Ikuti Kami
kabarmalam.com

Waspada Oknum Nakal! Inilah Cara Membedakan Siomay Ikan Sapu-sapu dan Tenggiri Menurut Ahli Gizi

Wahid | kabarmalam.com
Selasa, 05 Mei 2026 17:34 WIB
Waspada Oknum Nakal! Inilah Cara Membedakan Siomay Ikan Sapu-sapu dan Tenggiri Menurut Ahli Gizi

Kabarmalam.com — Siapa yang bisa menolak godaan sepiring siomay hangat dengan siraman bumbu kacang yang kental? Kuliner ini telah lama menjadi primadona di berbagai kalangan, mulai dari jajanan pinggir jalan hingga menu restoran. Namun, di balik kelezatannya, terselip kekhawatiran mengenai kejujuran bahan baku yang digunakan. Bukan rahasia lagi jika beberapa oknum pedagang nekat mengganti bahan utama ikan tenggiri yang berkualitas dengan ikan sapu-sapu demi menekan biaya produksi.

Aroma yang Mengganggu: Amis atau Busuk?

Menanggapi keresahan masyarakat, nutrisionis Rita Ramayulis mengungkapkan bahwa sebenarnya tidak sulit untuk mengenali perbedaan kedua jenis bahan ini. Cara termudah adalah melalui indra penciuman. Ikan sapu-sapu yang biasanya hidup di lingkungan sungai yang tercemar akan membawa aroma yang sangat spesifik dan tajam.

Baca Juga  Menguak Kebenaran di Balik Radiasi Ponsel dan Risiko Kanker: Apa Kata Sains?

“Amisnya itu bukan amis ikan segar, melainkan cenderung ke arah busuk yang menyengat,” jelas Rita. Menurutnya, meskipun siomay ikan tersebut sudah diolah dengan berbagai bumbu dan rempah-rempah, bau tajam tersebut tetap akan sulit disamarkan dan tetap terasa menusuk saat masuk ke dalam mulut.

Tekstur yang Berbeda: Kenyal vs Alot

Perbedaan mencolok lainnya terletak pada tekstur saat digigit. Siomay yang terbuat dari tenggiri asli umumnya memiliki tekstur yang kenyal namun tetap lembut dan sedikit renyah karena kandungan lemak dan air yang seimbang. Sebaliknya, siomay dari ikan sapu-sapu justru terasa sangat keras atau alot.

Hal ini disebabkan oleh karakteristik daging ikan sapu-sapu yang rendah kandungan air dan lemak, namun sangat dominan pada protein yang mencapai 20 persen. “Jadi kalau kita gigit, sensasi teksturnya itu sangat berbeda, tidak ada renyah-renyahnya sama sekali,” tambah Rita. Bagi mereka yang memiliki lidah sensitif, bahkan akan muncul sensasi aneh seperti mengecap rasa besi atau logam di lidah.

Baca Juga  Tahu vs Tempe: Mana Jawara Nutrisi di Meja Makan Anda? Simak Komparasi Lengkapnya!

Bahaya Tersembunyi bagi Kesehatan

Mengonsumsi makanan yang terkontaminasi secara terus-menerus bukan sekadar masalah rasa, melainkan ancaman serius bagi tubuh. Ikan yang hidup di lingkungan kotor berisiko tinggi mengandung logam berat seperti merkuri. Meskipun tubuh manusia memiliki mekanisme pertahanan alami melalui organ hati dan enzim cytochrome P450 (CYP) untuk menetralisir racun, organ ini tetap memiliki batas kemampuan.

“Hati bisa mengubah molekul toksik menjadi lebih kecil agar bisa larut air dan dibuang, tapi pertanyaannya seberapa banyak ia mampu melakukannya?” tutur Rita. Jika paparan zat beracun tersebut sudah melewati ambang batas, maka risiko kerusakan hati hingga gagal ginjal menjadi ancaman nyata yang harus diwaspadai oleh para pecinta kuliner sehat.

Baca Juga  Heboh Isu Anggaran Kaus Kaki SPPI Tembus Rp6,9 Miliar, Begini Jawaban Tegas Kepala Badan Gizi Nasional
Tentang Penulis
Wahid
Wahid