Dapur MBG di NTT Lumpuh Akibat Kelangkaan Elpiji, Program Makan Bergizi Terhenti Sementara
Sabtu, 16 Mei 2026 19:04 WIB
Kabarmalam.com — Kabar kurang sedap datang dari sektor pemenuhan gizi nasional di wilayah timur Indonesia. Sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjadi tulang punggung program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terpaksa menghentikan operasionalnya secara mendadak. Langkah pahit ini harus diambil menyusul terjadinya kelangkaan stok gas elpiji 12 kilogram yang menjadi bahan bakar utama proses produksi makanan.
Krisis energi ini tidak hanya melanda satu titik, melainkan menyebar ke beberapa wilayah strategis di NTT. Berdasarkan data yang dihimpun, penghentian operasional dapur MBG ini berdampak langsung pada layanan di Kabupaten Manggarai, Timor Tengah Utara (TTU), Kota Kupang, Kabupaten Belu, hingga Kabupaten Sumba Barat. Matinya api di dapur-dapur SPPG ini tentu menjadi alarm bagi keberlangsungan distribusi asupan bergizi bagi masyarakat di pelosok.
Kronologi Penghentian Operasional
Dadang Hendrayudha, Deputi Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional (BGN), mengungkapkan bahwa situasi sulit ini mulai dirasakan sejak awal Mei 2026. Menurutnya, penutupan dapur dilakukan secara bertahap seiring dengan habisnya cadangan bahan bakar di masing-masing unit layanan.
“SPPG terpaksa berhenti beroperasi untuk sementara waktu karena pasokan gas di beberapa wilayah di NTT mengalami kelangkaan. Proses penghentian ini sudah berlangsung secara bertahap mulai tanggal 8 Mei 2026,” jelas Dadang saat memberikan keterangan resmi di Jakarta, Rabu (13/5).
Kabupaten Manggarai tercatat sebagai wilayah pertama yang terdampak pada 8 Mei lalu. Keterbatasan stok elpiji yang kian mencekik membuat tim di lapangan tidak memiliki pilihan lain selain menghentikan aktivitas memasak. Kondisi ini kemudian merembet cepat ke daerah lain seperti TTU dan Kota Kupang pada rentang waktu 11 hingga 12 Mei 2026.
Ketergantungan pada Elpiji 12 Kilogram
Salah satu faktor krusial yang menyebabkan layanan Makan Bergizi Gratis ini lumpuh adalah tingginya ketergantungan SPPG pada penggunaan tabung elpiji 12 kilogram. Ukuran ini dianggap paling ideal untuk mendukung volume produksi makanan harian dalam jumlah besar secara efisien.
“Kelangkaan elpiji 12 kilogram ini sangat berdampak pada operasional di lapangan. Akibatnya, beberapa layanan memang belum bisa berjalan secara normal hingga pasokan gas kembali stabil dan tersedia di pasar,” tambah Dadang.
Langkah Antisipasi Pemerintah
Menanggapi situasi genting ini, Badan Gizi Nasional menyatakan terus melakukan pemantauan ketat terhadap pergerakan stok gas di lapangan. Koordinasi intensif dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pihak distributor dan pemerintah daerah, sedang dilakukan demi memastikan rantai pasok energi kembali pulih.
Harapan besar digantungkan agar distribusi gas elpiji segera normal kembali. Pemerintah berkomitmen agar operasional dapur MBG di seantero NTT bisa segera ‘mengebul’ lagi, sehingga hak masyarakat untuk mendapatkan asupan bergizi tidak terhenti lebih lama lagi.