Waspada ‘Hidden Sugar’, Ahli Gizi Tekankan Pentingnya Mindful Eating dan Melek Label Nutrisi
Sabtu, 06 Jun 2026 18:04 WIB
Kabarmalam.com — Memanjakan lidah dengan berbagai kuliner kekinian memang mengasyikkan. Namun, di balik lezatnya rasa manis dan gurih yang sering kali membuat ketagihan, tersimpan risiko kesehatan jangka panjang yang patut diwaspadai. Di tengah tren makanan serba manis yang menjamur, sekadar mengejar kenikmatan rasa ternyata tidak lagi cukup untuk menjaga kebugaran tubuh.
Health Communicator dari Kalbe Nutritionals, dr. Laurencia Ardi, MGizi, AIFO-K, memberikan sorotan tajam mengenai fenomena ini. Menurutnya, konsep mindful eating atau makan dengan kesadaran penuh jauh lebih krusial dibandingkan hanya mementingkan faktor kelezatan di lidah. Edukasi mengenai pola makan bijak ini menurutnya harus menjadi gerakan kolektif yang melibatkan banyak pihak.
Sinergi Menghadapi Ancaman Gula Tersembunyi
Strategi utama dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat adalah melalui edukasi yang berkelanjutan. Dr. Laurencia menegaskan bahwa tanggung jawab ini tidak bisa hanya dipikul oleh pelaku industri atau pemerintah semata. Perlu ada kolaborasi erat mulai dari lingkup terkecil, yaitu keluarga.
“Kita harus berkolaborasi; keluarga dan orang tua memiliki peran vital untuk membiasakan pola hidup sehat sejak dini,” ujar dr. Laurencia dalam sebuah forum diskusi kesehatan bertajuk ‘Jebakan Hidden Sugar’. Ia menekankan bahwa langkah pertama yang paling mendasar adalah menerapkan mindful eating. Artinya, setiap individu harus sadar sepenuhnya terhadap apa yang mereka masukkan ke dalam tubuh mereka.
Lebih dari Sekadar Rasa: Pentingnya Berpikir Kritis
Menjalankan mindful eating berarti kita dituntut untuk lebih kritis terhadap zat gizi yang melewati kerongkongan. Rasa memang tetap menjadi prioritas bagi banyak orang, namun jumlah dan kandungan nutrisi yang masuk harus tetap dalam pantauan ketat. Hal ini bertujuan agar kita mengetahui batas aman konsumsi harian agar tidak terjerumus dalam masalah kesehatan di masa depan.
Sebagai perwakilan dari pelaku industri, dr. Laurencia menyebutkan bahwa pihaknya terus berkomitmen mendorong konsumen untuk tidak malas memeriksa Tabel Informasi Nilai Gizi pada setiap produk pangan olahan. “Edukasi terus kami lakukan agar masyarakat selalu melihat nutrition facts sebelum menyantap makanan dalam kemasan,” tambahnya.
Ironi Label Nutrisi yang Sering Terabaikan
Sayangnya, kesadaran untuk membaca label gizi di Indonesia masih tergolong rendah. Padahal, label tersebut merupakan instrumen penting yang telah diatur ketat oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Banyak orang yang masih mengabaikan informasi transparan mengenai kandungan gula, karbohidrat, protein, hingga mikronutrien seperti vitamin dan mineral yang ada pada kemasan.
Dr. Laurencia menyayangkan sikap abai ini, karena label nutrisi sebenarnya berfungsi sebagai panduan untuk mengetahui takaran saji yang pas. Sebagai ilustrasi, ketika seseorang mengonsumsi beberapa keping wafer, ia bisa langsung mengetahui berapa jumlah kalori dan karbohidrat yang telah dikonsumsi jika ia meluangkan waktu sejenak untuk membaca labelnya.
Menghindari ‘Jebakan Batman’ Gula
Minimnya kepedulian masyarakat terhadap label informasi nilai gizi sering kali menjadi pemicu utama asupan gula harian yang berlebih tanpa disadari. Tanpa pemahaman yang baik tentang label nutrisi, seseorang bisa dengan mudah melewati batas aman konsumsi gula yang disarankan, yakni sekitar 5 sendok makan per hari.
Dengan memahami apa yang tertulis di balik kemasan, kita dapat terhindar dari ‘jebakan batman’ atau gula tersembunyi yang sering kali membuat berat badan naik secara tiba-tiba. Melalui kesadaran penuh dan edukasi yang tepat, diharapkan masyarakat Indonesia lebih cerdas dalam memilih asupan demi investasi kesehatan tubuh yang lebih baik di masa depan.