Ikuti Kami
kabarmalam.com

Buntut Tragedi dr. Myta di Jambi, Kemenkes Resmi Tunda Program Internship Dokter Nasional: Evaluasi Beban Kerja Jadi Prioritas

Wahid | kabarmalam.com
Sabtu, 09 Mei 2026 08:34 WIB
Buntut Tragedi dr. Myta di Jambi, Kemenkes Resmi Tunda Program Internship Dokter Nasional: Evaluasi Beban Kerja Jadi Pri

Kabarmalam.com — Tragedi memilukan yang merenggut nyawa dr. Myta Aprilia Azmi di Jambi telah memicu gelombang besar dalam kebijakan kesehatan nasional. Sebagai respons tegas, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memutuskan untuk membekukan sementara pembukaan wahana program internship bagi dokter dan dokter gigi di seluruh penjuru Indonesia. Langkah ekstrem ini diambil guna melakukan evaluasi total terhadap sistem kerja para tenaga medis muda di lapangan.

Keputusan ini tidak hanya menyasar RSUD Kuala Tungkal di Jambi tempat dr. Myta bertugas, tetapi juga berdampak pada penundaan keberangkatan peserta dokter internship gelombang atau batch Mei 2026 di tingkat nasional. Hasil investigasi mendalam mengungkap fakta miris mengenai beban kerja yang tidak manusiawi yang harus ditanggung oleh almarhumah sebelum mengembuskan napas terakhir.

Baca Juga  Waspada! Tren Diabetes Usia Muda Picu Lonjakan Kasus Gagal Ginjal di Indonesia

Kronologi Kelelahan Hebat di Garda Terdepan

Berdasarkan data yang dihimpun oleh tim redaksi, dr. Myta dilaporkan telah mengalami gejala sakit seperti demam, batuk, dan pilek sejak 26 Maret 2026. Alih-alih mendapatkan waktu untuk pemulihan, ia justru tetap diwajibkan menjalani jadwal jaga di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Dengan dedikasi yang tinggi namun kondisi fisik yang kian rapuh, ia terus bertugas selama tujuh hari berturut-turut tanpa jeda libur.

Puncaknya terjadi pada pertengahan April, ketika kondisi kesehatannya merosot tajam hingga harus mendapatkan bantuan infus di tengah tugasnya. Pada sore hari tanggal 15 April, rekan sejawatnya menemukan dr. Myta dalam kondisi linglung di area kosnya. Meski sempat mengaku ingin tetap berangkat jaga, ia akhirnya dilarikan ke RSUD KH Daud Arif untuk mendapatkan perawatan intensif, namun takdir berkata lain.

Baca Juga  Tragedi Siswa SMK di Samarinda: Benarkah Sepatu Kekecilan Bisa Berujung Fatal? Simak Penjelasan Medis Ini

Sistem Internship yang Perlu Dibenahi

Kematian dr. Myta menambah daftar panjang duka di dunia medis tahun ini, menjadikannya kasus keempat kematian peserta program internship sepanjang 2026. Direktur Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan, Yuli Farianti, mengakui bahwa pihaknya menerima banyak aduan terkait ketidaksesuaian pelaksanaan program di berbagai daerah.

Beberapa poin krusial yang menjadi sorotan antara lain:

  • Beban kerja berlebih yang seharusnya menjadi tanggung jawab dokter tetap atau organik.
  • Minimnya pendampingan dari dokter konsulen atau dokter pendamping selama bertugas.
  • Adanya laporan perlakuan semena-mena terhadap peserta internship di lingkungan kerja.

Komitmen Kemenkes untuk Perbaikan Menyeluruh

Dr. Yulia menegaskan bahwa penundaan pembukaan wahana secara nasional ini bertujuan untuk memastikan setiap fasilitas kesehatan benar-benar layak dan aman bagi para dokter muda. “Kami menunda keberangkatan batch Mei sampai kami bisa menjamin bahwa wahana tersebut memadai bagi seluruh peserta, baik yang sedang bertugas maupun yang akan diberangkatkan,” tegasnya saat dikonfirmasi.

Baca Juga  Analisis Tajam Kesehatan Mental Donald Trump: Antara Narsisme Ganas dan Bayang-Bayang Demensia

Ke depannya, Kementerian Kesehatan akan memperketat analisis hasil pemeriksaan kesehatan (medical check-up) peserta. Selain itu, pemerintah juga tengah menyiapkan kanal pengaduan resmi melalui website yang menjamin kerahasiaan identitas pelapor. Langkah ini diharapkan memudahkan Inspektorat Jenderal dalam menindaklanjuti setiap pelanggaran yang terjadi di wahana internship, agar tragedi serupa tidak kembali terulang di masa depan.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid