Ikuti Kami
kabarmalam.com

Waspada Bahaya di Balik Lezatnya Siomay: Mengapa Ikan Sapu-sapu Begitu Mengancam Tubuh?

Wahid | kabarmalam.com
Selasa, 05 Mei 2026 15:34 WIB
Waspada Bahaya di Balik Lezatnya Siomay: Mengapa Ikan Sapu-sapu Begitu Mengancam Tubuh?

Kabarmalam.com — Di balik gurihnya jajanan kaki lima seperti siomay, tersimpan kekhawatiran yang tak kunjung usai mengenai penggunaan bahan baku ikan sapu-sapu. Meskipun ikan ini populer sebagai pembersih akuarium, di habitat liar mereka justru kerap menjadi penyerap limbah berbahaya. Kandungan logam berat seperti timbal dan merkuri membuat ikan ini masuk dalam daftar hitam konsumsi bagi masyarakat Indonesia.

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi pada sistem internal tubuh kita jika tanpa sengaja mengonsumsi olahan dari ikan ini? Menjawab keresahan tersebut, nutrisionis kenamaan Rita Ramayulis membedah mekanisme pertahanan tubuh manusia saat menghadapi serangan zat beracun.

Mesin Detoksifikasi Alami yang Memiliki Batas

Rita menjelaskan bahwa secara biologis, tubuh kita sebenarnya telah dibekali dengan sistem pertahanan yang canggih untuk menetralisir racun, terutama melalui organ hati. Hati memproduksi enzim khusus yang dikenal sebagai cytochrome P450 untuk memproses zat asing.

Baca Juga  Mengapa Penyakit Ginjal Sering Terdeteksi Saat Kondisi Kritis? Ini Penjelasan Ahli Nefrologi

“Enzim ini memiliki kemampuan mengubah molekul toksik yang besar menjadi lebih kecil, dan mengubah yang tadinya tidak larut air menjadi larut air agar bisa dibuang,” jelas Rita. Namun, ia memberikan catatan kritis bahwa kemampuan sistem pertahanan ini ada batasnya. Jika volume racun dari makanan berbahaya yang masuk melebihi kapasitas kerja enzim, maka kerusakan organ menjadi konsekuensi yang tak terelakkan.

Risiko Gagal Ginjal dan Ancaman Kanker

Setelah zat berbahaya diproses di hati, tahap selanjutnya adalah filtrasi melalui ginjal. Di sinilah letak risiko fatalnya. Jika kadar logam berat yang masuk terlalu tinggi, ginjal akan dipaksa bekerja di luar kemampuannya hingga mengalami kerusakan permanen atau gagal ginjal.

Baca Juga  Kursi Besi Minimarket: Ruang 'Healing' Sederhana di Balik Riuhnya Hiruk-Pikuk Kota

Tak berhenti di situ, ancaman jangka panjang dari mengonsumsi ikan yang tercemar adalah paparan zat karsinogenik. Zat ini memicu penumpukan sel-sel tua yang gagal luruh, yang kemudian berpotensi menjadi cikal bakal kanker dalam tubuh.

“Peningkatan kasus sirosis hepatis dan kegagalan fungsi organ di masa kini seringkali berkorelasi erat dengan akumulasi zat toksik dari lingkungan yang masuk ke meja makan kita,” tambah Rita. Oleh karena itu, sangat penting bagi konsumen untuk memahami kualitas makanan yang mereka konsumsi demi menjaga investasi kesehatan jangka panjang.

Melalui edukasi ini, masyarakat diharapkan lebih selektif dan tidak tergiur harga murah tanpa mengetahui asal-usul bahan baku pangan yang mereka santap. Kesehatan organ dalam, mulai dari hati hingga ginjal, adalah kunci utama kualitas hidup yang lebih baik.

Baca Juga  Ikan Sapu-sapu: Jadi Hama di Jakarta, Disulap Menjadi Berkah Pangan di Sidrap
Tentang Penulis
Wahid
Wahid