Perjuangan Pilu Rizki Nurdiansyah: Kisah Pria Medan yang Harus Kehilangan Bola Mata Akibat Kanker Stadium 3
Minggu, 12 Apr 2026 18:36 WIB
Kabarmalam.com — Sebuah narasi perjuangan hidup yang menyentuh hati tengah menjadi perbincangan hangat di jagat maya. Kisah ini datang dari seorang pemuda asal Medan, Sumatera Utara, bernama Rizki Nurdiansyah (26), yang membagikan perjalanan panjangnya melawan keganasan kanker mata melalui akun TikTok miliknya, @nurdiansyahrizki07. Lewat unggahan tersebut, Rizki menceritakan bagaimana ia harus merelakan salah satu bola matanya diangkat demi mempertahankan nyawa.
Perjalanan medis yang dilalui Rizki bukanlah perkara mudah. Selama empat tahun terakhir, ia terjebak dalam pusaran pengobatan yang sangat melelahkan fisik dan mental. Rizki didiagnosa mengidap tumor ganas yang bersarang di belakang bola matanya, yang kemudian berkembang menjadi kanker stadium 3. Dalam pengakuannya, ia telah melewati 6 kali sesi kemoterapi, mengonsumsi berbagai jenis obat, menjalani 36 kali radiasi dengan dosis penuh, serta naik ke meja operasi sebanyak 4 kali dan menjalani biopsi 2 kali.
Gejala Awal yang Sering Dianggap Remeh
Menoleh ke belakang, Rizki menceritakan bahwa malapetaka ini bermula dari gejala yang tampak biasa. Awalnya, kedua matanya hanya memerah, diikuti dengan gangguan penglihatan yang perlahan mulai samar dan menghitam. Rasa nyeri yang tak tertahankan pun mulai menyerang. Saat pertama kali memeriksakan diri ke klinik, diagnosis awal hanya menduga adanya infeksi bakteri atau dampak dari radiasi ponsel yang berlebihan.
Selain faktor medis, kebiasaan hidup sehari-hari Rizki di masa lalu juga sempat menjadi sorotan tim medis. Pola makan yang sering mengonsumsi junk food serta waktu istirahat yang sangat minim diduga turut memperburuk kondisi kesehatannya. “Gejala yang paling menyakitkan adalah rasa nyeri di bagian mata. Rasa sakit itu membuat saya tidak bisa bekerja karena datangnya tidak terduga, bahkan bisa bertahan seharian penuh,” ungkap Rizki dengan nada getir.
Keputusan Terberat: Pengangkatan Bola Mata
Seiring berjalannya waktu, kondisi fisik matanya kian memburuk dan terus membesar. Pada tahun 2022, diagnosa tumor di belakang mata telah dipastikan. Puncaknya terjadi pada tahun 2024, setelah melalui berbagai upaya pengobatan yang tak kunjung memberikan hasil maksimal, dokter memutuskan untuk melakukan tindakan eviserasi atau pengangkatan bola mata.
Keputusan ini menjadi titik terberat dalam hidup Rizki. Terlebih lagi, tim medis menyatakan bahwa dirinya tidak diperbolehkan menggunakan bola mata palsu, sehingga lubang matanya harus ditutup rapat secara permanen. Pasca-operasi besar tersebut, ia bahkan harus kembali menjalani operasi tambahan karena jahitan yang sempat terlepas, menambah panjang daftar penderitaan yang ia rasakan dalam upaya perawatan kanker tersebut.
Mental yang Runtuh di Tengah Pengucilan
Penyakit mematikan ini tidak hanya menyerang fisik Rizki, tetapi juga menghantam kondisi psikisnya. Ia mengakui sempat mengalami mental down atau depresi saat menyadari bahwa ia harus kehilangan organ penglihatannya. Kondisi semakin sulit ketika ia merasa dijauhi oleh lingkungan pertemanannya sejak ia jatuh sakit.
Namun, di balik kepedihan tersebut, dukungan keluarga menjadi pilar utama yang membuatnya tetap tegak berdiri. Rizki memilih untuk bersabar dan mengikuti setiap alur pengobatan dengan harapan bisa kembali pulih dan bekerja seperti sedia kala. Kisahnya kini menjadi pengingat bagi banyak orang akan pentingnya menjaga kesehatan mata dan tidak mengabaikan gejala sekecil apa pun yang muncul pada tubuh.