Hati-hati, Sering Memendam Emosi Ternyata Bisa Picu Kanker: Simak Penjelasan Pakar Onkologi
Sabtu, 23 Mei 2026 18:34 WIB
Kabarmalam.com — Di balik hiruk-pikuk diskusi media sosial yang sering mengaitkan kesehatan mental dengan kondisi fisik, muncul sebuah pertanyaan besar: mungkinkah emosi yang terus-menerus dipendam benar-benar bisa memicu kanker? Isu ini nyatanya bukan sekadar mitos perkotaan, melainkan sebuah fenomena medis yang memiliki landasan ilmiah cukup serius.
Menanggapi keresahan publik tersebut, Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi, Dr. dr. Andhika Rachman, SpPD-KHOM, memberikan pencerahan. Dalam sebuah diskusi di gelaran The 6th Siloam Oncology Summit di Jakarta, ia membenarkan adanya kaitan antara tekanan emosional dengan risiko keganasan sel dalam tubuh. Namun, ia memberikan catatan penting bahwa tidak semua emosi negatif secara otomatis berakhir pada penyakit kanker.
Transformasi Emosi Menjadi Penyakit
Menurut dr. Andhika, jenis emosi yang patut diwaspadai adalah emosi yang sangat mendalam hingga menyebabkan seseorang jatuh ke dalam jurang depresi dan stres berat. Ini bukanlah tipe stres harian yang biasa kita temui di tempat kerja, melainkan tekanan psikologis kronis yang mengganggu keseimbangan sistem internal tubuh.
Lantas, bagaimana mekanismenya? Dr. Andhika menjelaskan bahwa ketika seseorang mengalami depresi hebat, tubuh akan bereaksi dengan melepaskan zat kimia yang disebut sitokin pro-inflamasi. Zat inilah yang kemudian memicu peradangan atau inflamasi di berbagai bagian tubuh.
“Saat tubuh mengalami inflamasi berkepanjangan, suhu tubuh akan meningkat secara internal. Hal ini menyebabkan lingkungan sel berubah secara drastis, yang pada gilirannya dapat memicu mutasi genetik,” jelasnya. Kerusakan genetik inilah yang menjadi awal mula perubahan protein dalam sel, yang jika terus berlanjut, akan berkembang menjadi pertumbuhan sel yang ganas.
Bukan Proses yang Instan
Meskipun ada keterkaitan yang jelas, dr. Andhika menekankan bahwa masyarakat tidak perlu panik secara berlebihan. Proses perubahan dari tekanan kesehatan mental menjadi kanker tidak terjadi dalam semalam. Ini adalah mekanisme yang sangat panjang dan dipengaruhi oleh berbagai variabel lainnya.
Faktor-faktor seperti riwayat keturunan, pola makan yang tidak terjaga, serta paparan zat berbahaya dari lingkungan juga memegang peranan kunci. Artinya, emosi yang dipendam hanyalah salah satu dari sekian banyak faktor risiko yang saling berinteraksi.
Langkah Pencegahan yang Bisa Dilakukan
Sebagai langkah mitigasi, Dr. Andhika menyarankan agar setiap individu lebih sadar akan pentingnya menjaga keseimbangan psikis. Mengelola stres dengan baik bukan lagi sekadar gaya hidup, melainkan kebutuhan medis demi menjaga sel-sel tubuh tetap sehat.
“Pencegahannya bisa dilakukan dengan kontrol stres yang baik. Jangan lupa untuk rutin berolahraga dan sempatkan waktu untuk sekadar jalan-jalan atau melakukan hobi yang menyenangkan. Hal-hal sederhana seperti itu sangat krusial untuk membantu mencegah risiko kesehatan di masa depan,” pungkasnya.
Menjaga gaya hidup sehat yang seimbang antara fisik dan mental tetap menjadi kunci utama dalam meminimalisir segala potensi risiko penyakit kronis di tengah tekanan hidup yang semakin kompleks.