Ikuti Kami
kabarmalam.com

Dibalik Label ‘Less Sugar’: Mengapa Banyak Minuman Kekinian Tetap Terjerembab di Nutri Level C dan D?

Wahid | kabarmalam.com
Jumat, 15 Mei 2026 07:04 WIB
Dibalik Label 'Less Sugar': Mengapa Banyak Minuman Kekinian Tetap Terjerembab di Nutri Level C dan D?

Kabarmalam.com — Kehadiran sistem pelabelan Nutri Level di berbagai gerai minuman kekinian belakangan ini sukses memicu perbincangan hangat di tengah masyarakat. Namun, di balik upaya transparansi gizi tersebut, muncul sebuah realita yang cukup mengejutkan bagi para pencinta gaya hidup sehat. Banyak yang mendapati bahwa pilihan minuman dengan label less sugar atau bahkan no sugar ternyata tidak otomatis mendapatkan rapor hijau atau kategori A.

Faktanya, sejumlah menu yang diklaim tanpa gula tambahan justru terlempar ke kategori C, bahkan hingga kategori terendah, yakni D. Fenomena ini memaksa kita untuk melihat lebih dalam: apa yang sebenarnya ada di dalam gelas minuman kita?

Paradoks Tanpa Gula di Gerai Populer

Penelusuran di lapangan menunjukkan potret yang kontras. Di gerai Xing Fu Tang misalnya, menu Grape with Green Tea yang dipesan tanpa gula tetap harus puas menyandang predikat kategori C. Lebih ekstrem lagi, menu Ovaltine Milk meski dengan opsi no sugar tetap masuk dalam kategori D. Kondisi serupa juga ditemukan pada lini kopi di Fore Coffee. Menu seperti Triple Peach Americano dan Berry Manuka Americano yang sering dianggap sebagai pilihan ‘lebih ringan’ justru mendarat di level C dan D.

Baca Juga  Mitos Ikan Lele Bengkok Saat Digoreng: Benarkah Tanda Pakan Tak Higienis? Ini Penjelasannya

Mengapa klaim tanpa gula tambahan tidak serta-merta membuat sebuah minuman menjadi sehat secara otomatis? Rahasianya terletak pada metodologi penilaian Nutri Level yang tidak hanya terpaku pada satu variabel saja. Sistem ini melakukan audit menyeluruh terhadap total kandungan gula (termasuk gula alami), lemak jenuh, hingga kadar natrium yang terkandung dalam setiap 100 ml produk.

Gula Alami dan Jebakan Sirup Perasa

Banyak konsumen seringkali keliru mengartikan label no sugar. Dokter spesialis gizi klinik, dr. Tjandraningrum, M.Gizi, SpGK, Subsp.KM, menjelaskan bahwa label tersebut seringkali hanya merujuk pada ketiadaan gula pasir tambahan. Padahal, bahan dasar minuman tersebut mungkin sudah kaya akan gula buah atau fruktosa alami.

Baca Juga  Dapur MBG di NTT Lumpuh Akibat Kelangkaan Elpiji, Program Makan Bergizi Terhenti Sementara

“Walaupun klaimnya no sugar, tetap ada kandungan gula di dalamnya. Pada buah-buahan, terdapat gula alami. Apalagi jika menggunakan sirup perasa buah seperti sirup anggur, itu sudah pasti mengandung gula yang signifikan,” jelasnya saat dihubungi. Selain itu, buah yang sudah diproses menjadi jus atau ekstrak cenderung lebih cepat diserap oleh tubuh dibandingkan buah utuh, yang berpotensi memengaruhi metabolisme tubuh secara instan.

Lemak Tersembunyi di Balik ‘Topping’ Mewah

Selain faktor manis, ada elemen lain yang sering luput dari perhatian: lemak jenuh. Penggunaan campuran seperti krimer, mousse, cheese foam, hingga susu full cream menyumbang angka kalori yang sangat besar. Belum lagi tambahan topping ikonik seperti boba, jelly, atau whipped cream yang semakin memperburuk profil nutrisi minuman tersebut.

Ukuran porsi yang besar juga menjadi variabel penentu. Semakin besar gelas yang Anda pilih, semakin tinggi pula total asupan gula dan lemak yang masuk ke dalam tubuh, meskipun persentase per 100 ml mungkin terlihat kecil. Inilah alasan mengapa sebuah minuman kekinian tetap bisa mendapatkan nilai gizi yang buruk meski kadar gula tambahannya telah ditekan seminimal mungkin.

Baca Juga  Dilema Hidrasi Usai Berlari: Lebih Baik Air Dingin atau Air Hangat? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Nutri Level: Navigasi, Bukan Vonis Matang

Penerapan Nutri Level oleh pemerintah dan pelaku industri sejatinya bertujuan untuk mengedukasi masyarakat agar lebih sadar akan apa yang mereka konsumsi. Namun, label ini sebaiknya digunakan sebagai kompas atau panduan awal, bukan sebagai penentu mutlak sehat atau tidaknya suatu produk secara personal.

Kebutuhan nutrisi setiap individu sangatlah dinamis dan bergantung pada pola makan harian serta aktivitas fisik secara keseluruhan. Kabarmalam.com menyarankan agar para konsumen tidak hanya terpaku pada huruf atau warna pada label, melainkan juga mulai memahami komposisi bahan serta menjaga frekuensi konsumsi agar tetap dalam batas yang wajar. Sehat bukan berarti harus berhenti total, melainkan tentang bagaimana kita mengatur keseimbangan dalam setiap tegukan.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid