Benarkah Pemilik Golongan Darah O Lebih Rentan Kolesterol? Ini Penjelasan Medis Dosen IPB
Minggu, 14 Jun 2026 16:34 WIB
Kabarmalam.com — Anggapan mengenai kaitan antara jenis golongan darah dengan risiko penyakit tertentu sering kali memicu perdebatan di tengah masyarakat. Salah satu narasi yang paling sering terdengar adalah klaim bahwa pemilik golongan darah O memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap lonjakan kolesterol tinggi. Namun, apakah klaim ini didukung oleh fakta medis yang kuat atau sekadar mitos kesehatan belaka?
Tinjauan Medis dari Ahli IPB University
Menanggapi fenomena tersebut, dr. Christy Efiyanti, SpPD, seorang dokter spesialis penyakit dalam yang juga aktif sebagai dosen di Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, memberikan sudut pandang profesionalnya. Menurutnya, hingga detik ini belum ada konsensus atau bukti ilmiah yang benar-benar solid untuk mengategorikan golongan darah tertentu sebagai faktor risiko utama kolesterol.
“Beberapa studi memang sempat menemukan adanya kecenderungan kadar kolesterol yang lebih tinggi pada individu dengan golongan darah O jika dibandingkan dengan kelompok ABO lainnya. Namun, penting untuk dicatat bahwa ada pula penelitian tandingan yang menunjukkan tidak adanya kaitan signifikan antara golongan darah dengan profil lemak darah seseorang,” ungkap dr. Christy.
Hasil penelitian yang masih bersifat variatif dan kontradiktif ini membuat parameter golongan darah tidak bisa dijadikan tolok ukur medis dalam memprediksi risiko kolesterol tinggi pada seseorang.
Gaya Hidup Adalah Penentu Utama
Ketimbang terlalu mencemaskan faktor genetika berupa golongan darah, dr. Christy menekankan bahwa gaya hidup sehat memegang peranan yang jauh lebih krusial. Kolesterol tinggi lebih sering dipicu oleh akumulasi kebiasaan sehari-hari yang kurang tepat, seperti:
- Konsumsi makanan yang kaya akan lemak jenuh secara berlebihan.
- Kurangnya aktivitas fisik atau gaya hidup sedenter.
- Kondisi obesitas atau berat badan berlebih.
- Kebiasaan merokok serta konsumsi alkohol yang tidak terkontrol.
Selain faktor perilaku, dr. Christy juga mengingatkan adanya pengaruh dari kondisi medis lain. Penyakit seperti diabetes, gangguan pada organ ginjal, masalah hati, hingga disfungsi kelenjar tiroid dapat menjadi katalisator meningkatnya kadar kolesterol dalam tubuh.
Faktor Genetik dan Pentingnya Deteksi Dini
Meskipun gaya hidup mendominasi, faktor keturunan tetap tidak bisa diabaikan. Salah satu kondisi yang patut diwaspadai adalah familial hypercholesterolemia, sebuah kelainan genetik yang membuat seseorang memiliki kadar kolesterol sangat tinggi bahkan sejak usia yang masih sangat muda. Selain itu, faktor pertambahan usia dan jenis kelamin juga turut memengaruhi dinamika kadar lemak dalam darah.
Sebagai langkah preventif, dr. Christy menghimbau masyarakat untuk lebih fokus pada tindakan nyata daripada terjebak dalam spekulasi golongan darah. Membatasi konsumsi makanan olahan, rutin berolahraga, dan menjaga berat badan ideal adalah langkah awal yang sangat efektif.
“Sangat disarankan untuk melakukan medical check-up secara berkala. Deteksi dini adalah kunci agar jika ditemukan masalah kesehatan, penanganan dapat segera diberikan sebelum kondisi berkembang menjadi lebih serius dan sulit untuk diobati,” pungkasnya dalam sebuah pesan edukatif bagi masyarakat.