Fenomena Viral Influencer Telan 11 Suplemen Sekaligus: Investasi Kesehatan atau Ancaman Bagi Organ Tubuh?
Sabtu, 06 Jun 2026 10:34 WIB
Kabarmalam.com — Jagat media sosial baru-baru ini diguncang oleh aksi kontroversial seorang influencer yang memamerkan rutinitas menelan 11 jenis suplemen berbeda dalam satu kali waktu. Video tersebut seketika memicu perdebatan sengit di kolom komentar; sebagian memuji langkah tersebut sebagai bentuk dedikasi terhadap gaya hidup sehat, sementara yang lain menaruh kekhawatiran besar akan dampak jangka panjang bagi organ tubuh.
Muncul sebuah pertanyaan besar: apakah mengonsumsi segudang vitamin secara bersamaan benar-benar membuat kita lebih sehat? Atau justru kita sedang memaksa tubuh bekerja melampaui batas normalnya?
Bukan Sekadar Angka, Tapi Kebutuhan Nyata
Menanggapi tren ini, Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. apt. Zullies Ikawati, memberikan pandangan kritisnya. Menurutnya, keamanan dalam mengonsumsi banyak suplemen tidak bisa dipukul rata. Semuanya kembali pada profil kesehatan individu, jenis kandungan, hingga dosis yang masuk ke dalam sistem pencernaan.
“Tidak ada batasan kaku bahwa seseorang hanya boleh minum sekian jumlah suplemen. Yang menjadi poin utama adalah apakah tubuh memang membutuhkan tambahan nutrisi tersebut atau tidak,” ungkap Prof. Zullies. Ia menekankan bahwa suplemen, sesuai namanya, hanyalah pendukung dan bukan pengganti asupan nutrisi utama yang seharusnya didapatkan dari makanan alami.
Risiko Tersembunyi di Balik Label Berbeda
Salah satu ancaman yang sering tidak disadari adalah duplikasi kandungan. Ketika seseorang mengonsumsi multivitamin, penguat imun, hingga suplemen kecantikan secara bersamaan, ada kemungkinan besar zat yang sama masuk berkali-kali ke dalam tubuh.
Sebagai contoh, kelebihan asupan vitamin A dalam jangka panjang dapat mengganggu fungsi hati dan kesehatan tulang. Begitu pula dengan zat besi atau vitamin D yang jika dikonsumsi secara sporadis tanpa pengawasan, justru bisa berubah menjadi racun bagi tubuh. Fenomena ini sering terjadi karena konsumen terjebak pada label produk yang terlihat berbeda, padahal memiliki komposisi yang tumpang tindih.
Saling Serang di Dalam Perut: Interaksi Antar-Mineral
Bukan hanya soal dosis, urusan efektivitas juga menjadi taruhan. Merujuk pada Journal of Trace Elements in Medicine and Biology tahun 2024, beberapa jenis mineral ternyata “bermusuhan” jika diminum secara bersamaan.
Sebut saja kalsium dan zat besi. Keduanya memperebutkan jalur penyerapan yang sama di usus. Jika ditelan bersamaan, penyerapan zat besi justru akan terhambat. Hal ini tentu merugikan bagi mereka yang sedang berjuang mengatasi anemia. Interaksi serupa juga terjadi antara zinc dan tembaga, di mana dosis zinc yang terlalu tinggi bisa menguras cadangan tembaga dalam tubuh, merusak keseimbangan kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Vitamin Larut Lemak: Bom Waktu yang Mengintai
Penting bagi masyarakat untuk memahami perbedaan antara vitamin larut air dan larut lemak. Vitamin larut air (seperti vitamin C dan B) cenderung lebih aman karena sisa yang tidak terserap akan dibuang melalui urine. Namun, vitamin larut lemak seperti A, D, E, dan K justru menetap di jaringan lemak dan hati.
Akumulasi vitamin-vitamin ini bisa berlangsung secara perlahan tanpa gejala awal yang nyata. Oleh karena itu, menelan belasan suplemen tanpa pengetahuan medis yang mumpuni bukanlah sebuah prestasi kesehatan, melainkan sebuah risiko yang tidak perlu.
Kesimpulannya, kecerdasan dalam memilih suplemen jauh lebih berharga daripada kuantitas produk yang dikonsumsi. Sebelum memutuskan untuk mengikuti tren suplemen kesehatan yang viral, ada baiknya melakukan konsultasi dengan ahli medis untuk memastikan bahwa apa yang masuk ke tubuh benar-benar memberikan manfaat, bukan beban tambahan bagi ginjal dan hati.