Ikuti Kami
kabarmalam.com

Misteri Berat Badan: Kenapa Makan Sedikit Tapi Cepat Gemuk? Ini Penjelasan Medisnya

Wahid | kabarmalam.com
Minggu, 10 Mei 2026 05:35 WIB
Misteri Berat Badan: Kenapa Makan Sedikit Tapi Cepat Gemuk? Ini Penjelasan Medisnya

Kabarmalam.com — Pernahkah Anda merasa sudah sangat membatasi asupan makanan, namun jarum timbangan justru terus bergerak ke kanan? Fenomena ini sering kali menjadi momok yang menjengkelkan sekaligus membingungkan bagi banyak orang yang tengah berupaya menjaga berat badan ideal. Ternyata, kondisi ini bukan sekadar perasaan belaka, melainkan ada penjelasan medis yang cukup kompleks di baliknya.

Secara ilmiah, kecenderungan tubuh untuk mudah gemuk meski porsi makan sudah dikurangi sangat dipengaruhi oleh mekanisme internal tubuh, mulai dari hormon hingga sistem metabolisme. Pakar spesialis gizi klinik, dr. Iflan Nauval, M.ScIH, SpGK, menjelaskan bahwa faktor utama yang menentukan kondisi ini adalah Basal Metabolic Rate (BMR).

Mengenal BMR: Mesin Pembakar Kalori Tubuh

BMR merupakan jumlah kalori minimum yang dibutuhkan oleh tubuh untuk menjalankan fungsi-fungsi dasar saat kita sedang beristirahat total, seperti bernapas dan mengalirkan darah. dr. Iflan mengungkapkan bahwa bagi individu yang merasa gampang gemuk padahal jarang makan besar, kemungkinan besar mesin metabolisme atau BMR dalam tubuhnya sedang melambat.

Baca Juga  Sekte Makan Tempe Mentah Tengah Viral, Benarkah Lebih Sehat? Ini Fakta Medis di Baliknya

“Kalau ada pribadi yang makan sedikit tapi gampang gemuk, berarti ada masalah pada BMR-nya atau basal metabolic rate-nya sudah melambat,” jelas dr. Iflan saat ditemui dalam sebuah kesempatan di kawasan Tangerang. Ia menambahkan bahwa kondisi ini sering kali diperparah oleh jaringan otot yang mulai ‘malas’ bekerja untuk membakar kalori.

Pentingnya Massa Otot untuk Metabolisme

Lantas, bagaimana cara mengatasinya? dr. Iflan menekankan bahwa kunci utamanya bukanlah sekadar mengurangi makan secara ekstrem, melainkan meningkatkan massa otot. Otot memegang peranan krusial sebagai salah satu organ metabolisme terbesar dalam tubuh manusia selain hati (liver).

“Otot itu harus dibangkitkan, karena organ metabolisme terbesar selain liver adalah otot-ototnya,” tegasnya. Dengan massa otot yang lebih padat, tubuh akan lebih aktif membakar energi bahkan saat kita tidak sedang beraktivitas berat. Inilah yang menjelaskan mengapa olahraga angkat beban sering kali lebih efektif dalam jangka panjang untuk menjaga berat badan dibandingkan hanya melakukan diet ketat tanpa aktivitas fisik.

Baca Juga  Inspirasi atau Obsesi? Kisah Wanita China yang Pangkas 21 Kg Berat Badan Demi Mirip Aktris Yang Mi

Faktor Genetik: Keberuntungan dalam Metabolisme

Di sisi lain, kita sering melihat orang yang tampak bebas menyantap apa pun dalam porsi besar namun tubuhnya tetap ramping. Menurut dr. Iflan, kelompok ini bisa dikatakan memiliki ‘keberuntungan’ secara genetik. Tubuh mereka memiliki settingan BMR yang secara alami sudah tinggi.

“Itu memang ada faktor genetik, di mana basal metaboliknya meningkat tinggi. Mereka beruntung dengan genetik yang mendukung metabolisme cepat,” pungkasnya. Kendati demikian, bagi kita yang tidak memiliki faktor genetik tersebut, memperbaiki pola hidup sehat dengan fokus pada kesehatan otot tetap menjadi solusi medis terbaik untuk mengontrol berat badan secara permanen.

Memahami bahwa tubuh setiap orang bekerja dengan cara yang unik dapat membantu kita berhenti membandingkan diri dengan orang lain dan mulai fokus pada strategi yang tepat bagi metabolisme pribadi kita sendiri.

Baca Juga  Sering Salah Ukuran? Ini Alasan Medis Mengapa Anda Wajib Berburu Sepatu di Sore Hari
Tentang Penulis
Wahid
Wahid