Alarm Keras dari Kemenkes: Saat Diabetes Mulai Mencengkeram Generasi Muda Indonesia
Sabtu, 06 Jun 2026 08:43 WIB
Kabarmalam.com — Bayang-bayang diabetes kini tak lagi hanya menghantui mereka yang telah memasuki usia senja. Penyakit yang sering dijuluki ‘ibu dari segala penyakit’ ini secara agresif mulai merambah kelompok usia produktif, bahkan anak-anak di Indonesia. Fenomena ini memicu kekhawatiran serius dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, yang melihat adanya pergeseran drastis dalam profil pengidap penyakit gula di tanah air.
Indonesia saat ini menyandang predikat yang cukup memprihatinkan, yakni menempati peringkat kelima dunia dengan jumlah penderita diabetes terbanyak. Data menunjukkan lebih dari 20 juta jiwa penduduk Indonesia hidup berdampingan dengan kondisi ini, dengan prevalensi mencapai 11,3 persen. Namun, angka yang paling mengejutkan adalah lonjakan kasus pada anak-anak yang meroket hingga 70 kali lipat dalam satu dekade terakhir. Tren serupa juga terlihat pada kelompok di bawah usia 40 tahun yang kian rentan terpapar risiko diabetes usia muda.
Gaya Hidup Sedentari dan Jebakan Teknologi
Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, mengungkapkan bahwa biang keladi utama dari tren negatif ini adalah perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin minim aktivitas fisik atau sedentari. Teknologi, meski menawarkan kemudahan, ternyata menjadi pedang bermata dua bagi kesehatan masyarakat.
“Generasi sekarang cenderung sedentari karena segalanya menjadi jauh lebih mudah. Jika dulu untuk makan kita harus berjalan kaki mencari warung, sekarang cukup dengan beberapa ketukan di layar ponsel, makanan sampai dalam hitungan menit,” ujar dr. Nadia dalam sebuah diskusi bertajuk ‘Jebakan Hidden Sugar’. Kemudahan ini membuat kalori yang masuk ke dalam tubuh tidak sebanding dengan energi yang dikeluarkan, memicu obesitas yang menjadi pintu masuk utama diabetes tipe 2.
Mewaspadai ‘Hidden Sugar’ dalam Konsumsi Harian
Selain kurang gerak, ancaman nyata lainnya datang dari kandungan gula tersembunyi atau hidden sugar dalam makanan dan minuman kemasan. dr. Nadia menekankan pentingnya literasi nutrisi bagi masyarakat agar lebih bijak dalam mengatur pola makan sehat. Menurutnya, informasi nilai gizi yang tertera pada label produk harus menjadi acuan untuk membatasi asupan gula harian.
Ia juga memberikan tips sederhana namun esensial mengenai prinsip keseimbangan atau balancing. “Jika hari ini kita sudah mengonsumsi minuman yang manis-manis, maka keesokan harinya asupan gula harus dikurangi secara signifikan. Intinya adalah menjaga keseimbangan antara apa yang masuk dan aktivitas yang dilakukan,” tambahnya.
Visi Menuju 2045: Tantangan Berat di Depan Mata
Para ahli kesehatan memperingatkan bahwa tanpa intervensi yang kuat dan kesadaran kolektif, jumlah penderita diabetes di Indonesia diprediksi akan terus membengkak hingga mencapai angka 28-40 juta jiwa pada tahun 2045. Faktor pemicu seperti konsumsi fast food, minuman berpemanis, stres, hingga kurangnya olahraga rutin menjadi tantangan besar yang harus segera diatasi.
Kemenkes terus mendorong masyarakat untuk kembali pada pilar hidup sehat: memperhatikan kandungan gula dalam setiap asupan, rutin melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit sehari, menjaga berat badan ideal, serta melakukan deteksi dini melalui pemeriksaan kesehatan berkala. Perubahan kecil yang dimulai sejak usia dini akan menjadi investasi tak ternilai bagi kualitas hidup bangsa di masa depan.