Ikuti Kami
kabarmalam.com

Waspada Rhabdomyolysis: Mengapa Olahraga Berlebihan Justru Bisa Memicu Gagal Ginjal?

Wahid | kabarmalam.com
Sabtu, 06 Jun 2026 05:34 WIB
Waspada Rhabdomyolysis: Mengapa Olahraga Berlebihan Justru Bisa Memicu Gagal Ginjal?

Kabarmalam.com — Olahraga merupakan pilar utama dalam menjaga gaya hidup sehat. Namun, pepatah “segala yang berlebihan itu tidak baik” tampaknya sangat berlaku dalam urusan aktivitas fisik. Alih-alih mendapatkan kebugaran, intensitas latihan yang melampaui batas kemampuan tubuh justru dapat berujung pada kondisi medis serius yang mengancam nyawa.

Kisah nyata datang dari Savanna Stebbins di Amerika Serikat. Keinginannya untuk tetap bugar melalui kelas bersepeda indoor justru membawanya ke ranjang rumah sakit. Dilansir dari berbagai sumber, Savanna didiagnosis menderita rhabdomyolysis setelah melakukan sesi latihan yang terlalu berat. Nasib serupa juga dialami oleh Atrina Lau, seorang wanita asal Malaysia yang harus menjalani perawatan intensif akibat latihan spinning yang ekstrem. Dokter menemukan kadar kreatinin kinase—protein penanda kerusakan otot—dalam tubuh Atrina berada pada level yang sangat berbahaya, menempatkannya pada risiko tinggi gagal ginjal.

Mengenal Rhabdomyolysis: Ketika Otot Menyerah

Lantas, bagaimana mungkin aktivitas yang menyehatkan bisa merusak organ dalam? Fenomena ini dikenal dalam dunia medis sebagai rhabdomyolysis atau sering disebut ‘Rhabdo’. Kondisi ini terjadi ketika jaringan otot mengalami kerusakan hebat akibat kelelahan ekstrem.

Baca Juga  Mengapa Lele Budidaya Hampir Mustahil Diberi Pakan Kotor? Ini Penjelasan Ilmiah dan Logika Bisnisnya

Saat otot hancur, mereka melepaskan zat-zat seperti protein mioglobin dan kreatin kinase ke dalam aliran darah. Masalah muncul ketika protein-protein ini mencapai ginjal. Mioglobin yang berlebihan bertindak sebagai racun yang dapat menyumbat dan merusak sistem filtrasi ginjal, yang jika dibiarkan, akan memicu kegagalan organ tersebut secara permanen.

Niloofar Nobakht, MD, seorang profesor klinis nefrologi dari UCLA Health, menjelaskan bahwa rhabdomyolysis akibat aktivitas fisik biasanya terjadi setelah latihan dengan intensitas yang sangat tinggi di mana otot dipaksa bekerja di luar batas normalnya. “Selain olahraga, trauma fisik langsung seperti kecelakaan atau jatuh juga bisa menjadi pemicunya,” tambahnya.

Siapa yang Berisiko dan Apa Gejalanya?

Meski bisa menyerang siapa saja, rhabdomyolysis lebih sering ditemukan pada atlet, pelari maraton, hingga profesi yang menuntut fisik kuat seperti polisi dan pemadam kebakaran. Sangat penting bagi kita untuk mengenali sinyal darurat yang dikirimkan oleh tubuh.

Baca Juga  Kabar Memburuk dari Istana Thailand: Tiga Tahun Koma, Kondisi Putri Bajrakitiyabha Kian Kritis

Beberapa tanda peringatan rhabdomyolysis yang tidak boleh diabaikan meliputi:

  • Rasa nyeri, kram, atau pegal pada otot yang jauh lebih hebat dari biasanya.
  • Perubahan warna urine menjadi gelap, menyerupai warna teh pekat atau cola.
  • Kelemahan tubuh yang luar biasa hingga tidak mampu menyelesaikan gerakan yang biasanya terasa ringan (intoleransi olahraga).

Perlu diingat bahwa gejala ini tidak selalu muncul seketika. Terkadang, tanda-tanda kerusakan baru terasa beberapa jam hingga beberapa hari setelah sesi olahraga berakhir. Penanganan medis yang cepat adalah kunci utama untuk mencegah komplikasi permanen pada ginjal.

Strategi “Start Low, Go Slow”

Menghadapi tren olahraga intensitas tinggi saat ini, dr. Anita Suyani, SpKO, seorang praktisi kesehatan olahraga, mengingatkan pentingnya prinsip “start low, go slow”. Menurutnya, setiap peningkatan intensitas harus dilakukan secara bertahap untuk memberikan waktu bagi tubuh beradaptasi.

Baca Juga  Jangan Abaikan Bercak di Wajah, Kenali Perbedaan Flek Hitam Biasa dan Gejala Kanker Kulit

“Mendorong diri hingga batas maksimal (push the limit) memang diperbolehkan, asalkan tidak menimbulkan rasa sakit yang tidak wajar. Jika sudah terasa sakit yang menyiksa, itu tandanya tubuh sudah tidak sanggup,” tegas dr. Anita. Ia mencontohkan, bagi seseorang yang sudah lama berhenti berolahraga, jangan langsung mencoba beban yang sama seperti saat masih aktif dulu. Mulailah dari intensitas rendah dan tingkatkan secara perlahan seiring dengan kesiapan fisik.

Kesimpulannya, konsistensi jauh lebih berharga daripada intensitas yang meledak-ledak namun membahayakan. Pastikan Anda mendengarkan alarm alami tubuh agar investasi kesehatan melalui olahraga tidak berakhir di ruang perawatan intensif.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid