Kontroversi Anggaran Miliaran Badan Gizi Nasional: Bedah Fakta di Balik Belanja EO Hingga Semir Sepatu
Selasa, 21 Apr 2026 05:42 WIB
Kabarmalam.com — Sorotan tajam publik kini tengah tertuju pada Badan Gizi Nasional (BGN). Sebagai lembaga yang mengemban misi besar dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), BGN justru menjadi buah bibir lantaran sejumlah pos anggaran belanja yang dinilai tidak bersentuhan langsung dengan piring makan rakyat. Mulai dari penggunaan jasa Event Organizer (EO) yang menelan ratusan miliar, pengadaan motor listrik, hingga belanja semir sepatu yang nilainya cukup fantastis.
Publik mempertanyakan relevansi belanja tersebut dengan upaya peningkatan gizi nasional. Menanggapi polemik yang berkembang, Kepala BGN, Dadan Hindayana, akhirnya memberikan penjelasan komprehensif untuk meluruskan narasi yang beredar di masyarakat terkait anggaran Badan Gizi Nasional.
1. Jasa EO Rp 113 Miliar: Membangun Sistem dari Nol
Salah satu poin yang paling banyak dikritisi adalah alokasi dana sebesar Rp 113 miliar untuk jasa Event Organizer (EO). Dadan menjelaskan bahwa sebagai institusi yang baru seumur jagung, BGN masih dalam fase krusial pembangunan sistem dan tata kelola organisasi. Menurutnya, sumber daya internal BGN saat ini belum sepenuhnya mumpuni untuk mengelola kegiatan berskala nasional secara mandiri.
“BGN adalah lembaga baru yang dibentuk untuk menjalankan program strategis nasional. Kami berada di fase awal pembangunan struktur organisasi. Dalam tahap ini, kami memerlukan dukungan pihak profesional untuk menangani kampanye publik dan sosialisasi nasional yang kompleks,” ungkap Dadan dalam keterangan resminya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa penggunaan pihak ketiga justru membantu menciptakan transparansi anggaran. Dengan melibatkan EO profesional, proses administrasi, pembayaran vendor, hingga pelaporan diklaim menjadi lebih sistematis dan mudah diaudit oleh lembaga pengawas.
2. Pengadaan Motor Listrik: Mobilitas untuk Satuan Pelayanan
Isu lain yang memicu perdebatan adalah pengadaan kendaraan operasional berupa motor listrik. Kendaraan ini dimaksudkan untuk mendukung mobilitas Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lapangan. Dadan menepis anggapan bahwa ini adalah program dadakan, melainkan sudah direncanakan sejak tahun anggaran 2025.
Ia juga meluruskan simpang siur mengenai jumlah unit yang dibeli. Alih-alih 70.000 unit seperti yang dirumorkan, realisasi pengadaan tercatat sebanyak 21.801 unit dari total kontrak 25.644 unit. Sisa anggaran dari unit yang tidak terpenuhi telah dikembalikan ke kas negara.
“Seluruh unit motor listrik ini adalah produk dalam negeri dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mencapai 48,5 persen. Ini merupakan bentuk dukungan kami terhadap industri manufaktur lokal di Citeureup, Jawa Barat,” tamb.ahnya.
3. Belanja Semir dan Sikat Sepatu Rp 1,5 Miliar
Yang terbaru dan paling unik adalah munculnya anggaran belanja semir dan sikat sepatu senilai Rp 1,5 miliar. Dadan menjelaskan bahwa pos ini merupakan bagian dari perlengkapan untuk program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) 2025. Program ini dirancang untuk melatih para sarjana yang akan menjadi ujung tombak pelaksanaan program MBG di berbagai daerah.
Anggaran tersebut tidak dikelola langsung secara komersial, melainkan melalui skema swakelola tipe II yang melibatkan Universitas Pertahanan (Unhan). Dana sebesar Rp 1,52 miliar tersebut dibagi menjadi dua bagian: sekitar Rp 1,25 miliar untuk semir sepatu dan Rp 272 juta untuk sikat semir.
“Ini adalah bagian dari tujuh paket perlengkapan perorangan lapangan (kaporlap) untuk peserta didik SPPI. Mereka disiapkan sebagai komponen pendukung strategis, sehingga kedisiplinan dan kesiapan fisik, termasuk perlengkapan mereka, menjadi bagian dari kurikulum pendidikan,” pungkas Dadan.
Melalui klarifikasi ini, BGN berharap masyarakat dapat melihat gambaran utuh dari pengelolaan dana negara yang dialokasikan. Meskipun menuai pro dan kontra, BGN berkomitmen untuk tetap fokus pada tujuan utama: memastikan perbaikan gizi masyarakat Indonesia dapat tercapai secara efektif dan akuntabel.