Ikuti Kami
kabarmalam.com

Waspada ‘Jebakan Batman’ Klaim Less Sugar, Nutri Level Jadi Panduan Baru Konsumen Cerdas

Wahid | kabarmalam.com
Jumat, 05 Jun 2026 19:35 WIB
Waspada 'Jebakan Batman' Klaim Less Sugar, Nutri Level Jadi Panduan Baru Konsumen Cerdas

Kabarmalam.com — Belakangan ini, label ‘less sugar’ atau rendah gula menjadi daya tarik utama bagi masyarakat yang mulai peduli pada kesehatan. Namun, di balik kemasan yang terlihat sehat tersebut, tersembunyi risiko yang tidak main-main. Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) secara terbuka menyebutkan bahwa klaim tersebut seringkali hanyalah ‘jebakan batman’ yang bisa menyesatkan persepsi konsumen.

Mengapa Klaim ‘Less Sugar’ Bisa Menyesatkan?

Ketua BPKN, Mufti Mubarok, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap maraknya penggunaan istilah pemasaran yang tidak memberikan kepastian. Menurutnya, label ‘less sugar’ memang menyiratkan pengurangan kadar gula, namun tidak ada standar pasti seberapa jauh pengurangan tersebut dilakukan. “Bagi konsumen mungkin sedikit membantu karena ada pengurangan sekian persen, tetapi menurut kami ini tetap menjadi jebakan batman,” tegas Mufti dalam sebuah diskusi bertajuk ‘Jebakan Hidden Sugar’.

Baca Juga  Bukan Sekadar Melangkah, Ini 5 Strategi Jalan Kaki Efektif untuk Turunkan Berat Badan

Ia menambahkan bahwa meski kadar gula dikurangi, produsen terkadang menambah komponen lain seperti zat pengawet atau bahan tambahan pangan lainnya untuk menjaga cita rasa produk makanan tetap konsisten. Inilah yang membuat istilah-istilah pemasaran tersebut ibarat ‘hantu’—terasa ada namun standar kepastiannya tidak jelas bagi masyarakat umum.

Nutri Level: Sistem Navigasi Gizi yang Lebih Transparan

Sebagai solusi atas kebingungan ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bersama Kementerian Kesehatan telah menyinkronkan standar pelabelan baru yang disebut Nutri Level. Sistem ini dirancang untuk memberikan informasi yang jauh lebih faktual mengenai kandungan Gula, Garam, dan Lemak (GGL) dalam produk kemasan.

Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menjelaskan bahwa Nutri Level menggunakan gradasi warna dan kategori huruf (A, B, C, D) untuk memudahkan identifikasi tingkat kesehatan sebuah produk. Langkah ini diharapkan mampu memandu masyarakat dalam memilih asupan yang mendukung gaya hidup sehat.

  • Label Hijau (Kategori A & B): Menandakan produk tersebut sehat dan aman dikonsumsi secara rutin karena kandungan gulanya rendah.
  • Label Kuning (Kategori C): Menandakan kandungan gula mulai meningkat, sehingga konsumen perlu lebih waspada dan membatasi jumlahnya.
  • Label Merah (Kategori D): Peringatan keras bahwa produk mengandung kadar gula yang sangat tinggi dan sebaiknya dihindari demi kesehatan.
Baca Juga  Rahasia Kelam Anne Hathaway: Berjuang Melawan Katarak Dini Selama Satu Dekade

Langkah Bijak Konsumen: Cek KLIK Sebelum Membeli

Selain memperhatikan Nutri Level, masyarakat juga diimbau untuk tetap waspada terhadap peredaran produk ilegal atau palsu yang kian marak. Taruna Ikrar menekankan pentingnya prosedur ‘Cek KLIK’ sebagai benteng pertahanan utama konsumen sebelum memutuskan untuk membeli atau mengonsumsi sebuah produk.

Prosedur Cek KLIK meliputi pemeriksaan menyeluruh terhadap:

  1. Kemasan: Pastikan wadah produk dalam kondisi utuh, tidak penyok, dan tidak rusak.
  2. Label: Baca informasi nilai gizi dan komposisi bahan dengan saksama.
  3. Izin Edar: Pastikan produk telah terdaftar secara resmi di BPOM untuk menjamin keamanannya.
  4. Kedaluwarsa: Selalu periksa tanggal batas konsumsi agar tidak membahayakan tubuh.

Dengan hadirnya Nutri Level dan pemahaman yang lebih baik mengenai isi label kemasan, diharapkan tidak ada lagi konsumen yang terjebak dalam ambiguitas istilah pemasaran. Transparansi informasi gizi menjadi kunci utama untuk menciptakan masyarakat yang lebih berdaya dan terlindungi dari ancaman penyakit yang dipicu oleh konsumsi gula berlebih secara sembunyi-sembunyi.

Baca Juga  Dibalik Label 'Less Sugar': Mengapa Banyak Minuman Kekinian Tetap Terjerembab di Nutri Level C dan D?
Tentang Penulis
Wahid
Wahid