Waspada Bahaya Laten di Lapangan Padel: Mengapa Tubuh Bugar Bisa Kolaps Mendadak?
Minggu, 10 Mei 2026 06:34 WIB
Kabarmalam.com — Olahraga padel kini tengah menjadi primadona baru di kalangan masyarakat perkotaan. Perpaduan unik antara tenis dan squash ini digemari karena ritmenya yang dianggap lebih santai dan menyenangkan dibandingkan aktivitas fisik berat lainnya. Namun, di balik tren yang tengah naik daun ini, tersimpan risiko kesehatan fatal yang bisa menyerang siapa saja tanpa pandang bulu, termasuk mereka yang terlihat bugar secara fisik.
Ancaman Tak Terlihat di Balik Kebugaran Fisik
Secara medis, peristiwa kolaps saat menjalani olahraga padel tidak terjadi begitu saja. Berbagai faktor mulai dari dehidrasi akut hingga gangguan fungsi jantung yang tidak terdeteksi sering kali menjadi pemicu utamanya. Masalahnya, banyak pemain yang merasa tubuhnya sehat tanpa benar-benar memahami kondisi internal kesehatan mereka sendiri.
Dr. dr. Sunanto, SpJP(K), seorang spesialis jantung dan pembuluh darah dari Siloam Hospitals Lippo Village, mengungkapkan bahwa dalam banyak kasus, insiden kolaps di lapangan berawal dari tumpukan plak di pembuluh darah jantung yang tidak disadari oleh pasien. Kondisi ini sering kali menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja saat tubuh dipacu beraktivitas.
Mekanisme Plak Jantung: ‘Bom Waktu’ di Pembuluh Darah
Menurut dr. Sunanto, keberadaan plak ini secara bertahap akan membuat pembuluh darah menyempit. Bahaya yang lebih besar muncul ketika plak tersebut tiba-tiba pecah. “Proses terjadinya serangan jantung itu dipicu oleh pecahnya plak, yang kemudian merangsang terbentuknya bekuan darah secara mendadak. Akibatnya, aliran darah dalam pembuluh tersebut berhenti total,” jelasnya saat berbincang dengan tim redaksi.
Dampak dari penyumbatan total ini bergantung pada lokasi di mana aliran darah terhenti. Jika terjadi di area jantung, maka pasien akan mengalami serangan jantung. Namun, jika penyumbatan tersebut terjadi di area otak, kondisinya akan berubah menjadi stroke yang juga bersifat fatal.
Mengenali Sinyal Bahaya Sebelum Terlambat
Meski serangan jantung akibat pecahnya plak terkesan datang secara tiba-tiba, dr. Sunanto menekankan bahwa sebenarnya tubuh sering memberikan sinyal peringatan dini. Beberapa gejala yang patut diwaspadai antara lain:
- Rasa sesak atau berat di dada saat melakukan aktivitas fisik ringan, seperti menaiki tangga.
- Napas yang terasa pendek atau seolah-olah tubuh kekurangan asupan oksigen.
- Keringat dingin dan kelelahan yang tidak wajar setelah berolahraga.
Namun, yang perlu menjadi perhatian ekstra adalah fakta bahwa sekitar 30 persen pasien justru tidak menunjukkan gejala sama sekali meski telah terjadi penyempitan pembuluh darah. “Inilah kondisi yang paling berat. Orang merasa masih kuat main padel atau bulutangkis, lalu tiba-tiba ambruk karena serangan mendadak tanpa ada peringatan sebelumnya,” tambah dr. Sunanto.
Langkah Preventif: Skrining adalah Kunci
Untuk menghindari risiko kolaps saat mengejar gaya hidup sehat, melakukan skrining kesehatan jantung secara berkala sangatlah krusial. Dr. Sunanto menyarankan beberapa langkah pemeriksaan medis yang komprehensif, mulai dari elektrokardiogram (EKG), tes darah untuk memantau kadar kolesterol dan protein C-reaktif (CRP), hingga ekokardiogram (USG jantung).
Bagi mereka dengan faktor risiko yang lebih tinggi, pemeriksaan lanjutan seperti treadmill test, CT Scan Cardiac (CT Angiografi), hingga MRI jantung bisa menjadi pilihan. Sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter ahli guna menentukan metode skrining yang paling tepat berdasarkan usia, riwayat keluarga, dan profil risiko kesehatan pribadi Anda. Jangan biarkan hobi olahraga yang seharusnya menyehatkan justru berubah menjadi ancaman bagi nyawa.