Waspada! Pemuda Tuban Ini Jalani 700 Kali Cuci Darah di Usia 20-an, Ternyata Ini Pemicunya
Senin, 11 Mei 2026 06:34 WIB
Kabarmalam.com — Penyesalan memang seringkali datang terlambat, namun kisah yang dibagikan oleh Edi Utomo (26) menjadi pengingat keras bagi masyarakat, terutama generasi muda, tentang betapa mahalnya harga sebuah kesehatan. Pemuda asal Tuban ini mendadak viral di media sosial setelah mengungkap perjuangannya melawan gagal ginjal kronis stadium 5 yang memaksanya menjalani rutinitas cuci darah sejak usia awal 20-an.
Terhitung sejak didiagnosis pada tahun 2019, Edi diperkirakan telah melewati hampir 700 kali prosedur hemodialisis atau cuci darah. Melalui akun Instagram pribadinya, ia aktif membagikan edukasi agar orang lain tidak terjerumus dalam pola hidup yang sama. “Tujuan saya membuat konten adalah untuk berbagi pengalaman, supaya tidak ada lagi yang harus merasakan gagal ginjal seperti saya,” tutur Edi penuh harap.
Pemicu Utama: Obsesi pada Mi Instan dan Hipertensi
Banyak yang bertanya-tanya, bagaimana seorang pemuda di usia produktif bisa terkena penyakit yang biasanya identik dengan usia lanjut? Edi mengungkapkan bahwa pemicu utama kerusakannya ginjalnya adalah hipertensi atau tekanan darah tinggi yang dipicu oleh pola makan yang buruk. Sejak kecil, ia mengaku memiliki kebiasaan mengonsumsi mi instan hampir setiap hari, bahkan seringkali lebih dari dua bungkus sekaligus.
“Saya bukan perokok dan tidak suka minum kopi. Jadi, hipertensi yang saya alami itu murni karena terlalu sering makan mi instan,” akunya. Edi menjelaskan bahwa kandungan natrium yang sangat tinggi pada bumbu makanan olahan tersebut membuat tensinya melonjak drastis secara terus-menerus. Ia kini gencar mengingatkan pengikutnya untuk lebih mengutamakan konsumsi real food daripada makanan instan yang sarat bahan kimia.
Gejala yang Sering Terabaikan dan Dikira Masuk Angin
Sebelum divonis menderita penyakit mematikan tersebut, Edi sebenarnya sudah merasakan beberapa sinyal dari tubuhnya. Namun, layaknya kebanyakan orang, ia menganggap remeh gejala tersebut. Awalnya, ia sering merasa meriang setiap kali terkena hembusan kipas angin. Lambat laun, staminanya merosot tajam hingga ia merasa kelelahan yang luar biasa tanpa sebab yang jelas.
Kondisi semakin memburuk ketika muncul rasa mual dan keinginan untuk muntah yang terus-menerus. “Awalnya saya kira hanya masuk angin biasa. Saya minum obat warung, tapi tidak kunjung sembuh,” ceritanya. Bahkan, saat memeriksakan diri ke dokter, ia sempat diduga mengalami gangguan lambung. Baru setelah kondisinya benar-benar drop dan dilarikan ke rumah sakit, terungkap fakta mengejutkan bahwa tekanan darahnya menyentuh angka 200 dan ginjalnya sudah berada di stadium akhir.
Menjalani Hidup dengan Kedisiplinan Tinggi
Kini, hidup Edi bergantung pada mesin cuci darah yang harus ia sambangi dua kali dalam seminggu. Meski kondisinya jauh lebih stabil dibandingkan saat awal didiagnosis, ia harus berdamai dengan rasa lelah yang sering datang tiba-tiba. Selain itu, ia juga memiliki keterbatasan fisik; lengan yang dipasangi Cimino (akses pembuluh darah untuk cuci darah) tidak boleh digunakan untuk mengangkat beban berat.
Pola makannya pun kini berubah total. Edi harus menjalani diet ketat dengan menghindari makanan tinggi kalium, natrium, fosfor, dan kolesterol. Beberapa pantangan ekstrem harus ia jalani, seperti menghindari buah belimbing, daging, susu, hingga produk olahan kacang-kacangan. Melalui kedisiplinan ini, Edi berharap bisa terus bertahan dan menginspirasi banyak orang untuk mulai peduli pada kesehatan ginjal sedini mungkin.