Ikuti Kami
kabarmalam.com

Dilema Hidrasi Usai Berlari: Lebih Baik Air Dingin atau Air Hangat? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Wahid | kabarmalam.com
Rabu, 22 Apr 2026 06:35 WIB
Dilema Hidrasi Usai Berlari: Lebih Baik Air Dingin atau Air Hangat? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Kabarmalam.com — Fenomena olahraga lari atau jogging kini bukan sekadar rutinitas sehat, melainkan sudah menjelma menjadi tren gaya hidup yang masif di media sosial. Unggahan mengenai jarak tempuh (route), kecepatan (pace), hingga potret tubuh yang bersimbah keringat seolah menjadi validasi atas sebuah pencapaian personal. Menariknya, banyak individu yang terjun ke dunia lari berawal dari rasa ingin tahu atau sekadar mengikuti arus tren positif alias FOMO (Fear of Missing Out).

Namun, di tengah semangat yang membara tersebut, muncul satu pertanyaan klasik yang sering diperdebatkan di kalangan pelari pemula maupun profesional: Setelah menuntaskan sesi lari, suhu air mineral manakah yang paling ideal untuk dikonsumsi? Apakah air dingin yang menyegarkan, air suhu ruang yang netral, atau justru air hangat yang menenangkan? Ternyata, pilihannya tidak hanya berdasar pada selera, melainkan pada kebutuhan spesifik tubuh saat itu.

Memahami Kondisi Tubuh Pasca-Olahraga

Saat Anda berhenti berlari, tubuh tidak langsung berada dalam kondisi istirahat total. Sebaliknya, organ-organ di dalam tubuh sedang bekerja ekstra keras untuk kembali ke titik keseimbangan (homeostasis). Berdasarkan laporan dalam jurnal Nutrients tahun 2019 yang bertajuk Practical Hydration Solutions for Sport, tubuh kehilangan volume cairan yang signifikan melalui keringat selama olahraga lari berlangsung.

Baca Juga  Dilema Karbohidrat: Benarkah Nasi Merah Lebih 'Sakti' untuk Diet Ketimbang Nasi Putih?

Selain dehidrasi, suhu inti tubuh juga melonjak tajam. Kondisi ini memaksa jantung berdenyut lebih cepat guna menjaga stabilitas aliran darah. Rehidrasi bukan sekadar memuaskan dahaga, melainkan bagian krusial dari proses pemulihan agar detak jantung kembali normal dan suhu tubuh menurun secara bertahap. Di sinilah suhu air yang Anda pilih memainkan peran penting bagi kesehatan tubuh.

Air Hangat: Pilihan Bijak untuk Lambung Sensitif

Mungkin terdengar kurang lazim bagi sebagian orang untuk meneguk air hangat setelah bercucuran keringat. Namun, riset dalam Journal of Physiological Anthropology tahun 2022 memberikan perspektif menarik. Air hangat diketahui jauh lebih bersahabat bagi sistem pencernaan, terutama pada fase awal pemulihan.

Bagi mereka yang memiliki pencernaan sensitif, air dingin terkadang memberikan efek “kejutan” yang memicu rasa tidak nyaman atau kram pada lambung yang masih aktif bekerja. Air hangat membantu proses pengosongan lambung berjalan lebih mulus tanpa beban kontraksi yang berlebihan. Pilihan ini sangat disarankan jika intensitas lari Anda tidak terlalu tinggi atau jika fokus utama Anda adalah menenangkan sistem internal tubuh.

Baca Juga  Insiden Makan Bergizi Gratis di Anambas: 155 Siswa Diduga Keracunan, Dinkes Kirim Sampel ke Batam

Air Suhu Ruang: Standar Hidrasi Paling Aman

Jika Anda mencari jalan tengah, air suhu ruang atau air sejuk dengan suhu sekitar 15 hingga 21 derajat Celsius adalah jawabannya. Rekomendasi dari American College of Sports Medicine menyebutkan bahwa air pada rentang suhu ini cenderung lebih mudah dikonsumsi dalam volume yang besar secara berkelanjutan.

Penting untuk diingat bahwa setelah berolahraga, tubuh membutuhkan kuantitas cairan yang cukup untuk mengganti apa yang hilang. Air suhu ruang terasa ringan di tenggorokan, sehingga memungkinkan pelari untuk minum lebih banyak tanpa merasa cepat kembung. Ini adalah pilihan paling praktis untuk menjaga keseimbangan cairan setelah jogging santai di pagi hari.

Air Dingin: Senjata Melawan Panas Berlebih

Tidak bisa dipungkiri, air dingin seringkali menjadi dambaan utama setelah terpapar terik matahari. Sebuah studi terbaru dalam Frontiers in Sports and Active Living tahun 2025 mengungkapkan bahwa air bersuhu sekitar 5 derajat Celsius sangat efektif untuk menekan kenaikan suhu inti tubuh. Efek pendinginan (cooling effect) ini sangat terasa ketika lari dilakukan dalam durasi lama atau di bawah cuaca yang panas.

Baca Juga  Guncangan di San Siro: Menilik Sisi Gelap Skandal Prostitusi Elite yang Menyeret Bintang Serie A

Namun, air dingin bukan tanpa tantangan. Meski memberikan kesegaran instan, suhu yang terlalu rendah bisa menyebabkan penyempitan pembuluh darah di area tenggorokan bagi sebagian orang. Pilihan ini paling tepat diambil jika tubuh benar-benar terasa “overheat” dan Anda membutuhkan penurunan suhu secara cepat agar terhindar dari risiko heat stroke.

Kesimpulan: Mana yang Harus Dipilih?

Pada akhirnya, Kabarmalam.com merangkum bahwa tidak ada aturan kaku mengenai suhu air minum setelah olahraga. Kuncinya terletak pada mendengarkan sinyal tubuh Anda sendiri. Air sejuk adalah pilihan paling aman untuk konsumsi dalam jumlah banyak, air dingin sangat baik untuk mendinginkan suhu tubuh yang ekstrem, sementara air hangat menjadi penyelamat bagi perut yang sensitif.

Fokus utama Anda harus tetap pada kecukupan rehidrasi. Pastikan Anda mengonsumsi air secara bertahap agar detak jantung perlahan stabil dan rasa lelah pasca-aktivitas fisik dapat segera teratasi dengan baik. Tetap sehat dan teruslah berlari dengan cerdas!

Tentang Penulis
Wahid
Wahid