Ikuti Kami
kabarmalam.com

Sorotan Tajam Prabowo: Mengapa Telur Dadar Tepung ‘Diharamkan’ dalam Program Makan Bergizi Gratis?

Wahid | kabarmalam.com
Sabtu, 06 Jun 2026 20:34 WIB
Sorotan Tajam Prabowo: Mengapa Telur Dadar Tepung 'Diharamkan' dalam Program Makan Bergizi Gratis?

Kabarmalam.com — Presiden Prabowo Subianto kembali menunjukkan perhatiannya yang sangat detail terhadap kualitas nutrisi dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam sebuah kesempatan di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, sang Presiden memberikan instruksi spesifik yang cukup menarik perhatian publik: melarang penyajian telur dalam bentuk telur dadar yang dicampur tepung untuk anak-anak penerima manfaat.

Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Prabowo menengarai adanya praktik di lapangan di mana telur sering kali diolah dengan campuran tepung yang berlebihan agar ukurannya tampak lebih besar, namun justru mengorbankan nilai gizinya. Menurutnya, kejujuran dalam porsi adalah kunci utama keberhasilan program kesehatan anak nasional ini.

Kritik Pedas Prabowo Soal Siasat Dapur

“Yang kedua, telur jangan bikin dadar. Saya sudah lama jadi orang Indonesia, kalau telur dadar nanti dicampur macam-macam itu. Iya kan? Tepungnya lebih banyak dari telurnya,” tegas Prabowo di hadapan para mitra dan pemangku kepentingan. Sentilan ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah tidak akan menoleransi segala bentuk pengurangan kualitas nutrisi telur demi keuntungan semata.

Baca Juga  Insiden Makan Bergizi Gratis di Anambas: 155 Siswa Diduga Keracunan, Dinkes Kirim Sampel ke Batam

Pernyataan ini sekaligus menyambung kekhawatiran sebelumnya mengenai pembagian daging ayam yang tidak boleh dipotong terlalu kecil—maksimal 14 bagian per ekor—demi memastikan setiap anak mendapatkan asupan protein hewani yang layak.

Bedah Nutrisi: Telur Ceplok vs Telur Dadar Tepung

Secara medis dan gizi, apa yang dikhawatirkan Presiden Prabowo memiliki dasar ilmiah yang kuat. Berdasarkan Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI), sebutir telur ayam adalah sumber pangan padat gizi yang mengandung sekitar 70 kkal energi, 6-7 gram protein, dan 5 gram lemak.

Ketika telur diolah menjadi telur ceplok (mata sapi), integritas proteinnya tetap terjaga. Penambahan kalori hanya terjadi dari minyak goreng, yang meningkatkan total energi menjadi sekitar 110-120 kkal. Namun, ceritanya menjadi sangat berbeda ketika telur masuk ke ranah “dadar tepung”.

Baca Juga  Membedah Nutri Level: Apakah Kopi Susu Kekinian Bakal Masuk Kategori 'Merah'?

Penambahan tepung memang memberikan ilusi visual berupa volume yang lebih besar. Namun, secara substansi, kandungan protein per porsi justru berisiko merosot tajam. Sebagai ilustrasi, jika tiga butir telur dicampur tepung untuk menghasilkan enam potong dadar besar, maka satu anak hanya mendapatkan setengah dari jumlah protein yang seharusnya mereka terima dari satu butir telur utuh.

Risiko Tersembunyi di Balik Campuran Tepung

Selain pengenceran kadar protein, pengolahan telur dadar yang dicampur tepung cenderung menyerap lebih banyak minyak goreng. Hal ini berpotensi meningkatkan asupan lemak jenuh dan kalori kosong tanpa memberikan tambahan zat pembangun yang dibutuhkan untuk pertumbuhan anak.

Dalam konteks program MBG yang dirancang untuk memerangi stunting dan meningkatkan kecerdasan bangsa, kualitas setiap komponen makanan sangatlah krusial. Protein hewani dari telur mengandung asam amino esensial lengkap yang sangat dibutuhkan untuk perkembangan otak dan sistem kekebalan tubuh.

Baca Juga  Kontroversi Anggaran Miliaran Badan Gizi Nasional: Bedah Fakta di Balik Belanja EO Hingga Semir Sepatu

Mengejar Kualitas, Bukan Sekadar Kuantitas

Melalui instruksi ini, Kabarmalam.com melihat adanya pergeseran paradigma dalam pemberian bantuan pangan pemerintah. Fokus kini bukan lagi sekadar membuat anak merasa kenyang, melainkan memastikan sel-sel tubuh mereka mendapatkan nutrisi yang optimal. Penyajian telur secara utuh, baik direbus maupun diceplok, dianggap sebagai cara paling transparan untuk menjamin hak nutrisi anak-anak Indonesia terpenuhi tanpa dikurangi oleh bahan pengisi yang minim manfaat.

Keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada pengawasan di dapur-dapur produksi, memastikan bahwa setiap butir telur benar-benar sampai ke tangan anak Indonesia dalam kondisi kualitas terbaiknya, tanpa harus bersembunyi di balik balutan tepung.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid