Waspada Jebakan Tren Kopi Gula Aren, Kemenkes: Kurangi Konsumsi, Bukan Sekadar Ganti Jenis Gula!
Sabtu, 06 Jun 2026 13:34 WIB
Kabarmalam.com — Di balik aroma harum dan legitnya segelas kopi susu gula aren yang kini menjadi gaya hidup masyarakat urban, tersimpan sebuah narasi kesehatan yang perlu diluruskan. Banyak orang beralih ke gula aren karena dianggap lebih alami dan ‘aman’ dibandingkan gula pasir. Namun, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) justru memberikan catatan kritis terhadap fenomena ini.
Ilusi Kesehatan di Balik Manisnya Gula Aren
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., mengungkapkan bahwa mengganti jenis gula dari pasir ke aren sebenarnya bukanlah solusi ajaib untuk terhindar dari risiko penyakit. Dalam sebuah diskusi bertajuk ‘Jebakan Hidden Sugar’, ia menegaskan bahwa secara prinsip, keduanya memiliki dampak yang serupa bagi tubuh jika dikonsumsi berlebihan.
“Sekarang kan sedang tren mengganti gula pasir menjadi gula aren. Nah, itu sebenarnya tidak ada bedanya,” tutur dr. Nadia. Meski sering diklaim lebih sehat, dr. Nadia menjelaskan bahwa perbedaannya hanya terletak pada proses metabolisme yang sedikit lebih lambat di dalam tubuh. Namun, esensinya tetap sama: gula adalah gula.
Ia mengingatkan para pencinta minuman kekinian agar tidak terjebak dalam rasa aman yang semu. “Yang paling penting itu adalah mengurangi takaran gula, bukan sekadar mengganti jenis gulanya,” tambahnya dengan tegas.
Mengenal Sistem Nutri-Level: Rambu-Rambu Konsumsi Harian
Pemerintah tidak tinggal diam melihat meningkatnya konsumsi gula di masyarakat. Saat ini, Kemenkes tengah menggencarkan edukasi mengenai sistem nutri-level. Kebijakan ini dirancang agar masyarakat lebih melek terhadap kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) dalam setiap produk pangan yang mereka beli.
Melalui sistem pelabelan warna, konsumen diharapkan bisa lebih bijak dalam menentukan gaya hidup sehat mereka. Produk dengan label merah, misalnya, menandakan kandungan yang konsumsinya harus dibatasi secara ketat.
“Kalau hari ini sudah minum produk berlabel merah, nanti sore atau malam jangan lagi. Idealnya cukup satu kali, atau bahkan cukup dua minggu sekali hingga sebulan sekali saja,” papar dr. Nadia. Langkah preventif ini sangat krusial, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat tekanan darah tinggi, faktor obesitas, atau risiko genetik penyakit metabolik.
Ancaman Penyakit Tidak Menular yang Terus Mengintai
Data menunjukkan bahwa tren konsumsi gula yang tak terkendali berkontribusi signifikan terhadap lonjakan kasus penyakit tidak menular (PTM) di Indonesia. Penumpukan gula dalam tubuh yang tidak terpakai sebagai energi akan berubah menjadi lemak dan memicu berbagai gangguan kesehatan serius.
Beberapa kondisi medis yang kini semakin sering menyerang usia muda antara lain:
- Penyakit jantung dan stroke.
- Gangguan fungsi ginjal kronis.
- Perlemakan hati (fatty liver).
- Lonjakan kasus risiko diabetes tipe 2.
Sebagai penutup, Kabarmalam.com mengingatkan bahwa kesehatan jangka panjang dimulai dari apa yang kita konsumsi hari ini. Fokus utama dalam menjaga kebugaran bukanlah mencari alternatif pemanis yang dianggap sehat, melainkan melatih diri untuk mengurangi ketergantungan pada rasa manis dalam asupan harian kita.