Herbal Berbahaya Pemicu Stroke hingga Gagal Ginjal

“Farmakologi sejatinya memiliki satu tujuan sederhana: menyelamatkan nyawa,” tegas Prof. Taruna. Ia menekankan bahwa riset farmakologi modern harus diarahkan untuk memberi dampak nyata bagi kualitas hidup masyarakat luas.

Era Baru Gene Therapy dan Precision Medicine

Salah satu poin krusial yang ia soroti adalah pesatnya perkembangan gene therapy atau terapi gen di kancah global. Teknologi ini dipandang sebagai cahaya baru dalam dunia medis karena mampu menyasar akar penyakit secara biologis melalui modifikasi atau penggantian fungsi gen yang rusak.

Beberapa poin penting yang disampaikan dalam forum tersebut antara lain:

  • Akurasi Medis: Terapi gen membuka pintu menuju pengobatan yang lebih presisi atau precision medicine.
  • Hilirisasi Riset: Inovasi tidak boleh berhenti di laboratorium atau sekadar menjadi arsip jurnal, melainkan harus menjadi solusi nyata bagi pasien.
  • Integrasi AI: Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di sektor kesehatan perlu terus dioptimalkan guna mempercepat proses penemuan obat dan terapi baru.
Baca Juga  Pastikan Keamanan Pangan, BPOM Sidak 5 Dapur Program Makan Bergizi Gratis di Jakarta Meski Anggaran Terbatas

Regulasi Sebagai Penjaga Harapan

Meski penuh antusiasme terhadap teknologi, Prof. Taruna yang memimpin BPOM RI ini menegaskan bahwa inovasi harus berjalan beriringan dengan tata kelola regulasi yang ketat. Menurutnya, regulasi bukanlah penghambat, melainkan pelindung bagi keselamatan publik.

“Regulasi adalah tentang menjaga harapan (regulations are about protecting hope),” tuturnya puitis namun sarat makna. Ia memastikan bahwa setiap vaksin, obat, maupun metode terapi baru yang masuk ke pasar harus melalui kajian ilmiah berbasis bukti (evidence-based) untuk menjaga kepercayaan masyarakat.

Ambisi Asia Tenggara di Panggung Global

Lebih jauh, Prof. Taruna mengajak negara-negara di kawasan Asia Tenggara untuk bangkit dan tidak hanya menjadi penonton atau konsumen teknologi kesehatan global. Ia memimpikan ekosistem farmasi dan bioteknologi yang mandiri di kawasan regional.

Baca Juga  Update Anggaran Makan Bergizi Gratis: BPOM Masih Menanti Kucuran Dana Rp700 Miliar dari BGN

Dalam kunjungannya tersebut, Prof. Taruna didampingi oleh sang istri, Ny. Elfi Taruna Ikrar, serta jajaran petinggi BPOM seperti William Adi Teja. Acara ini juga dihadiri oleh Wakil Menteri Tenaga Kerja RI Afriansyah Noor dan Bupati Tanah Bumbu Andi Rudi Latif, yang semakin mempertegas dukungan lintas sektor terhadap penguatan inovasi kesehatan nasional di mata dunia.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid