Waspada! Tren Diabetes Usia Muda Picu Lonjakan Kasus Gagal Ginjal di Indonesia
Jumat, 17 Apr 2026 18:36 WIB
Kabarmalam.com — Ancaman kesehatan serius kini tengah membayangi kelompok usia produktif di Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI baru-baru ini merilis data yang menunjukkan pergeseran tren penyakit kronis, di mana diabetes melitus kini tak lagi didominasi oleh kelompok lansia, melainkan mulai merambah ke usia yang jauh lebih muda.
Kondisi ini bukan sekadar statistik di atas kertas, melainkan sebuah alarm bahaya bagi kualitas sumber daya manusia nasional. Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, mengungkapkan temuan yang cukup mengejutkan dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Ia menyebutkan bahwa banyak individu di usia 35 tahun yang sudah terdiagnosa menderita diabetes. Bahkan, tren ini ditarik mundur ke usia yang lebih dini, yakni sekitar 28 hingga 29 tahun, di mana kondisi pra-diabetes hingga diabetes sudah mulai ditemukan.
Lonjakan Kasus dan Beban Pembiayaan Nasional
Meskipun korelasi antara onset dini diabetes dan kerusakan ginjal masih dalam tahap observasi mendalam, statistik menunjukkan sebuah garis linear yang mengkhawatirkan. Saat angka kasus diabetes meningkat drastis hingga 40 persen, jumlah penderita gagal ginjal pun mengikuti dengan ritme yang hampir sama. Hal ini menciptakan efek domino yang tidak hanya merugikan kualitas hidup individu, tetapi juga mengguncang stabilitas finansial jaminan kesehatan nasional.
Berdasarkan laporan dari BPJS Kesehatan untuk periode 2019 hingga 2025, penyakit ginjal tercatat sebagai penyumbang biaya katastropik paling signifikan. Angka kenaikannya pun sangat fantastis, yakni mencapai 478 persen. Angka ini jauh melampaui beban biaya penyakit berat lainnya seperti stroke dan jantung yang berada di kisaran 38 hingga 40 persen. Menurut dr. Nadia, beban berat pada ginjal ini diduga kuat berakar dari kadar gula darah yang tinggi secara terus-menerus tanpa penanganan yang tepat.
Ketidakpatuhan dan Faktor Risiko Genetik
Lantas, mengapa komplikasi ini terjadi begitu cepat pada generasi muda? Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, Prof. Dr. dr. Em Yunir, SpPD-KEMD, menyoroti rendahnya tingkat kedisiplinan pasien dalam mengelola kondisi mereka. Fakta pahit menunjukkan bahwa kurang dari 10 persen pasien diabetes yang benar-benar rutin mengontrol kesehatannya dengan baik.
“Sekitar 90 persen pasien diabetes tidak mengonsumsi obat secara teratur. Dampaknya, kadar gula darah menjadi tidak terkendali dan memicu kerusakan pembuluh darah, termasuk pada organ vital seperti ginjal, dengan tempo yang lebih agresif,” papar Prof. Yunir secara mendalam.
Ia juga menambahkan bahwa fenomena pasien cuci darah atau hemodialisis kini mengalami pergeseran demografis yang drastis. Jika dahulu bangsal perawatan didominasi oleh kelompok usia 60 hingga 70 tahun, kini mulai jamak ditemukan pasien di rentang usia 30 hingga 40 tahun, bahkan ada yang masih di bawah 30 tahun.
Selain faktor gaya hidup yang kurang sehat, elemen genetik atau riwayat keluarga juga memegang peranan krusial dalam memperparah situasi. Seseorang yang memiliki orang tua penderita diabetes memiliki risiko jauh lebih tinggi untuk mengidap penyakit yang sama di usia yang lebih awal. Oleh karena itu, deteksi dini dan pemahaman terhadap gejala diabetes sejak dini menjadi harga mati bagi generasi muda agar terhindar dari risiko gagal ginjal permanen di masa depan.