Mengapa Penyakit Ginjal Sering Terdeteksi Saat Kondisi Kritis? Ini Penjelasan Ahli Nefrologi
Senin, 20 Apr 2026 13:34 WIB
Kabarmalam.com — Penyakit ginjal kronis atau Chronic Kidney Disease (CKD) sering kali bersembunyi di balik bayang-bayang kesehatan kita, hingga akhirnya muncul sebagai ancaman mematikan yang dikenal sebagai ‘silent killer’. Sifatnya yang asimtomatik pada stadium awal membuat banyak penderita tidak menyadari bahwa organ vital mereka sedang perlahan rusak. Baru ketika fungsi ginjal sudah merosot tajam, barulah keluhan fisik mulai bermunculan, namun sering kali itu sudah terlambat.
Dr. Rosnawati Yahya, seorang Konsultan Ahli Nefrologi dan Dokter Transplantasi Ginjal di Sunway Medical Centre, Malaysia, menyoroti fenomena ini dengan serius. Menurutnya, kegagalan mendeteksi gejala penyakit ginjal sejak dini adalah masalah krusial. “Tiga stadium awal CKD biasanya berlangsung tanpa gejala sama sekali. Jika Anda baru bertindak saat gejala muncul, artinya kondisi Anda sudah berada di tahap lanjut,” ungkap Dr. Rosnawati.
Dominasi Diabetes dan Hipertensi sebagai Pemicu Utama
Berdasarkan data medis, musuh utama kesehatan ginjal masih didominasi oleh masalah metabolik. Dr. Rosnawati menjelaskan bahwa diabetes dan tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kontributor terbesar. Merujuk pada data Registrasi Dialisis dan Transplantasi Malaysia tahun 2023, diabetes bertanggung jawab atas 56 persen kasus gagal ginjal, disusul oleh hipertensi sebesar 30 persen.
Kondisi ini diperparah dengan gejala awal yang sering kali dianggap remeh karena sangat mirip dengan kelelahan biasa atau gangguan kesehatan ringan lainnya. Beberapa tanda yang seharusnya diwaspadai meliputi:
- Rasa lelah yang berkepanjangan dan tubuh terasa sangat lemas.
- Peningkatan frekuensi buang air kecil, terutama pada malam hari.
- Munculnya pembengkakan (edema) pada area kaki, pergelangan kaki, hingga wajah.
Risiko Tersembunyi pada Wanita
Menariknya, Dr. Rosnawati memberikan perhatian khusus pada pasien wanita. Sering kali, wanita mengaitkan rasa lelah atau perubahan fisik mereka dengan stres, penuaan, atau fluktuasi hormon, padahal itu bisa jadi tanda awal gagal ginjal. Selain itu, ada tantangan dalam pembacaan hasil laboratorium.
“Kadar kreatinin yang dianggap ‘normal’ dalam tes darah bisa menipu pada wanita. Karena secara umum wanita memiliki massa otot yang lebih sedikit dibanding pria, angka kreatinin tertentu mungkin tampak baik, padahal sebenarnya cadangan fungsi ginjalnya sudah menurun,” paparnya. Ia mencontohkan angka 90 yang mungkin sehat bagi pria berotot, namun bisa menjadi sinyal bahaya bagi wanita bertubuh mungil.
Selain itu, faktor autoimun seperti Lupus (SLE) juga memiliki prevalensi lebih tinggi pada wanita dan sering kali menyerang ginjal. Belum lagi risiko dari komplikasi kehamilan seperti preeklampsia atau diabetes gestasional yang dapat meningkatkan risiko ginjal kronis di masa depan hingga empat kali lipat.
Pentingnya Deteksi Dini: Ubah Nasib Sebelum Dialisis
Salah satu faktor risiko yang sering terlupakan adalah Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS). Kondisi ini berkaitan erat dengan resistensi insulin dan sindrom metabolik yang dapat memicu diabetes di usia muda, yang pada akhirnya merusak kesehatan ginjal. Oleh karena itu, bagi mereka yang memiliki riwayat obesitas, hipertensi, atau komplikasi kehamilan, pemeriksaan rutin sangatlah mendesak.
Dr. Rosnawati menyarankan tiga tes sederhana untuk memantau kesehatan ginjal:
- Tes darah untuk mengukur fungsi penyaringan ginjal.
- Tes urine untuk mendeteksi keberadaan protein (salah satu tanda awal kerusakan).
- Pemeriksaan tekanan darah secara berkala.
“Tujuan utama kami adalah pelestarian. Jika kita bisa mendeteksi lebih awal dan menekan penurunan fungsi ginjal dari 10 persen menjadi hanya 2 persen per tahun, banyak pasien yang mungkin tidak perlu sampai menjalani proses dialisis seumur hidup mereka,” pungkasnya. Langkah kecil dalam deteksi dini hari ini bisa menjadi penyelamat nyawa di masa depan.