Waspada Siomai Ikan Sapu-Sapu: Ancaman Logam Berat dan Bakteri di Balik Gurihnya Jajanan
Jumat, 01 Mei 2026 12:35 WIB
Kabarmalam.com — Isu mengenai penggunaan ikan sapu-sapu sebagai bahan baku makanan kembali mencuat ke permukaan dan memicu keresahan publik. Belum lama ini, lima orang pria diamankan pihak berwenang saat kedapatan memanen ikan sapu-sapu di bantaran anak Kali Ciliwung, kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat. Mirisnya, daging ikan yang habitatnya di perairan kotor tersebut diduga kuat akan diolah menjadi bahan baku siomai.
Meski secara teknis daging ikan sapu-sapu bisa dikonsumsi, namun faktor habitat menjadi penentu utama apakah ikan tersebut layak makan atau justru menjadi racun bagi tubuh. Sebagai penghuni dasar perairan yang mengonsumsi lumpur dan sedimen, ikan ini sangat rentan terpapar limbah perkotaan yang pekat.
1. Bom Waktu Bakteri dan Parasit
Ikan sapu-sapu dikenal sebagai pembersih alami karena pola makannya yang menyisir dasar sungai. Sayangnya, di sungai-sungai besar seperti Ciliwung, dasar perairan adalah tempat mengendapnya kotoran, sampah, hingga mikroorganisme berbahaya. Hasil uji laboratorium terbaru menunjukkan bahwa sampel ikan sapu-sapu dari lingkungan tercemar mengandung bakteri E. coli hingga 100 kali lipat di atas batas Standar Nasional Indonesia (SNI).
Keberadaan bakteri ini merupakan indikator kuat adanya kontaminasi tinja atau sanitasi lingkungan yang sangat buruk. Jika nekat dikonsumsi, dampaknya bisa langsung dirasakan berupa kram perut hebat, mual, muntah, hingga diare akut. Bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia, infeksi ini bisa memicu dehidrasi serius yang mengancam nyawa.
2. Akumulasi Logam Berat yang Mematikan
Bukan sekadar kuman, ancaman yang lebih laten adalah kandungan logam berat yang mengendap dalam daging ikan. Merujuk pada studi dalam Jurnal Al Azhar Indonesia Seri Sains dan Teknologi, ikan sapu-sapu yang diambil dari aliran sungai Jakarta terbukti mengandung arsenik, kadmium, merkuri, hingga timbal.
Zat-zat berbahaya ini berasal dari limbah industri dan emisi kendaraan yang meresap ke dalam air. Logam berat bersifat bioakumulatif, artinya tidak langsung membuat sakit dalam satu kali makan, namun akan menumpuk di dalam tubuh seiring waktu. Dalam jangka panjang, paparan timbal dapat merusak sistem saraf, sementara kadmium secara perlahan menghancurkan fungsi ginjal pengonsumsinya.
3. Risiko Kontaminasi pada Proses Pengolahan
Memproses ikan sapu-sapu dari sungai tercemar membutuhkan ketelitian tingkat tinggi yang mustahil didapatkan pada produksi makanan massal yang tidak resmi. Lendir, isi perut, dan kulit ikan sapu-sapu adalah bagian yang paling banyak menyimpan polutan. Jika proses pembersihannya tidak sempurna, kuman akan menyebar ke seluruh adonan saat ikan digiling menjadi bahan makanan olahan seperti siomai atau bakso.
Risiko ini semakin berlipat jika proses pemanasan atau pengukusan tidak merata. Bakteri yang masih bertahan hidup dalam adonan siomai dapat memicu keracunan makanan masal bagi siapa saja yang membelinya di pinggir jalan.
4. Gangguan Pencernaan Kronis
Sistem imun manusia akan bereaksi keras terhadap asupan pangan yang berkualitas buruk. Gejala seperti perut mulas dan kembung seringkali dianggap remeh sebagai gangguan pencernaan biasa. Padahal, jika seseorang terus-menerus mengonsumsi makanan yang terkontaminasi limbah sungai, hal ini dapat menyebabkan gangguan pencernaan kronis yang menurunkan stamina tubuh secara drastis.
Kejadian di Pasar Baru ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih selektif dalam memilih jajanan. Pastikan sumber bahan baku makanan yang kita konsumsi berasal dari lingkungan yang bersih dan terjaga kualitasnya demi kesehatan keluarga di masa depan.